Konsep PAUD Alam

Pendidikan Anak Usia Dini berwawasan alam dan lingkungan makin diminati akhir akhir ini. Mengingat kerusakan lingkungan dewasa ini, manusia makin dituntut memiliki kecerdasan naturalis. Seseorang yang memiliki kecerdasan naturalis tergolong tinggi akan mampu hidup harmonis dengan alam, tidak merusak dan penuh kasih terhadap sesama makhluk hidup. PAUD berwawasan alam dan lingkungan juga dipercaya mampu mendukung perkembangan kecerdasan anak yang komplit. Bukan cuma intelektual tapi juga emosional dan spiritual.
Karena itu prospek bisnis PAUD berbasis wawasan alam termasuk cerah dan menjanjikan. Untuk mewujudkan PAUD berbasis wawasan alam, Anda harus memiliki ruang terbuka sebagai bagian dari kawasan PAUD. Sebab aktivitas terbesar peserta PAUD akan berada di ruang terbuka.
Kurikulum PAUD berbasis wawawan alam sebetulnya tidak jauh berbeda dengan PAUD pada umumnya. Karena itu, Anda perlu mendiskusikan kurikulum sebagai dasar rencana kegiatan harian, dengan pendidik berlatarbelakang pendidikan PAUD berwawasan alam.
Jangan lupa untuk mendahulukan pengurusan izin pendirian PAUD berbasis alam.
Perhitungkan biaya untuk membeli fasilitas dan alat penunjang pendidikan di alam terbuka. Peserta PAUD akan lebih sering beraktivitas di ruang terbuka sehingga relatif cenderung banyak bergerak. Tentu saja Anda harus memiliki ruang terbuka yang teduh. Kalau perlu, buat rumah pohon dan fasilitas permainan ketangkasan di ruang terbuka. Toh fokus pendidikan pada usia dini masih menitikberatkan pada perkembangan motorik anak.
Kotak pasir juga menjadi salah satu alat pengajaran. Misalnya membuat garis lurus atau membuat gambar bentuk tertentu bisa dilakukan diatas pasir. Ini akan mengasah kampuan motorik halus anak. Peserta PAUD juga bisa menggunakan media biji-bijian untuk berlatih berhitung. Misalnya menggunakan biji jagung kering. Anak-anak usia pra sekolah sudah bisa diminta berhati-hati dengan biji kecil.
Bahkan hujan pun bisa masuk sebagai bagian kegiatan harian, karena mandi hujan bisa meningkatkan kecerdasan naturalis. Ada baiknya menyiapkan area bercocok tanam untuk PAUD berwawasan alam. Ini dapat membiasakan anak memahami kosep menanam dan memanen buah ataupun sayur sejak dini

SEKOLAH ALAM DI PEDESAAN
Dalam kurikulum Taman Kanak Kanak (TK) telah dijelaskan bahwa pembelajaran harus mencakup dua bidang. Yang pertama bidang pengembangan pembiasaan, selanjutnya pengembangan kemampuan dasar. Pengembangan dua bidang itu sesuai dengan fungsi TK yang membentuk sikap dan memberi keterampilan anak didik agar siap memasuki jenjang Sekolah Dasar (SD). Di lapangan, banyak guru TK menyalahtafsirkan istilah “menyiapkan anak didik memasuki SD”. Akibatnya, materi-materi pembelajaran yang dikembangkan lebih menekankan pada kemampuan baca, tulis, dan hitung. Harapannya, ketika anak memasuki SD, mereka mampu membaca dengan lancar, menulis dengan baik, dan mampu mengerjakan konsep matematika sederhana. Semakin banyak anak TK yang memiliki kemampuan mmebaca dan menulis dengan baik, sekolah tersebut dianggap lebih berhasil dalam menyiapkan anak memasuki SD.
Anggapan tersebut harus diluruskan. Sebab, kemampuan yang dikembangkan di TK bukan hanya sebatas baca, tulis, dan hitung. Sesuai teori Bloom, pengembangan itu harus meliputi pengembangan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Lebih gampangnya, potensi yang bisa dikembangkan adalah aspek kognitif, bahasa, fisik/motorik, dan seni.
