MODUL SPBC

M O D U L 1a
Pola Asuh & Perkembangan Bahasa Anak
Dra. Lilis Madyawati, M.Si

Kemampuan atau tujuan pembelajaran umum dari Modul 1a adalah agar mahasiswa dapat menjelaskan tentang pengertian pemerolehan dan pembelajaran bahasa serta proses terjadinya pemerolehan dan pembelajaran bahasa terkait dengan pola asuh orangtua.
Tujuan pembelajaran khusus yang harus mahasiswa kuasai setelah mempelajari Modul 1a ini adalah mahasiswa diharapkan dapat:
1. membedakan istilah pemerolehan dan pembelajaran bahasa
2.pola asuh untuk mengoptimalkan pembelajaran dan pemerolehan bahasa anak
Agar mahasiswa dapat mempelajari modul ini dengan baik, ikutilah petunjuk belajar di bawah ini:
1. Bacalah dengan cermat setiap bagian modul, sehingga Anda dapat memahami setiap konsep yang disajikan.
2. Kaitkan konsep yang baru Anda pahami dengan konsep-konsep lain yang telah Anda peroleh.
3. Hubungkan konsep-konsep tersebut dengan pengalaman Anda dalam mengajar sehari-hari sehingga Anda dapat menangkap kegunaan konsep tersebut.

PENGARUH POLA ASUH TERHADAP PERKEMBANGAN BAHASA ANAK
Setiap insan memiliki potensi yang sama untuk menguasai bahasa.Proses dan sifat penguasaan bahasa setiap orang berlangsung dinamis dan melalui tahapan berjenjang. Dalam hal ini dikenal dua istilah yakni pemerolehan dan pembelajaran bahasa. Kridalaksana (2009) mendefinisikan pemerolehan bahasa (language acquisition) sebagai proses pemahaman dan penghasilan bahasa pada manusia melalui beberapa tahap, mulai dari meraban sampai kefasihan penuh; sedangkan pembelajaran bahasa (language learning) diartikan sebagai proses dikuasainya bahasa sendiri atau bahasa lain oleh seorang manusia. Krashen (dalam Johnson & Johnson, 2008) menyifati pemerolehan sebagai proses alami yang berlangsung tanpa adanya perhatian secara sadar terhadap bentuk-bentuk linguistik. Pembelajaran merupakan proses yang terjadi secara sadar. Para ahli bersepakat bahwa aspek yang terpenting dalam pemerolehan bahasa adalah fungsi bahasa. Salah satu fungsi bahasa adalah alat berkomunikasi. Karena itu, seseorang yang sering menggunakan bahasa untuk berkomunikasi akan semakin tinggi tingkat kompetensi dan performansinya. Dengan kata lain, faktor interaksi akan lebih menentukan keberhasilan seseorang dalam penguasaan bahasa.
Dalam kaitannya dengan pola asuh, pola asuh yang kreatif, inovatif, seimbang, dan sesuai dengan tahap perkembangan anak akan menciptakan interaksi dan situasi komunikasi yang memberi kontribusi positif terhadap keterampilan berbahasa anak. Dengan kata lain, kealamian pemerolehan bahasa tidak dibiarkan mengalir begitu saja, tetapi direkayasa sedemikian rupa agar anak mendapat stimulus positif sebanyak dan sevariatif mungkin. Dengan demikian, diharapkan anak tidak akan mengalami kesulitan ketika memasuki tahap pembelajaran bahasa untuk kemudian menjadi sosok yang terampil berbahasa.
Secara mentali, pemerolehan bahasa bisa dimulai sejak bayi masih berada dalam kandungan. Sang ibu dapat mengajak bayi berkomunikasi tentang hal yang positif. Kontak batin antara ibu dan janin akan tercipta dengan baik bila kondisi psikis ibu dalam keadaan stabil. Keharmonisan yang terjalin lewat komunikasi bisa mempengruhi kejiwaan anak. Orangtua dapat mengajak anak bercerita tentang kebesaran Sang Pencipta dan alam ciptaan-Nya; mengenalkannya pada kicau burung, kokok ayam, rintik hujan, desir angin; memperdengarkan Kalam Ilahi atau membacakan kisah-kisah bijak. Yudibrata, dkk (2008) menjelaskan bahwa selama bulan-bulan pertama pascalahir atau sebelum seorang anak mempelajari kata-kata yang cukup untuk digunakan sebagai sarana berkomunikasi, anak secara kreatif terlebih dahulu akan menggunakan empat bentuk komunikasi prabicara (preespeech). Keempat prabicara itu adalah tangisan, ocehan/ celoteh/ meraban, isyarat dan ungkapan emosional. Menurut para pakar, perkembangan pemerolehan bahasa pada anak sangat berhubungan dengan kematangan neuromoskularnya yang kemudian dipengaruhi oleh stimulus yang diperolehnya setiap hari. Awalnya tidak ada kontrol terhadap pola tingkah laku termasuk tingkah laku verbalnya. Vokal anak dan otot-otot bicaranya bergerak secara refleks. Padabulan-bulan pertama otaknya berkembang dan mengatur mekanisme saraf sehingga gerakan refleks tadi sudah dapat dikontrol. Refleks itu berhubungan dengan gerakan lidah atau mulut. Misalnya, anak akan mengedipkan mata kalau melihat cahaya yang berubah-ubah atau bibirnya akan bergerak-gerak ketika ada sesuatu disentuhkan ke bibirnya. Selanjutnya, dalam rangka memerikan perkembangan pemerolehan bahasa, Stork dan Widdowson (2008) membedakan antara kematangan menyimak (receptive language skills) dan kematangan mengeluarkan bunyi bahasa atau berbicara (expressive language skills). Kematangan menyimak terjadi lebih dahulu daripada kematangan berbicara meskipun dalam perkembangan selanjutnya kedua kematangan ini saling berhubungan.
Pada awal kelahirannya anak belum dapat membalas stimulus yang berasal dari manusia. Seiring dengan berfungsinya alat artikulasi, yakni ketika anak sudah mulai berceloteh dengan bunyi bilabial seperti (m) untuk ma-ma dan (p) untuk pa-pa atau (b) untuk ba-ba, orang tua sudah bisa melakukan interaksi bahasa dengan anak. Satu hal yang perlu diingat, ma-ma dan pa-pa sebagai celotehan anak bukan merujuk pada makna kata secara harfiah yang berarti ibu dan ayah, melainkan karena semata-mata bunyi konsonan bilabial dan vokal (a) adalah bunyi yang mudah dikuasai pada saat permulaan berujar. Dari keterampilan ini bisa terjalin suasana yang lebih komunikatif antara orangtua dan anak yang berdampak pada perkembangan selanjutnya. Dampaknya bisa positif bisa juga negatif. Semakin baik stimulus yang dibrikan orangtua, semakin positif respon yang dimunculkan anak.
Untuk melatih keterampilan menyimak, orang tua bisa menggunakan metode simak-dengar dengan menyuguhi anak cerita yang disukainya. Penceritaan langsung tanpa menggunakan buku sekali-kali perlu dilakukan untuk perubahan suasana. Bercerita langsung dengan kata-kata sendiri yang dimengerti anak akan memberi efek lebih pada penceritaannya. Kegiatan bercerita ini hendaknya dilakukan dengan menggunakan bahasa ibu (bahasa pertama anak).
Keterampilan menyimak akan berdampak pada keterampilan berbicara. Stimulus orang tua yang berupa data simakan bagi anak bisa direspon dengan metode ulang-ucap. Metode ini akan menunjukkan daya serap anak terhadap cerita atau ujaran orangtua. Pada tahapan ini, orangtua sebaiknya mengubah posisi dari posisi pencerita menjadi pendengar yang baik. Biarkan anak bercerita dengan lugas menurut pemahamannya. Ini bisa membantu anak dalam proses berbicara. Orang tua jangan menuntut anak untuk bercerita sesuai dengan gaya penceritaan orang tua. Hal itu akan membuat jiwa anak tertekan dan terhambat daya kreativitasnya dalam berbahasa. Terkadang anak ingin berbagai cerita tentang suatu hal yang baru dialami atau didapatinya dan ia akan sangat senang jika orangtuanya mau meluangkan sedikit waktu untuk duduk bersamanya dan mendengarkan celoteh riangnya. Namun ada kalanya anak enggan bercerita sama sekali. Jika ini terjadi, jangan paksa anak untuk bercerita. Kondisi psikis anak tidak selalu dalam keadaan yang stabil. Sering timbul sensitivitas yang mempengaruhi sisi kejiwaannya sehingga muncul perasaan kesal, marah, atau benci pada sesuatu hal. Dialog atau komunikasi interpersonal antara orangtua dan anak bisa menjadi alternatif solusi. Buanglah anggapan bahwa itu merupakan hal sepele yang lumrah terjadi dan anak akan pulih dengan sendirinya.
==
M O D U L 1b
Gangguan Berbahasa Pada Anak
Dra. Lilis Madyawati, M.Si