Saat ini, beberapa TK di perkotaan sudah mulai membenahi program-program kegiatan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Mereka membekali anak didik dengan hal-hal yang bersifat alam. Misalnya berkebun, mengajak anak-anak ke lingkungan persawahan, pantai, kawasan industri, mendaur ulang barang-barang bekas menjadi sesuatu yang bermanfaat, memasak, dan lain-lain. Itu merupakan program inovatif untuk pendidikan TK, meski harus ditunjang dana yang tidak sedikit. Di pedesaan, pembelajaran TK dengan memanfaatkan lingkungan tidak memerlukan biaya yang besar. Alam pedesaan telah menyediakan sarana dan prasarana yang berlimpah untuk menunjang program inovatif tersebut. Berbagai jenis tanaman di sekitar sekolah, areal persawahan, dan tegalan (kebun) merupakan modal besar untuk bisa dimanfaatkan seoptimal mungkin. Dengan menggunakan pendekatan lingkungan, ruangan kelas bukan lagi menjadi satu-satunya pusat kegiatan belajar mengajar.
Aspek Kognitif
Pengembangan aspek ini bertujuan meningkatkan kemampuan berpikir anak. Mereka didorong untuk mampu menemukan bermacam-macam alternatif pemecahan masalah, mengembangkan kemampuan logika matematika, pengetahuan ruang dan waktu. Tak hanya itu, anak juga diarahkan untuk mempunyai kemampuan memilah, mengelompokkan, serta mempersiapkan pengembangan kemampuan berpikir teliti.
Jean Piaget menjelaskan bahwa perkembangan kognitif anak usia TK masuk pada tahap praoperasional. Anak mulai dapat belajar dengan menggunakan pemikirannya, mengenal konsep sederhana di lingkungannya, dan mengingat kembali simbol, serta membayangkan benda yang tidak tampak secara fisik.
Di kebun, anak bisa dikenalkan bagian-bagian tanaman. Mulai dari dari akar, batang, ranting, daun, bunga, dan buah. Lebih jauh lagi, mereka bisa diajari mengenal beberapa jenis tanaman, kemudian mengelompokkan tanaman yang sejenis.
Anak juga bisa diajak mengamati berbagai binatang yang menjadi bagian ekosistem kebun, Misalnya cacing, belalang, jangkerik, dan berbagai hama tanaman. Di samping itu, anak juga bisa dikenalkan proses metamorphose kupu-kupu yang dimulai dari telur-ulat-kepompong, dan akhirnya menjadi kupu-kupu. Rangkaian kegiatan tersebut secara langsung mengarah pada kegiatan sain yang saat ini mulai dikembangkan di TK. Untuk mengerjakan matematika sederhana (penjumlahan maupun pengurangan) bisa menggunakan biji-bijian sebagai alat bantu. Aspek Bahasa
Pengembangan aspek ini bertujuan agar anak mampu mengungkapkan pikiran melalui bahasa yang sederhana secara tepat, mampu berkomunikasi secara efektif, dan membangkitkan minat untuk berbahasa Indonesia. Salah satu metode yang dianggap efektif adalah metode bermain peran. Ada dua cara untuk melaksanakannya. Pertama, bermain peran besar yang memerlukan kostum dan perlengkapan sesuai yang diperankan anak. Kedua, bermain peran kecil yang memerlukan peralatan tiruan (mainan). Misalnya boneka, perlatan dapur mainan, kendaraan mainan, dan lain-lain.
Bahan dan perlengkapan bermain peran sangat mudah didapat di pedesaan. Misalnya untuk bermain peran besar. Anak bisa mengunakan daun sukun atau daun nangka yang dibentuk menjadi topi dan topeng. Membuat pedang, kuda, dan bedil pun bisa dari pelepah pisang.
Begitu banyaknya bahan-bahan di pedesaan, sehingga kegiatan bermain peran bisa dilaksanakan dengan melibatkan anak dalam jumlah besar. Misalnya, bermain peran jual-beli di pasar. Guru dan anak didik bisa secara bersama-sama menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan. Satu hal yang perlu digaris-bawahi, dalam permainan tersebut, guru hanya menjelaskan tentang aturan-aturan permainan. Tidak diperlukan pengarahan secara terus-menerus. Semakin sering guru mengarahkan, anak merasa terkekang dan kurang berani memunculkan kreatifitas dan ekspresinya.
Aspek Fisik
Tujuan pengembangan aspek ini adalah mengenalkan dan melatih gerakan kasar maupun halus, meningkatkan kemampuan mengontrol gerakan dan koordinasi tubuh, serta meningkatkan keterampilan tubuh dan cara hidup sehat. Tersedianya lahan yang luas di sekitar sekolah sangat memudahkan guru TK di pedesaan untuk membuat permainan yang menarik dan menantang. Salah satu kegiatan yang mulai digalakkan adalah out bound. Biaya out bound bagi TK di pedesaan jauh lebih murah dibandingkan TK di perkotaan. Sebab, mereka tidak dibebani biaya transportasi, sewa lahan, atau jasa pelaksana out bound. Lahan-lahan di sekitar
sekolah bisa dimanfaatkan untuk melaksanakan permainan kerjasama (team work) dan permainan halang rintang. Bahan-bahan alam di pedesaan juga sangat memungkinkan bagi guru dalam menyediakan materi untuk mengembangkan kemampuan motorik halus anak. Misalnya melipat, menjahit, menggunting, menempel, mencocok, meremas, menjiplak, dan lain-lain. Semua itu bisa dikerjakan dengan memanfaatkan dedaunan, akar, batang, bunga, dan biji-bijian.
Aspek Seni
Pengembangan aspek ini diarahkan agar anak mampu menciptakan sesuatu berdasarkan hasil imajinasinya, mengembangkan kepekaan, dan dapat menghargai hasil karya yang kredit. Di samping peralatan tulis (kertas, crayon, pensil, dll) bahan-bahan alam di pedesaan juga banyak tersedia untuk mengembangkan kemampuan ini. Misalnya daun pisang dan kelapa untuk menganyam, bunga dan dedaunan untuk membuat pewarna, dedaunan-lidi-ranting kering dan tanah liat untuk mencipta bentuk. Untuk membuat alat perkusi sederhana bisa digunakan bambu, batang padi, pelepah daun papaya, dan lain-lain. Hakikat pembelajaran di TK adalah belajar seraya bermain. Melalui bermain, anak diajak bereksplorasi, menemukan dan manfaatkan objek-objek di dekat mereka, sehingga pembelajaran menjadi bermakna. Tugas guru adalah memanfaatkan alam tersebut untuk menciptakan pembelajaran yang kreatif dan inovatif. Sebutan Taman pada Taman Kanak-Kanak mengandung makna tempat yang nyaman untuk bermain. Berdasarkan makna dimaksud, maka pelaksanaan program kegiatan belajar harus menciptakan suasana nyaman bagi pertumbuhan dan perkembangan anak, sehingga pembelajaran tidak seperti di Sekolah Dasar. Oleh karena itu guru TK harus memperhatikan kematangan atau tahap perkembangan anak didik, kesesuaian alat bermain serta metode yang digunakan. Selain itu, guru juga harus mempertimbangkan waktu, tempat serta teman bermain.
Bermain merupakan cara yang paling baik untuk mengembangkan kemampuan anak didik. Sebelum bersekolah, bermain merupakan cara alamiah untuk menemukan lingkungan, orang lain, dan dirinya sendiri. Pada prinsinya, bermain mengandung rasa senang dan tanpa paksaan serta lebih mementingkan proses dari pada hasil akhir. Perkembangan bermain sebagai cara pembelajaran hendaknya disesuaikan dengan perkembangan umur dan kemampuan anak didik, yaitu berangsur-angsur dikembangkan dari bermain sambil belajar (unsur bermain lebih besar) menjadi belajar sambil bermain (unsur belajar lebih banyak). Dengan demikian, anak didik tidak akan canggung lagi menghadapi cara pembelajaran di tingkat-tingkat berikutnya (Depdikbud, 1999:3).
Pembelajaran dengan bermain, itulah sebetulnya proses belajar-mengajar yang diharapkan di dunia pendidikan TK. Namun demikian, realitas di lapangan, ada kecenderungan proses belajar-mengajar pada anak-anak TK sudah berubah menjadi pembelajaran Sekolah Dasar kelas I (satu). Hal ini berarti, proses belajar-mengajar di TK identik dengan SD kelas satu. Dalam proses perkembangan anak melalui bermain, akan ditemukan istilah sumber belajar (learning resources) dan alat permainan (educational toys and games). Mayke (1966) mengatakan bahwa belajar dengan bermain memberi kesempatan kepada anak untuk memanipulasi,
mengulang-ulang, menemukan sendiri, bereksplorasi, mempraktekkan, dan mendapatkan bermacam-macam konsep serta pengertian yang tidak terhitung banyaknya. Bermain adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan atau tanpa mempergunakan alat yang menghasilkan pengertian atau memberikan informasi, memberi kesenangan maupun mengembang-kan imajinasi pada anak. Pemahaman mengenai konsep bermain sudah barang tentu akan berdampak positif pada cara guru dalam membantu proses belajar anak. Pengamatan ketika anak bermain secara aktif maupun pasif, akan banyak membantu memahami jalan pikiran anak dan akan meningkatkan keterampilan berkomunikasi.