Kemampuan atau tujuan pembelajaran umum dari Modul 1b adalah agar mahasiswa dapat menjelaskan tentang dampak yang terjadi dari keterlambatan bahasa, faktor biologis yang beresiko serta pengertian Epidemiologi Perkembangan
Tujuan pembelajaran khusus yang harus mahasiswa kuasai setelah mempelajari Modul 1b ini adalah mahasiswa diharapkan dapat:
1. menjelaskan dampak dari keterlambatan bahasa
2.faktor biologis yang beresiko negatif
3. Pengertian Epidemiologi Perkembangan
FAKTOR RESIKO GANGGUAN BERBAHASA PADA ANAK
Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan, sebagai hasil dari proses pematangan. Di sini menyangkut proses diferensiasi dari sel-sel tubuh, jaringan tubuh, organ-organ dan sistem organ yang berkembang sedemikian rupa sehingga masing-masing dapat memenuhi fungsinya. Termasuk juga perkembangan emosi, intelektual dan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya.
Gangguan bicara dan bahasa adalah salah satu penyebab perkembangan yang paling sering ditemukan pada anak. Keterlambatan bicara adalah keluhan utama yang sering dicemaskan dan dikeluhkan orang tua kepada dokter. Gangguan ini semakin hari tampak semakin meningkat pesat. Beberapa laporan menyebutkan angka kejadian gangguan bicara dan bahasa berkisar 5- 10% pada anak sekolah. Kemampuan motorik dan kognisi berkembang sesuai tingkat usia anak, demikian juga pemerolehan bahasa bertambah melalui proses perkembangan mulai dari bahasa pertama, usia pra sekolah dan usia sekolah bahasa berperan sangat penting dalam pencapaian akademik anak.
Perkembangan bahasa, pada usia bawah lima tahun (balita) akan berkembang sangat aktif dan pesat. Keterlambatan bahasa pada periode ini dapat menimbulkan berbagai masalah dalam proses belajar di usia sekolah. Anak yang mengalami keterlambatan bicara dan bahasa beresiko mengalami kesulitan belajar, kesulitan membaca dan menulis dan akan menyebabkan pencapaian akademik yang kurang secara menyeluruh, hal ini dapat berlanjut sampai usia dewasa muda. Selanjutnya orang dewasa dengan pencapaian akademik yang rendah akibat keterlambatan bicara dan bahasa, akan mengalami masalah perilaku dan penyesuaian psikososial.
Melihat demikian besar dampak yang timbul akibat keterlambatan bahasa pada anak usia pra sekolah maka sangatlah penting untuk mengoptimalkan proses perkembangan bahasa pada periode ini. Deteksi dini keterlambatan dan gangguan bicara usia pra sekolah adalah tindakan yang terpenting untuk menilai tingkat perkembangan bahasa anak, sehingga dapat meminimalkan kesulitan dalam proses belajar anak tersebut saat memasuki usia sekolah. Beberapa ahli menyimpulkan perkembangan bicara dan bahasa dapat dipakai sebagai indikator perkembangan anak secara keseluruhan, termasuk kemampuan kognisi dan kesuksesan dalam proses belajar di sekolah. Hasil studi longitudinal menunjukkan bahwa keterlambatan perkembangan bahasa berkaitan dengan inteligensi dan membaca di kemudian hari.
Gangguan bicara pada usia prasekolah diperkirakan 5% dari populasi normal dan 70% dari kasus tersebut ditangani oleh terapis (Weiss, et al, 2007). Gangguan perkembangan bicara sangat bervariasi dan masih banyak timbul kontroversi khususnya mengenai penentuan klasifikasi sesuai dengan manifestasi klinisnya. Hal penting yang menjadi perhatian para klinisi mengenai faktor resiko yan mempengaruhi perkembangan bicara dan bahasa. Faktor resiko yang paling sering dilaporkan adalah riwayat keluarga yang positif, gangguan pendengaran, pre dan perinatal (berat badan lahir rendah) serta faktor psikososial.
Faktor resiko yang dipengaruhi oleh kondisi biologis dan lingkungan ini meningkatkan kemungkinan terjadinya gangguan pekembangan (Brooks- Gunn, 2000). Mengenali berbagai faktor resiko yang berkaitan dengan disabilitas perkembangan menjadi perhatian utama, terutama faktor-faktor yang diyakini dipengaruhi oleh kondisi biologis dan lingkungan pada fase awal dari suatu proses perkembangan. Faktor biologis yang beresiko negatif pada perkembangan adalah prematuritas, berat badan lahir rendah, komplikasi perinatal; sedangkan faktor resiko dari lingkungan meliputi status sosioekonomi yang rendah, hubungan tetangga yang buruk, program remedial yang tepat untuk meminimalkan atau mengurangi dampak dan faktor resiko tersebut. Perlu adanya peran utama intervensi dini dan pendidikan khusus yang memperlihatkan bagaimana pendekatan epidemiologi perkembangan sehingga dapat memberikan informasi bagi upaya pencegahan.
Deteksi dini dan penanganan awal terhadap emosi, kognitif atau masalah fisik adalah hal yang sangat penting. Orang-orang dewasa ini khususnya orang tua, perawat anak sehari-hari atau dokter anak sering gagal menemukan indikator awal dari disabilitas. Beberapa anak tidak memperoleh penanganan dengan baik sampai masalah perkembangan itu menjadi sesuatu yang tidak dapat ditangani atau berdampak secara signifikan terhadap hal-hal lain.
Epidemiologi perkembangan adalah suatu metodologi pendekatan yang bisa sangat membantu mengidentifikasi faktor-faktor resiko dini untuk masalah-masalah anak, seperti menentukan angka prevalensi dari masalah kesehatan di masyarakat. Beberapa penelitian menggunakan epidemiologi perkembangan untuk mengenal anak pada saat lahir, siapa yang paling beresiko nantinya mengalami gangguan perkembangan. Beberapa penelitian tersebut memperkenalkan faktor-faktor spesifik yang dapat meningkatkan resiko seorang anak mengalami gangguan perkembangan, tetapi penelitian tersebut tidak meneliti outcome pada anak-anak prasekolah atau tidak menggunakan skor penilaian bahasa yang standar untuk mengidentifikasi anak-anak yang beresiko.
Gangguan bicara dan bahasa adalah salah satu penyebab gangguan perkembangan yang paling sering ditemukan pada anak. Keterlambatan bicara adalah keluhan utama yang sering dicemaskan dan dikeluhkan orang tua kepada dokter. Gangguan ini semakin hari tampak meningkat pesat. Beberapa laporan menyebutkan angka kejadian gangguan bicara dan bahasa berkisar 5- 10% pada anak sekolah. Penyebab keterlambatan bicara sangat banyak dan luas, gangguan tersebut ada yang ringan sampai yang berat, mulai dari yang bisa membaik hingga yang sulit untuk membaik. Keterlambatan bicara fungsional merupakan penyebab yang sering dialami oleh sebagian anak. Kterlambatan bicara golongan ini biasanya ringan dan hanya merupakan ketidakmatangan fungsi bicara pada anak. Pada usia tertentu terutama setelah usia 2 tahun akan membaik. Bila keterlambatan bicara tersebut bukan karena proses fungsional maka gangguan tersebut harus lebih diwaspadai karena bukan sesuatu yang ringan.
Setelah Sdr. selesai membaca serta mempelajari bahasan Modul di atas coba kerjakan beberapa soal di bawah ini dan diskusikan bersama teman!
1. Kemukakan, jelaskan, dan bedakan pengertian pemerolehan dan pembelajaran bahasa.
2. Kemukakan pula bagaimana proses dari pemerolehan dan pembelajaran bahasa.
3. Menurut Sdr. pola asuh yang bagaimana yang dapat mengoptimalkan pemerolehan dan pembelajaran bahasa.
4. Sejak kapankah pemerolehan bahasa anak dimulai? Jelaskan
5. Sebutkan 4 komponen prabicara pada anak!
6. Kemukakan trik atau metode yang Sdr. gunakan agar anak trampil menyimak!
7. Dampak yang terjadi dari keterlambatan bahasa meliputi apa sajakah?
8. Kemukakan beberapa faktor biologis yang beresiko negatif pada perkembangan bahasa!
9. Apa pula yang dimaksud Epidemiologi Perkembangan? Jelaskan!
==
M O D U L 2a
Gangguan tumbuh Kembang yang Sering Ditemukan
Dra. Lilis Madyawati, M.Si