Pada saat bermain guru perlu mengetahui saat yang tepat untuk melakukan atau menghentikan intervensi. Apabila guru tidak memahami secara benar dan tepat, hal itu akan membuat anak frustasi atau tidak kooperatif dan sebaliknya. Melalui bahasa tubuh si anak pun kita sudah dapat mengetahui kapan mereka membutuhkan kita untuk melakukan intervensi.
Sekolah Alam di pedesaan didirikan dengan keinginan untuk mengubah paradigma bahwa sekolah yang berkualitas selalu mahal. Paradigma yang ada berdampak bahwa pendidikan berkualitas sulit dijangkau oleh masyarakat bawah. Untuk mengubah hal tersebut diperlukan sistem pendidikan yang berkualitas dan terjangkau, tidak bergantung pada alat peraga yang relatif mahal, tetapi mengacu pada alam sebagai sumber ilmu pengetahuan lingkungan pedesaan terasa Terasa sejuk dan nyaman. Tak ubahnya sebuah objek wisata. Jalanan setapak dengan atap pergola hidup itu menghubungkan antara saung kelas (rumah panggung) yang satu dengan lainnya. Sepintas bangunan beratap ilalang itu mirip sebuah vila dengan aksen khas rumah adat Sunda. Warna hitam pekat yang mendominasi bangunan tempat belajar maupun kantor guru itu membuat suasana tampak kian elegan. Jalan setapak beralas bebatuan alam itu juga siap mengantarkan para murid bercengkerama dengan alam sekitar. Ada kebun yang cukup luas, ada kolam ikan, kandang hewan ternak seperti kambing, ayam, itik dan aneka unggas lainnya. Di sepanjang sisi jalan tampak sebuah taman bermain yang luas dengan berbagai peralatan outbound. Pendeknya, sebuah perpaduan alam pedesaan yang indah untuk sebuah tempat belajar siswa. Laboratorium hidup. Itu memang jalan kampung yang penuh kelokan dan di kiri kanannya berjejer pohon-pohon besar. Bagian depan sekolah itu tak ubahnya kebun karena dijejali pohon yang berdaun rindang. Yang jelas, suasana alam memang kental terasa.
KESIMPULAN
Sekolah alam di pedesaan merupakan suatu inovasi pendidikan, dimana suatu pembaharuan pandangan lama yang mengatakan bahwa sekolah yang berkualitas haruslah mahal. Paradigma seperti ini merupakan paradigma yang salah dan membebankan masyarakat bawah, dimana pendidikan saat ini sulit untuk dijangkau oleh masyarakat miskin. Bukankah program pendidikan anak usia dini untuk semua kalangan, terutama bagi kalangan masyarakat bawah khususnya yang ada di pedesaan? Pemerataan pendidikan untuk semua kalangan memang cukup menyulitkan pemerintah, terutama untuk mengakses daerah pedesaan. Tidak jarang kita jumpai sedikitnya sekolah TK yang ada di kecamatan, bahkan ada satu kecamatan tidak ada sekolah sama sekali. Sebagai bukti kecamatan pengkadan yang berada di kab. Kapuas hulu hanya pada tahun 2005 hanya ada satu TK yang ada disana. Ini sangat menyedihkan sekali. Berapa banyak anak terlantar dan tidak menikmati pendidikan di usia dini. Menurut saya sekolah alam di pedesaan sangat bermanfaat baik bagi masyarakat, guru, lembaga pendidikan, dan juga anak didik. Dimana sekolah itu tidak begitu besar memerlukan biaya. Alat permainan edukatif bisa kita rancang dari bahan alam sekitar. Ketenangan dan kesejukan udara di alam terbuka membuat anak menjadi lebih bergairah untuk sekolah.
Sekolah alam di desa sangat membantu pemerintah dalam mengakses layanan pendidkan khsusnya pendidikan anak usia dini. Sekolah bisa berdiri asal ada kemauan dari masyarakat untuk mendirikannya. Masyarakat bisa bekerja sama membangun sekolah dengan memanfaatkan bahan yang ada di hutan, seperti kayu, bambu, dan lain-lain. Begitu juga dengan bahan main anak, bisa kita buat dengan berbagai macam alat main dari bahan alam. Itu semua merupakan kreativitas.
Jadi inovasi pendidikan akan muncul dari berupa gagasan-gagasan baru dan pengaplikasiannya

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s