Kemampuan atau tujuan pembelajaran umum dari Modul 1 adalah agar mahasiswa dapat menjelaskan tentang macam-macam gangguan tumbuh kembang yang sering dijumpai.
Tujuan pembelajaran khusus yang harus mahasiswa kuasai setelah mempelajari Modul 2a ini adalah mahasiswa diharapkan dapat:
1. menjelaskan macam gangguan tumbuh kembang anak yang sering ditemukan;
2.menjelaskan Sindrom Down, Gangguan Autisme, dan GPPH
Agar mahasiswa dapat mempelajari modul ini dengan baik, ikutilah petunjuk belajar di bawah ini:
1. Bacalah dengan cermat setiap bagian modul, sehingga Anda dapat memahami setiap konsep yang disajikan.
2. Kaitkan konsep yang baru Anda pahami dengan konsep-konsep lain yang telah Anda peroleh.
3. Hubungkan konsep-konsep tersebut dengan pengalaman Anda dalam mengajar sehari-hari sehingga Anda dapat menangkap kegunaan konsep tersebut.
Beberapa Gangguan Tumbuh Kembang yang Sering Ditemukan
a. Gangguan Bicara dan Bahasa
Kemampuan berbahasa merupakan indikator seluruh perkembangan anak. Karena kemampuan berbahasa sensitif terhadap keterlambatan atau kerusakan pada sistem lainnya sebab melibatkan kemampuan kognitif, motor, psikologis, emosi dan lingkungan sekitar anak. Kurangnya stimulasi akan dapat menyebabkan gangguan bicara dan berbahasa bahkan gangguan ini dapat menetap.
1. Cerebral Palsy
Merupakan suatu kelainan gerakan dan postur tubuh yang tidak progresif yang disebabkan oleh karena suatu kerusakan atau gangguan pada sel-sel motorik pada susunan saraf pusat yang sedang tumbuh/ belum selesai pertumbuhannya.
2. Sindrom Down
Anak dengan sindrom down adalah individu yang dapat dikenal dari fenotfnya dan mempunyai kecerdasan yang terbatas, yang terjadi akibat adanya jumlah kromosom 21 yang berlebih. Perkembangannya lebih lambat dari anak yang normal. Beberapa faktor seperti kelainan jantung kongenital, hipotonia yang berat, masalah biologis atau lingkungan lainnya dapat menyebabkan keterlambatan perkembangan motorik dan keterampilan untuk menolong diri sendiri.
3. Perawatan Pendek
Short stature atau Perawatan Pendek merupakan suatu terminologi mengenai tinggi badan di bawah persentil 3 atau -2 SD pada kurva pertumbuhan yang berlaku pada populasi tersebut. Penyebabnya dapat karena gangguan gizi, kelainan kromosom, penyakit sistemik atau karena kelainan endokrin.
4. Gangguan Autisme
Merupakan gangguan perkembangan pada anak yang gejalanya muncul sebelum anak berumur 3 tahun. Pervasif berarti meliputi seluruh aspek perkembangan segingga gangguan tersebut sangat luas dan berat yang mempengaruhi anak secara mendalam. Gangguan perkembangan yang ditemukan pada autisme mencakup bidang interaksi sosial, komunikasi dan perilaku.
5. Retardasi Mental
Merupakan suatu kondisi yang ditandai oleh inteligensia yang rendah (IQ < 70) yang menyebabkan ketidakmampuan individu untuk belajar dan beradaptasi terhadap tuntutan masyarakat atas kemampuan yang dianggap normal.
6. Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH)
Merupakan gangguan di mana anak mengalami kesulitan untuk memusatkan perhatian yang sering disertai dengan hiperaktivitas.
==

M O D U L 2b
Deteksi Dini Keterlambatan Bicara
Dra. Lilis Madyawati, M.Si

Kemampuan atau tujuan pembelajaran umum dari Modul 2b adalah agar mahasiswa dapat menjelaskan tentang deteksi dini keterlambatan berbicara serta penyebab terjadinya keterlambatan berbicara pada anak.
Tujuan pembelajaran khusus yang harus mahasiswa kuasai setelah mempelajari Modul 2a ini adalah mahasiswa diharapkan dapat:
1. menjelaskan pengertian gangguan keterlambatan berbicara;
2.menjelaskan penyebab terjadinya keterlambatan berbicara pada anak
Agar mahasiswa dapat mempelajari modul ini dengan baik, ikutilah petunjuk belajar di bawah ini:
1. Bacalah dengan cermat setiap bagian modul, sehingga Anda dapat memahami setiap konsep yang disajikan.
2. Kaitkan konsep yang baru Anda pahami dengan konsep-konsep lain yang telah Anda peroleh.
3. Hubungkan konsep-konsep tersebut dengan pengalaman Anda dalam mengajar sehari-hari sehingga Anda dapat menangkap kegunaan konsep tersebut.

Deteksi Dini Keterlambatan Bicara
Deteksi dini keterlambatan bicara sangat penting agar intervensi dan stimulasi untuk mengejar ketinggalan dapat segera dilakukan. Orangtua sebaiknya bersabar untuk memperkenalkan bahasa pada anaknya.
Nosi (29 tahun) khawatir, Yuswa (3 tahun) anaknya belum juga dapat berbicara sepatah kata pun. Yuswa hanya bisa menunjuk-nunjuk dan mengeluarkan suara ‘uh..uh’ ketika menginginkan sesuatu. Sementara teman-temannya yang lain sudah bisa mnegucapkan kalimat pendek seperti ‘aku mau makan’atau’ aku mau pipis”. Sempat timbul keinginan Nosi untuk membawa Yuswa kepada profesional. Sekedar untuk mengkonsultasikan keadaan anaknya. Namun orang-orang di sekitarnya seperti tidak mendukung. “Tenang saja..nanti juga bisa” Kamu terlalu khawatir aja..”, akhirnya ibu ini pun menurut. Dia tak memeriksakan anaknya untuk mencari tahu keterlambatan bicara anak pertamanya itu.
Menurut Surjadi (2009), memang ada kasus keterlambatan bicara yang bersifat genetik yang memang boleh ditunggu. Tetapi kita mesti benar-benar yakin bahwa keterlambatan itu benar. benar genetik dan boleh ditunggu. Untuk mengetahui apakah kemampuan bicara anak akan berkembang normal antara lain dapat dideteksi melalui pendengarannya. Yakinkan bahwa pendengaran anak normal karena pendengaran yang baik merupakan salah satu persyaratan untuk bicara. Fungsi pendengaran dapat dinilai dengan melakukan screening pendengaran bahkan sejak bayi baru lahir. Respon anak terhadap lonceng atau suara merupakan pertanda bahwa fungsi pendengaran anak baik.
Masalah terlambat bicara memang sering terlambat terdiagnosis. Padahal deteksi dini gangguan perkembangan secara keseluruhan termasuk terlambat bicara sangat penting diketahui sedini mungkin; sehingga bila terjadi gangguan dapat segera dikoreksi karena otak berkembang sangat cepat di tahun pertama dan kedua. Bila gangguan perkembangan diketahui di tahun pertama,,intervensi atau stimulasi yang dilakukan pada anak akan sangat bermanfaat karena otak masih sangat sensitif dengan stimulasi yang diberikan. Rangsangan atau stimulasi perbaikan yang diberikan diharapkan dapat mengejar segala bentuk keterlambatan di tahun pertama atau kedua. Tentu saja semua tergantung jenis keterlambatannya atau berat ringannya gangguan perkembangan.
Jika keterlambatan bicara tidak dideteksi sejak dini, maka kerusakan yang ditimbulkan bisa jauh lebih besar. Ekspektasi terhadap anak 2 tahun tentu berbeda dengan anak 3 atau 4 tahun. Apalagi kalau sudah bersekolah di TK maupun SD. Bila media berbicara mengalami masalah maka bisa membuat anak menjadi frustasi dan malu karena teman-temannya memperlakukan dia secara berbeda, entah mengucilkan ataupun membuatnya menjadi bahan tertawaan. Jika tidak ada yang bisa mngerti apa yang diinginkan atau dimaksud anak, maka tak mengherankan jika lama kelamaan anak itu akan berhenti untuk berusaha membuat orang lain mengerti. Padahal belajar melalui proses penting dalam menjadikan seorang manusia tumbuh dan berhasil menjadi orang seperti yang diharapkannya.
Penyebab Keterlambatan Bicara
Gangguan keterlambatan bicara adalah istilah yang dipergunakan untuk mendeskripsikan adanya hambatan pada kemampuan bicara dan perkembangan bahasa pada anak-anak. Tanpa disertai keterlambatan aspek perkembangan lainnya. Pada umumnya mereka mempunyai perkembangan inteligensi dan sosial-emosional yang normal. Menurut penelitian masalah ini terjadi atau dialami 5 sampai 10 persen anak-anak usia prasekolah dan lebih cenderung dialami oleh anak laki-laki daripada perempuan.
Penyebab terlambat bicara ada yang bersifat sentral (gangguan pada otak), ada yang karena penyebab perifir (alat pendengaran yang terganggu), tetapi bisa juga karena bersifat genetik (masalah keturunan). Anak autis sering memberikan manifestasi awal terlambat bicara. Orang tua sering menyebut anak dengan gangguan perkembangan pervasive development disorder not other specified (PDD NOS) yang sering disebut sebagai autisme.
Seni (2010) menambahkan bahwa banyak anak yang terlambat bicara karena anak tidak mengalami proses perkembangan secara alami. Misalnya, seharusnya anak ditetah malah diberi baby walker, anak tidak pernah merasakan yang kasar atau lunak, karena selalu harus merasakan yang halus-halus dan bersih sehingga anak menjadi hipersensitif.
Anak usia 9 bulan seharusnya sudah mulai makan makanan yang agak kasar tetapi karena orang tuanya khawatir anaknya kurus anak diberi makanan halus terlalu lama. Hal ini akan menyebabkan daerah di sekitar mulut dan lidah yang digunakan juga untuk bicara menjadi kurang terlatih. Anak usia di atas 2 tahun seharusnya juga sudah berhenti minum ASI, sehingga mulutnya tidak hanya terbiasa dengan yang kenyal-kenyal saja. Ia harus sudah mencoba sedotan atau cangkir dan bukan diberi dot agar daerah di sekitar mulutnya dapat terangsang dengan baik.
Begitu juga jika ada tahapan perkembangan anak yang terlewati. Misalnya anak belum merangkak, tetapi sudah ingin berdiri. Kalau ada tahapan yang terlengkapi, potensi masalah yang ditimbulkan bukan hanya keterlambatan bicara, tetapi juga bisa gangguan yang lain. Atau bisa saja bahasanya tidak terlambat tetapi mengalami keterlambatan atau bermasalah dalam mengendalikan atensinya.
Sejauh ini, kebanyakan nonton televisi pada anak-anak usia balita juga dapat menjadi salah satu faktor penyebab anak mengalami gangguan keterlambatan bicara. Terlalu banyak menonton TV (Jacinta, 2010) merupakan faktor yang membuat anak menjadi pendengar pasif. Pada saat menonton TV anak akan lebih sebagai pihak yang menerima tanpa harus mencerna dan memproses informasi yang masuk. Belum lagi suguhan yang ditayangkan berisi adegan-adegan yang sering tidak dimengerti anak, bahkan mungkin traumatis. Pengalaman traumatis bisa akibat menyaksikan adegan perkelahian, kekerasan, seksual ataupun acara yang tidak disangka-sangka memberi kesan yang mendalam pada anak, karena egosentrisme yang kuat pada anak dan kemampuan kognitif yang masih belum berkembang.
Akibatnya anak tidak mengalami periode tertentu yang seharusnya otak mendapat banyak stimulasi dari lingkungan dan orang tua untuk kemudian memberikan feed back kembali. Karena yang lebih banyak memberikan stimulasi adalah televisi (yang tidak membutuhkan respon apa-apa dari penontonnya), maka sel-sel otak yang mengurusi masalah bicara dan bahasa akan terhambat perkembangannya. Masalah komunikasi dan interaksi dengan orang tua (Jacinta: 2010) juga memiliki peran yang penting dalam membuat anak mempunyai kemampuan berbicara dan berbahasa yang sangat baik. Banyak orang tua yang tidak menyadari bahwa cara mereka berkomunikasi dengan si anak ikut berperan dalam menambah perbendaharaan kata, memacu untuk berpikir logis, menganalisis dan membuat kesimpulan dari kalimat-kalimat yang sangat sederhana sekalipun.
Sebaliknya jika orang tua sering malas mengajak anaknya berbicara panjang lebar dan hanya bicara satu dua patah kata saja. Apalagi bila pembicaraan itu lebih banyak instruksi ketimbang dialog. Anak yang tidak pernah diberi kesempatan untuk mengekspresikan diri sejak dini (lebih banyak menjadi pendengar pasif) karena orang tua terlalu memaksakan dan ‘memasukkan’ segala instruksi, pandangan pada anaknya untuk memberi umpan balik juga menjadi faktor yang mempengaruhi kemampuan bicara serta menggunakan kalimat dan berbahasa.
Setelah Sdr. membaca dan mempelajari bahasan di atas, coba kerjakan soal-soal di bawah ini serta diskusikan dalam kelompok belajarmu!
1. Mengapa deteksi dini keterlambatan berbicara perlu dilakukan?
2. Bagaimana cara mendeteksi kemampuan berbicara pada anak?
3. Kemukakan dan jelaskan pengertian gangguan keteralmbatan berbicara!
4. Apa saja yang menyebabkan terjadinya keterlambatan berbicara pada anak?
5. Mengapa TV dapat berpengaruh pada kemampuan berbicara pada anak? Kemukakan alasan Sdr. dengan jelas!
==
M O D U L 3
Melatih Anak Berbicara
Dra. Lilis Madyawati, M.Si

Kemampuan atau tujuan pembelajaran umum dari Modul 3 adalah agar mahasiswa dapat menjelaskan tentang faktor penyebab keterlambatan berbicara serta menjelaskan tahapan pengucapan pada balita..
Tujuan pembelajaran khusus yang harus mahasiswa kuasai setelah mempelajari Modul 3 ini adalah mahasiswa diharapkan dapat:
1. menjelaskan faktor-faktor penyebab keterlambatan berbicara;
2.menjelaskan bagaimana masalah keturunan mempengaruhi keterlambatan berbicara pada anak
Agar mahasiswa dapat mempelajari modul ini dengan baik, ikutilah petunjuk belajar di bawah ini:
1. Bacalah dengan cermat setiap bagian modul, sehingga Anda dapat memahami setiap konsep yang disajikan.
2. Kaitkan konsep yang baru Anda pahami dengan konsep-konsep lain yang telah Anda peroleh.
3. Hubungkan konsep-konsep tersebut dengan pengalaman Anda dalam mengajar sehari-hari sehingga Anda dapat menangkap kegunaan konsep tersebut.

Melatih Anak Berbicara
Di awal usia batita (bawah tiga tahun) anak mulai mampu mengucapkan kata yang memiliki makna. Meski kebanyakan kata tersebut masih sulit dipahami karena artikulasi (pengucapan) masih belum baik. Perlu diketahui, kemampuan batita dalam berbicara dipengaruhi kematangan oral-motor (organ-organ mulut). Sementara, kemampuan yang menunjang perkembangan bahasa di antaranya kemampuan mendengar, artikulasi, fisik (perkembangan otak dan alat bicara), dan lingkungan.
Gangguan kemampuan bicara atau keterlambatan bicara dan berbahasa ini haruslah dideteksi dan ditangani sejak dini dengan metode yang tepat. Bagaimana pun juga, bicara dan bahasa merupakan media utama seseorang untuk mengekspresikan emosi, pikiran, pendapat, dan keinginannya. Bayangkan saja, jika ia mengalami masalah dalam mengekspresikan diri, untuk bisa dimengerti oleh orang lain atau orang tuanya, guru dan teman-temannya, maka bisa membuat ia frustasi.
Penyebab Keterlambatan Bicara
Penyebab dari keterlambatan bicara ini disebabkan oleh beragam faktor, seperti:
1. Hambatan pendengaran
Pada beberapa kasus, hambatan pada pendengaran berkaitan dengan keterlambatan bicara. Jika si anak mengalami kesulitan pendengaran, maka dia akan mengalami hambatan pula dalam memahami, meniru dan menggunakan bahasa. Salah satu penyebab gangguan pendengaran anak adalah karena adanya infeksi telinga.
2. Hambatan perkembangan pada otak yang menguasai kemampuan oral-motor
Ada kasus keterlambatan bicara yang disebabkan adanya masalah pada area oral-motor di otak sehingga kondisi ini menyebabkan terjadinya ketidakefisienan hubungan di daerah otak yang bertanggung jawab menghasilkan bicara. Akibatnya, si anak mengalami kesulitan menggunakan bibir, lidah bahkan rahangnya untuk menghasilkan bunyi kata tertentu.
3. Masalah Keturunan
Masalah keturunan sejauh ini belum banyak diteliti korelasinya dengan asal-usul dari hambatan pendengaran. Namun, sejumlah fakta menunjukkan pula bahwa pada beberapa kasus di mana seseorang anak mengalami keterlambatan bicara ditemukan adanya kasus serupa pada generasi sebelumnya atau pada keluarganya. Dengan demikian kesimpulan sementara hanya menunjukkan adanya kemungkinan masalah keturunan sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi.
4. Masalah pembelajaran dan komunikasi dengan orang tua
Masalah komunikasi dan interaksi dengan orang tua tanpa disadari memiliki peran yang penting dalam membuat anak mempunyai kemampuan berbicara dan berbahasa yang tinggi. Banyak orang tua yang tidak menyadari bahwa cara mereka berkomunikasi dengan si anak lah yang juga membuat anak tidak punya banyak perbendaharaan kata-kata, kurang dipacu untuk berpikir logis, analisis atau membuat kesimpulan dari kalimat-kalimat yang sangat sederhana sekalipun. Anak-anak yang diasuh oleh orang tua/ pengasuh yang pendiam sering jadi kurang terstimulasi. Begitu juga anak-anak yang setiap hari kegiatannya hanya menonton TV. Anak-anak yang dimanja sehingga tanpa bicara pun misalnya hanya menunjuk-nunjuk, sudah mendapatkan apa yang diinginkannya.
5. Adanya keterbatasan fisik seperti pendengaran terganggu, otot bicara kurang sempurna, bibir sumbing, dan sebagainya.
6. Pengaruh Televisi
Mengutip hasil penelitian Hancox (2008), bahwa menonton TV saat masa anak dan remaja berdampak jangka panjang terhadap kegagalan akademis di umur 26 tahun. Mengenai pengaruh TV terhadap IQ anak mendapati hasil bahwa anak di bawah 3 tahun yang rajin menonton televisi setiap jamnya ternyata hasil uji membaca turun, uji membaca komprehensif turun, juga memorinya. Anak yang sering menonton TV juga mengalami masalah pada pola tidurnya, seperti terlambat tidur, kurang tidur bahkan tak bisa tidur, cemas tanpa sebab, terbangun malam dan mengantuk pada siang hari.
Hardiono (2010) menjelaskan, otak berfungsi merencanakan, mengorganisasi dan mengurutkan perilaku untuk kontrol diri sendiri, konsentrasi atau atensi dan menentukan baik atau tidak. Pusat di otak yang mengatur hal ini adalah korteks prefrontal yang berkembang selama masa anak dan remaja. Televisi dan game video yang mindless (tak membutuhkan otak untuk berpikir) akan menghambat perkembangan bagian otak ini. Hanya dari menonton televisi saja otak kehilangan kesempatan mendapat stimulasi dari kesempatan berpartisipasi aktif dalam hubungan sosial dengan orang lain, bermain kreatif dan memecahkan masalah. Selain itu TV bersifat satu arah sehingga anak kehilangan kesempatan mengeksplorasi dunia tiga dimensi serta kehilangan peluang tahapan perkembangan yang baik.
Adapun bentuk-bentuk suara atau pengucapan balita antara lain:
– Babbling
Sebagian anak di awal usianya melakukan babbling yaitu mengeluarkan suara berupa satu suku kata seperti ‘ma.. atau ba..” Namun itu masih belum bermakna. Jadi sekedar mengoceh atau bereksperimen. Sering-seringlah mengajaknya berkomunikasi, misal, “Adik mau main boneka ini?” Ucapkan hal itu dengan jelas sehingga lambat laun anak dapat melakukan imitasi untuk dapat mengucapkan kata-kata yang jelas dan bisa dimaknai pula.
– Bahasa planet
Contoh, saat meminta sesuatu dia hanya menunjuk sambil mengeluarkan kata-kata yang tidak dimengerti orang dewasa; atau ia kemudian menggunakan bahasa tubuh, misalnya ketika masih ingin digendong, ia menarik ibunya sambil mengeluarkan suara tertentu yang maksudnya masih ingin digendong atau bermain dengan ibunya. Bahasa tubuh dijadikan bentuk komunikasi, misalnya ketika ia merasa haus, ia menunjuk atau mengambil gelas plastiknya sambil berkata “Ma” atau kata lainnya yang belum bisa ditebak tapi maksudnya adalah ia ingin minum, misalnya. Untuk menghadapi hal ini, sebaiknya segera ketahui sesuatu yang dimaksud si kecil dengan cara menuju objek yang diinginkan
– Sepotong- sepotong
Dalam tahap belajar, wajar kalau pengucapan masih sering tersendat-sendat/ sepotong-sepotong, hanya pada bagian akhir kata. Misalnya “minta” jadi “ta”, “minum” jadi “num”, dan lain-lain. Kita perlu meluruskan dengan mengucapkan berulang-ulang. Misalnya “ Oh, adik minta minum, ya”.
– Sulit mengucapkan huruf/ suku kata
Misalnya kata “mobil” disebut “mobing”; atau “toko” jadi “toto”, “stasiun” jadi “tatun”. Pengucapan semacam ini sulit ditangkap artinya. Biasanya kendala ini akan hilang dengan bertambahnya usia anak bila kita melatihnya dengan membiasakan menggunakan bahasa yang baik dan benar.

Jawab dan diskusikan bersama teman beberapa hal di bawah ini!
1. Faktor penyebab keterbatasan berbahasa
2. Bagaimana masalah keturunan mempengaruhi keterlambatan bicara anak?
3. Tahapan pengucapan pada balita
==
M O D U L 4
Manfaat Bermain bagi Perkembangan Bahasa
Dra. Lilis Madyawati, M.Si

Kemampuan atau tujuan pembelajaran umum dari Modul 4 adalah agar mahasiswa dapat menjelaskan tentang bermain peran terkait dengan IQ dan perkembangan moral anak serta pentingnya figur/ model bagi anak.
Tujuan pembelajaran khusus yang harus mahasiswa kuasai setelah mempelajari Modul 4 ini adalah mahasiswa diharapkan dapat:
1. menjelaskan manfaat bermain peran terkait dengan IQ dan perkembangan moral anak
2.menjelaskan pentingnya figur/ model bagi anak.
Agar mahasiswa dapat mempelajari modul ini dengan baik, ikutilah petunjuk belajar di bawah ini:
1. Bacalah dengan cermat setiap bagian modul, sehingga Anda dapat memahami setiap konsep yang disajikan.
2. Kaitkan konsep yang baru Anda pahami dengan konsep-konsep lain yang telah Anda peroleh.
3. Hubungkan konsep-konsep tersebut dengan pengalaman Anda dalam mengajar sehari-hari sehingga Anda dapat menangkap kegunaan konsep tersebut.

Manfaat Bermain Peran
Permainan ini sangat bagus untuk si kecil, sebab itu kita harus mendukungnya. Mau tahu apa saja manfaatnya?
Para orang dewasa mungkin pernah menyaksikan si Upik sedang asyik memeriksa bonekanya dengan stetoskop mainannya. Si Buyung yang tengah serius menyupir sementara di belakangnya berderet sejumlah kursi tanpa ‘penghuni’. Tak jarang mereka terlihat pula dalam permainan serupa bersama adik atau teman-teman seusianya. Entah itu main dokter-dokteran, rumah-rumahan, perang-perangan, sekolah-sekolahan, pasar-pasaran, dan sebagainya. Dalam bahasa psikologi dikenal istilah bermain peran atau socio-dramatic. Permainan ini lazim dilakukan anak usia 3- 5 tahun. Malah menurut Rosalina (2010) permainan ini sangat bagus untuk si kecil. Soalnya di usia tersebut kemampuan berfantasi, kognitif, emosi, dan sosialisasi anak tengah berkembang. Dengan bermain peran, seluruh kemampuan tersebut dapat dikembangan oleh anak
IQ lebih tinggi
Salah satu manfaat bermain peran ialah anak bisa mempelajari banyak peran di sekeliling mereka dan lingkungan di luar mereka. Misalnya, menjadi dokter, perawat, polisi, guru, dan sebagainya. Mereka juga akan berfantasi dan kemudian meniru sehingga perkembangan kognitif mereka pun berkembang baik. Bermain peran juga membuat perkembangan intelektual anak sangat terbantu. Misalnya,” Dokter itu ngapain, sih? Oh, dokter itu menyembuhkan pasien”. Pemahaman tersebut diperoleh salah satunya lewat bermain peran. Bahkan, penelitian di Amerika membuktikan anak yang bermain peran, IQ-nya lebih tinggi dibanding anak-anak yang melakukan permainan tradisional seperti menggunting atau melipat.
Perkembangan bahasa anak juga akan terbantu. Misalnya, anak berperan sebagai ibu. Ia akan mengenal kata-kata seperti popok, bayi, gurita, dan sebagainya. Bermain peran juga bermanfaat bagi perkembangan moral anak. Misalnya sambil bermain dokter-dokteran anak diajar mengenal nilai-nilai kemanusiaan, harus saling menolong, dan sebagainya. Anak juga belajar tentang mana yang benar dan salah. Namun jangan memberikan informasi tentang peran yang sifatnya stereotype. Misalnya tentang polisi yang jahat. Mungkin orang tua punya pengalaman tak mengenakkan dengan polisi yang kemudian ia tularkan kepada anaknya. Hal itu sungguh keliru. Dikhawatirkan anak akan memainkan peran yang salah dan akan memiliki konsep yang salah pula. Sebaiknya beri informasi tentang polisi yang baik, bahwa tugas polisi adalah mengatur keamanan dan melindungi warga. Atau tugas dokter menyembuhkan pasien, guru perannya mengajar, dan sebagainya.
JANGAN DIKOTAK-KOTAKKAN
Manfaat lain dari bermain peran ialah membantu anak menyadari perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Bagaimanapun, secara kodrati ada perbedaan antara ibu dan ayah. Akan lebih baik bila sejak kecil anak sudah diberi tahu, yang namanya perempuan tipikalnya secara unik adalah mengasuh anak, misalnya. Orang tua sebaiknya tak melakukan pengkotak-kotakan ekstrim terhadap jenis-jenis permainan. Misalnya, anak perempuan harus bermain pasar-pasaran dan anak lelaki mesti bermain perang-perangan. Kalau dikotak-kotakan akan terjadi bias gender sehingga pandangan anak menjadi sempit. Misalnya, perempuan haus selalu di dapur atau yang bisa menjadi tentara itu harus selalu laki-laki.
Jadi, anak harus dikondisikan secara netral. Perkenalkan padanya tentang adanya beberapa peran yang sama dan ada yang spesifik, misalnya bahwa ibu itu menyusui. Dengan begitu, anak akan melihat bahwa sebetulnya tak ada pembagian peran.
DIPANTAU DAN DIAWASI
Pendek kata, bermain peran sangat banyak manfaatnya bagi anak. Orang tua sebaiknya mendorong anak untuk melakukan permainan tersebut. Jangan sampai orang tua malah menghambat. Selain berakibat salah dalam hal memberikan norma atau moral, itu juga akan menghambat fantasi dan emosi anak. Anak jadi tidak dapat mengungkapkan perasaannya saat bermain; yang juga berbahaya, kreativitas anak akan terhambat. Orang tua juga sebaiknya memberi kesempatan seluas-luasnya kepada anak untuk mengamati lingkungan sekitarnya. Jangan remehkan kemampuan anak untuk mengamati. Justru di usia kanak-kanak kemampuan observasi anak berada dalam kondisi paling bagus. Mereka adalah pengamat yang luar biasa, bahkan kanak-kanak sampai mengambil dan meniru 100% sesuatu begitu saja.
Karenanya orang tua/ orang dewasa umumnya agar juga memantau sehingga anak bisa bermain sesuai kapasitas dan kemampuannya. Jadi, pengawasan terhadap anak sebaiknya lebih dari sekedar mengawasi agar anak tidak jatuh, misalnya, tetapi juga mengawasi informasi yang masuk. Dengan demikian, saat anak bermain peran,mereka akan bermain dengan ekspresi yang tepat. Selain itu, anak juga dibiarkan bermain dengan anak-anak yang memiliki berbagai tipe atau karakter. Mulai dari anak pemalu, penurut, sampai anak yang tipenya dominan sehingga ‘mengganggu’ anak lain. Tujuannya agar anak dapat belajar untuk fight dan melihat bahwa di sekelilingnya ada berbagai tipe anak; namun tentunya selama mereka bermain harus diawasi.
ORANG DEWASA TURUT SERTA BERMAIN
Orang tua/ guru sebaiknya juga ikut melibatkan diri, sejauh anak memerlukan figur dan model. Selain lebih meningkatkan kedekatan antara orang tua dengan anak, si anak juga belajar model dari orang yang paling tepat, yakni orang tua. Anak pun akan senang jika orang dewasa sekitarnya turut serta bermain dengan mereka. Keterlibatan guru/ orang tua juga membantu agar anak tak selalu bermain sendirian. Menemani si kanak-kanak bermain juga memberi manfaat secara tidak langsung mengasah perkembangan sosialnya. Apalagi bagi anak tunggal atau anak yang tak memiliki teman sebaya di lingkungan sekitarnya. Sediakanlah waktu yang cukup banyak untuk bermain bersama anak, sehingga modelling berjalan baik.
Misalnya, si kakak menjadi sopir, ibu dan adiknya menjadi penumpang, teman lain menjadi kondekturnya. Dengan begitu orang tua/ guru bukan hanya sekedar memberikan informasi atau mengawasi tapi juga terlibat langsung. Anak pun akan merasa aman bahwa permainan itu diterima orang tua. Fantasi dan imajinasi si anak berkembang dan ia pun mengembangkan perasaan kompak sebagai suatu kelompok.
BELAJAR BERBAGI
Sering terjadi, seorang anak tak mau bergantian peran. Misalnya, ia hanya mau menjadi dokter saat bermain dokter-dokteran, atau anak lain inginnya menjadi guru terus, dan sebagainya. Itulah salah satu pentingnya kehadiran orang tua/ guru untuk terlibat. Orang tua bisa menjadi penengah; misalnya mengajak mereka bermain di ‘ruang operasi’ sehingga dokternya banyak. Jadi ‘win-win solution’, anak tetap dapat bermain sesuai keinginannya. Anak-anak yang bersikeras hanya ingin memerankan peran tertentu, bisa disebabkan yang dihayati si anak saat itu hanyalah peran tersebut. Juga ada hubungannya dengan keinginan anak untuk tampil dan diperhatikan.
Saudara telah mempelajari materi di atas, coba jawab pertanyaan-pertanyaan berikut:
1. Jelaskan manfaat bermain peran terkait dengan IQ dan perkembangan moral anak!
2. Jelaskan pentingnya figur/ model bagi anak! Serta bagaimana peran orangtua/ guru dalam hal ini!
== ` ““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““`
M O D U L 5
PENTINGNYA PENDIDIKAN USIA DINI
Dra. Lilis Madyawati, M.Si

Kemampuan atau tujuan pembelajaran umum dari Modul 5 adalah agar mahasiswa dapat menjelaskan tentang PAUD kunci utama keberhasilan belajar jenjang berikutnya; beberapa pendapat tokoh tentang pendidikan usia dini; serta peran Depdiknas dalam PAUD.
Tujuan pembelajaran khusus yang harus mahasiswa kuasai setelah mempelajari Modul 5 ini adalah mahasiswa diharapkan dapat:
1. menjelaskan tentang PAUD sebagai kunci utama keberhasilan belajar pada jenjang
berikutnya
2. menjelaskan pendapat para tokoh tentang pendidikan dini
3. peran Depdiknas dalam PAUD
Agar mahasiswa dapat mempelajari modul ini dengan baik, ikutilah petunjuk belajar di bawah ini:
1. Bacalah dengan cermat setiap bagian modul, sehingga Anda dapat memahami setiap konsep yang disajikan.
2. Kaitkan konsep yang baru Anda pahami dengan konsep-konsep lain yang telah Anda peroleh.
3. Hubungkan konsep-konsep tersebut dengan pengalaman Anda dalam mengajar sehari-hari sehingga Anda dapat menangkap kegunaan konsep tersebut.

PENDIDIKAN USIA DINI LANDASAN PENDIDIKAN MASA DEPAN
Keberhasilan anak usia dini merupakan landasan bagi keberhasilan pendidikan pada jenjang berikutnya.Usia dini merupakan ‘usia emas’ bagi seseorang, artinya bila seseorang pada masa itu mendapat pendidikan yang tepat, maka ia memperoleh kesiapan belajar yang baik yang merupakan salah satu kunci utama bagi keberhasilan belajarnya pada jenjang berikutnya. Kesadaran akan pentingnya PAUD cukup tinggi di negara maju, terbukti dengan beberapa hal di bawah ini:
Martin Luther (1546)
Menurut Martin Luther tujuan utama sekolah adalah mengajarkan agama dan keluarga merupakan institusi penting dalam pendidikan anak. Pemikiran Martin Luther ini sejalan dengan tujuan madrasah (sekolah Islam) yaitu pendidikan agama Islam, di mana ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan bagian integral dari agama Islam. Dengan demikian pendidikan di madrasah akan menghasilkan ulul- albaab, yaitu penguasaan iptek yang dapat digunakan dalam kehidupan dengan ahlak mulia, berdampak rahmatan lil alamiin yang dijanjikan Allah akan ditingkatkan derajatnya (QS. 58: 11)
Rousseau (1718)
Bukunya Du de’education, menggambarkan cara pendidikan anak sejak lahir hingga remaja. Menurut Rousseau, Tuhan menciptakan segalanya dengan baik, adanya campur tangan manusia menjadikannya jahat. Rousseau menyarankan kembali ke alam atau ‘back to nature’ dan pendekatan yang bersifat alamiah dalam pendidikan anak yaitu: “naturalisme”. Naturalisme berarti pendidikan akan diperoleh dari alam, manusia atau benda, bersifat alamiah sehingga memacu berkembangnya mutu, seperti kebahagiaan, sportivitas dan rasa ingin tahu. Dalam prakteknya naturalisme menolak pakaian seragam, standarisasi keterampilan dasar yang minimum dan sangat mendorong kebebasan anak dalam belajar.
Anak dibekali potensi bawaan (QS 16: 78) yaitu potensi indrawi (psikomotorik), IQ, EQ dan SQ. Semua manusia perlu mensyukuri pembekalan dari Allah swt, dengan mengaktualisasikannya menjadi kompetensi.
Pestalozzi (1827)
Dalam bukunya Emile ia sangat terkesan dengan back to nature. Ia mengintegrasikan kehidupan rumah, pendidikan vokasional dan pendidikan baca tulis. Pestalozzi yakin segala bentuk pendidikan adalah melalui panca indra dan melalui pengalamannya potensi untuk dikembangkan. Belajar yang terbaik adalah mengenai beberapa konsep dengan panca indra. Ibu adalah seorang pahlawan dalam dunia pendidikan yang dilakukannya sejak awal kehidupan anak.
Wilhelm Froebel (1852)
Froebel menciptakan ‘Kindergarten’ atau Taman Kanak-Kanak, oleh karena itu ia dijadikan sebagai ‘Bapak PAUD’. Pandangan Froebel terhadap pendidikan dikaitkan dengan hubungan individu, Tuhan dan alam. Ia menggunakan taman atau kebun milik anak di Blankenburg Jerman sebagai milik anak. Bermain merupakan metode pendidikan anak dalam ‘meniru’ kehidupan orang dewasa dengan wajar. Kurikulum PAUD dari Froebel meliputi:
– Seni dan keahlian dalam konstruksi, melalui permainan lilin dan tanah liat, balok-balok kayu, menggunting kertas, menganyam, melipat kertas, meronce dengan benang, menggambar dan menyulam.
– Menyanyi dan kegiatan permainan
– Bahasa dan aritmetika
Menurut Froebel guru bertanggung jawab dalam membimbing, mengarahkan agar anak menjadi kreatif dengan kurikulum terencana dan sistematis.
Guru adalah manajer kelas yang bertanggung jawab dalam merencanakan, mengorganisasikan, memotivasi, membimbing, mengawasi dan mengevaluasi proses ataupun hasil belajar. Tanpa program yang sistematis penyelenggaraan PAUD bisa membahayakan anak.
John Dewey (1952)
Teori Dewey tentang sekolah adalah ‘Progressivism’ yang lebih menekankan pada anak didik dan minatnya daripada mata pelajarannya sendiri. Muncullah Child Centre Curriculum dan Child Centered School. Progresivisme mempersiapkan anak masa kini dibanding masa depan yang belum jelas, seperti yang diungkapkan Dewey dalam bukunya My Pedagogical Creed bahwa pendidikan adalah proses dari kehidupan dan bukan persiapan masa yang akan datang. Aplikasi ide Dewey, anak-anak banyak berpartisipasi dalam kegiatan fisik, baru peminatan.

Montessori (1952)
Dia antropolog wanita Italy yang pertama yang berminat terhadap pendidikan anak terbelakang yang ternyata metodenya dapat digunakan paa anak normal. Tahun 1907 ia mendirikan sekolah ‘Dei Bambini’ atau rumah anak di daerah kumuh di Roma. Metode Montessori adalah pengembangan kecakapan indrawi untuk menguasai iptek untuk diorganisasikan dalam pikirannya, dengan menggunakan peralatan yang didesain khusus. Belajar membaca dan menulis diajarkan bersamaan. Montessori berpendapat anak usia 2- 6 tahun paling cepat untuk belajar membaca dan menulis. Kritik terhadap Montessori adalah karena kurang menekankan pada perkembangan bahasa dan sosial, kreativitas, musik, dan seni.
Menurutnya berpikir kreatif itu dikehendaki oleh Tuhan.

Miller Bersaudara
Rachel dan Margaret mendirikan sekolah anak yang pertama di London pada tahun 1911 yang mementingkan kreativitas dan bermain termasuk seni.

Jean Piaget (1980)
Menurut Piaget ada tiga cara anak mengetahui sesuatu:
Pertama, melalui interaksi sosial; kedua melalui interaksi dengan lingkungan dan pengetahuan fisik; ketiga logica mathematical melalui konstruksi mental.

Benyamin Bloom
Bloom mengamati kecerdasan anak dalam rentang waktu tertentu yang menghasilkan Taksonomi Bloom. Kecerdasan anak pada usia 15 tahun merupakan hasil dari pendidikan PAUD. Pendapat ini didukung oleh Hunt yang mengatakan bahwa PAUD memberi dampak pada pengembangan kecerdasan anak selanjutnya.

David Werkart (1989)
Metode pengajaran Werkart menggunakan prinsip-prinsip:
– Memberikan lingkungan yang nyaman
– Memberikan dukungan terhadap tingkah laku dan bahasa anak
– Membantu anak dalam menentukan pilihan dan keputusan
– Membantu anak dalam menyelesaikan masalahnya sendiri dengan melakukannya sendiri
Werkart mendirikan lembaga High Scoope Education

Anak usia dini meliputi usia 0- 6 tahun. Pada usia 0- 2 tahun pertumbuhan fisik jasmaniah dan pertumbuhan otak dilakukan melalui Pelayanan Terpadu aantara Departemen Kesehatan, Depsosial, BKKBN dan Depdiknas. Pada usia 2- 4 tahun layanan dilakukan melalui Penitipan Anak (TPA) atau Play Group dan pada usia 4-6 tahun layanan dilakukan melalui Taman Kanak-Kanak (TK-A dan TK-B).
Sdr. telah mempelajari materi/ bahasan di atas, coba Sdr. diskusikan beberapa hal di bawah ini!
1. Mengapa Pendidikan di Usia dini merupakan kunci utama keberhasilan belajar pada jenjang berikutnya?
2. Kemukakan pendapat tentang pendidikan dai beberapa tokoh berikut, lalu simpulkan:
Martin Luther, Pestalozzi, John Dewey, Miller Bersaudara, Bloom
3. Bagaimana pula peran Depdiknas dalam PAUD?

M O D U L 6
MULTIPLE INTELLIGENCE DAN PENERAPANNYA DI PAUD
Dra. Lilis Madyawati, M.Si

Kemampuan atau tujuan pembelajaran umum dari Modul 6 adalah agar mahasiswa dapat menjelaskan tentang Pengertian Multiple Intelligence dan cara memaksimalkannya.
Tujuan pembelajaran khusus yang harus mahasiswa kuasai setelah mempelajari Modul 6 ini adalah mahasiswa diharapkan dapat:
1. menjelaskan tentang pengertian komponen Multiple Intelligence
2. menjelaskan cara- cara memaksimalkan masing-masing kecerdasan
Agar mahasiswa dapat mempelajari modul ini dengan baik, ikutilah petunjuk belajar di bawah ini:
1. Bacalah dengan cermat setiap bagian modul, sehingga Anda dapat memahami setiap konsep yang disajikan.
2. Kaitkan konsep yang baru Anda pahami dengan konsep-konsep lain yang telah Anda peroleh.
3. Hubungkan konsep-konsep tersebut dengan pengalaman Anda dalam mengajar sehari-hari sehingga Anda dapat menangkap kegunaan konsep tersebut.

MULTIPLE INTELLIGENCE DAN PENERAPANNYA DI PAUD
Setiap anak cerdas dan unik. Hal ini harus benar-benar dipahami oleh orang tua dan pendidik. Walaupun seorang guru di prasekolah tidak dapat menggantikan peran orang tua sebagai penanggung jawab pendidikan anaknya, namun tugas guru di sekolah adalah melakukan hal-hal yang orang tua tidak dapat atau tidak sempat memberikannya di rumah, yaitu memberikan pendidikan anak sebaik mungkin, agar bisa tumbuh dan berkembang secara optimal.
Di Taman Bermain dan TK Pestalozzi Cibubur misalnya dalam kelas-kelas kecil dengan maksimum 12 anak, guru dapat melakukan pendekatan secara individual, karena anak itu tidak bisa dibandingkan dengan anak yang lain. Anak bisa berkembang secara lebih sempurna dengan mengacu pada kecerdasan yang dimilikinya dan setiap anak mempunyai ragam kecerdasan yang berbeda-beda.
Howard Gardner dengan teori Multiple Intelligence (MI) memberi kemungkinan kepada orang tua/ guru untuk dapat mengenali kecerdasan apa saja yang dimiliki masing-masing anak, agar bisa menerapkan cara yang tepat dan efektif untuk mengoptimalkan kecerdasan tersebut di sekolah, kemudian bisa dilanjutkan di rumah.
Apa itu Multiple Intelligence?
Menurut penelitian pakar pendidikan saat ini keberhasilan anak ditentukan oleh IQ hanya 20% saja, sedangkan 80% sisanya ditentukan oleh faktor-faktor eksternal lain. Jadi, sistem pendidikan lain yang lebih menekankan pada pengembangan belahan otak kiri/ unsur kognitif (logika, matematika, berpikir sistematis, dll) tanpa mengimbanginya dengan pengembangan belahan otak kanan (seni, musik, berpikir holistik, ketrampilan berbahasa, kreativitas, imajinasi, dll) tidaklah mencukupi malah bisa membuat anak stres.
Dengan teori MI nya Gardner menekankan, bahwa kecerdasan tidak hanya berupa kemampuan untuk menyelesaikan tugas-tugas di sekolah saja yang lebih banyak kaitannya dengan kemampuan verbal logis, melainkan kecerdasan itu adalah kumpulan kemampuan yang dimiliki seseorang untuk memahami informasi, mengumpulkan fakta dan menyampaikan pengetahuan yang didapatnya. Gardner membagi kecerdasan majemuk anak menjadi:
– Kecerdasan linguistik (kemampuan berbahasa dan merangkai kata, mendengar dan melihat kata-kata). Cara terbaik untuk mengasah ini adalah melakukan tanya jawab setiap selesai melakukan kegiatan, memperlihatkan gambar-gambar, mendengarkan kaset/ rekaman dan menciptakan kesempatan untuk latihan menulis dan mencoret-coret. Dalam bermain kenalkan anak dengan huruf dan angka. Bermain bisa dilakukan dengan peralatan sederhana, misalnya koran dan pensil. Mintalah anak melingkari huruf A, B…dan seterusnya pada kalimat yang ada di koran.Pemahaman anak terhadap huruf bisa kita stimulasi dengan permainan tebak kata, misalkan dengan menyebutkan benda-benda yang berawalan A, B, C, dan seterusnya. Selain itu kita juga bisa menanyakan huruf apa yang mengawali kata ‘ayam’, ‘bebek’, ‘cecak’, ‘domba’…dst, sambil menirukan suaranya atau gerakannya.
– Kecerdasan logis-matematis
Permainan yang penuh strategi dan eksperimen untuk anak usia 1- 5 tahun banyak dijual di pasaran, namun sebaiknya anak dikenalkan dengan benda-benda yang konkret/ nyata terlebih dahulu, sebelum ke benda-benda abstrak. Karena dengan benda-benda konkret anak bisa menyentuh, meraba dan memegangnya, kemudian menjadikannya bahan percobaan. Lakukan misalnya:
– Mengelompokkan benda-benda (2- 4 tahun)
– Mengenalkan lagu/ syair yang memakai bilangan (2- 4 tahun)
– Mengukur telapak kaki (3- 4 tahun)
– Konsep berat dengan batang kayu atau gantungan pakaian (3- 6 tahun)
Kaitkan tali pada pijakan kayu yang berada di atas, lalu ikatkan pada penggantung pakaian. Setelah itu kaitkan gelas plastik yang kosong di gantungan kiri dan kanan. Biarkan anak mengisi gelas kosong itu dengan benda-benda dan sebutkan mana yang lebih berat yang kiri atau kanan, hitung jumlahnya pada masing-masing gelas. Kemudian anak juga dapat disuruh membuat sendiri alat timbangan sederhana.
– Permainan dengan kalkulator (3- 6 tahun)
– Mengenalkan konsep bilangan ‘0’ (2- 4 tahun)
2. Kecerdasan visual-spasial
Kemampuan visual-spasial anak dapat distimulasi dengan penggunaan gambar, visualisasi dan permainan warna. Sediakan alat-alat yang diperlukan seperti krayon, pensil warna, cat air, kertas, atau gabus. Biarkan anak menggambar bebas untuk mengembangkan imajinasinya atau dengan mengikuti contoh gambar.
3. Kecerdasan Kinestetik/ Gerak Tubuh
Kecerdasan ini dapat distimulasi dengan menari, bermain peran, permainan dengan gerakan tangan, melompat, berlari, bermain drama, latihan-latihan olah tubuh seperti senam anak, renang, bermain tenis, sepak bola atau melakukan pantomim, dll. Anak yang cerdas kinestetiknya gerakannya lincah dan tubuhnya lentur, periang, menyukai musik dan disukai lingkungannya.
4. Kecerdasan musikal
Kecerdasan musik anak dapat dirangsang dan diasah sejak dini. Anak-anak diajarkan melalui irama dan melodi. Mulailah dengan syair yang pendek seperti ‘cicak..cicak’, berangsur-angsur ke ‘Balonku’, ‘Topi saya bundar’ lalu ke ‘ Kupu-kupu’
5. Kecerdasan Interpersonal
Anak-anak diajarkan berhubungan dan berinteraksi satu sama lain dan bekerjasama dalam kelompok-kelompok kecil. Mereka perlu diarahkan untuk berkomunikasi dengan orang lain dan guru dengan baik. Belajar menghargai pendapat teman dan mau mendengarkan orang lain berbicara dapat dilatih dengan permainan ‘Tongkat Berbicara’. Orang tua/ guru dapat memberikan tongkat yang telah dihias lucu dan diberikan kepada anak yang ingin menyampaikan cerita/ berbagi rasa, mengemukakan pendapat, sementara anak lain menunggu gilirannya dan mendengarkan.
6. Kecerdasan Intrapersonal
Dalam hal ini anak diarahkan untuk bekerja sendiri dan memilih kegiatan yang paling disukai dan mampu memahami dan mengenal dirinya sendiri. Untuk melatih kemampuan ini, kita dapat memberikan permainan-permainan dengan berbagai perasaan, misalnya menunjukkan perasaan sedih, gembira, kesal, kecewa, bahagia, dll. Sebelumnya kita harus menunjukkan dulu berbagai perasaan dan emosi tersebut di atas dan terangkanlah situasi-situasi yang menimbulkannya dan barulah anak memainkan peran sedang sedih, kesal, dll. Dalam hal ini anak harus dibantu dengan memberi tahu emosi apa yang dia sedang alami saat itu. Kegiatan seperti ini sangat memperkaya batin anak dan membantu anak memahami diri sendiri dulu dengan baik, sebelum dia memahami perasaan orang lain/guru atau temannya. \
Pada anak autistik, misalnya karena lebih banyak asyik dengan diri sendiri justru lebih banyak distimulasi kecerdasan interpersonalnya yaitu berinteraksi dengan teman/ guru atau dibuat tertarik dengan hal-hal yang di luar dirinya. Perangsangan emosi sangat penting bagi mereka untuk memperkaya emosinya yang terbatas dan untuk mengenali apa yang terjadi di dalam perasaan dan emosinya itu.
7. Kecerdasan Naturalis
Belajar dengan cara naturalis dapat dilaksanakan di alam terbuka, misalnya dengan kegiatan walking out di sekitar Taman Bermain/ Taman Anak-Anak. Hal ini baru dapat dilaksanakan bila lokasi sekolah terletak di perumahan yang aman, nyaman, asri, dekat danau dan bebas polusi, karena tidak dilewati kendaraan umum. Dalam melakukan jalan-jalan pagi ini anak diperkenalkan dengan alam sekitar, bisa sambil membawa kaca pembesar dan teropong, sehingga dapat mengeksplorasi dan meneliti. Di kelas dapat dilakukan tanya jawab tentang apa saja yang dilihat atau adakan permainan tebak kata tentang binatang dan tumbuh-tumbuhan yang terlihat di jalan atau membuat aquarium dengan berbagai jenis ikan dan tumbuhan laut atau mewarnai serangga seperti capung, kupu-kupu, lebah atau menggambar dan mencat gambar pelangi, pohon, daun, awan atau mengumpulkan seri perangko buah-buahan, dll.
8. Kecerdasan Moral
Pelatihan dapat dilakukan dengan membacakan cerita-cerita yang ada pesan moralnya. Ajarkan untuk selalu taat pada aturan permainan, jangan berbohong, jangan menipu, harus jujur dan mengetahui antara yang baik dan buruk, dll. Pesan moral dapat juga disampaikan dengan permainan boneka jari dan boneka tangan, membentuk cerita dengan peran ayah ibu, dll. Hal ini dapat juga dilakukan dengan media audio-visual, perlihatkan film CD atau DVD yang mengandung pesan moral dan ajaran etika melalui tokoh-tokoh kartun atau mendengarkan cerita melalui kaset.
Cerita yang dipilih harus disesuaikan dengan tema yang mau diajarkan dan usia anak.
Dengan mengetahui berbagai jenis permainan orang tua/ guru dapat mengaplikasikan ajaran Kecerdasan Majemuk (MI) dari Howard Gardner dalam keseharian anak. Semoga dapat membantu orang tua/ guru dalam mengoptimalkan potensi kecerdasan tertentu yang dimiliki anak.
Setelah Sdr. membaca dan memahami materi di atas, coba respon beberapa pertanyaan berikut serta mendiskusikannya di dalam kelompok belajar!
1. Mengapa PAUD hendaknya dikelola dengan pendekatan individual?
2. Kemukakan pengertian kecerdasan linguistik dan cara mengoptimalkannya yang pernah Sdr. lakukan!
3. Jelaskan cara Sdr. mengoptimalkan kecerdasan visual-spasial!
4. Bagaimana pemahaman Sdr.tentang Kecerdasan Interpersonal?
5. Bagaimana pemahaman Sdr. tentang Kecerdasan Moral dan cara menstimulasinya?
==
M O D U L 7
Naskah & Alat Peraga Cerita
Dra. Lilis Madyawati, M.Si

Kemampuan atau tujuan pembelajaran umum dari Modul 7 adalah agar mahasiswa dapat menjelaskan tentang pengertian bercerita, karakteristik buku cerita serta pokok-pokok tentang bercerita tanpa peraga..
Tujuan pembelajaran khusus yang harus mahasiswa kuasai setelah mempelajari Modul .. ini adalah mahasiswa diharapkan dapat:
1. mengembangkan pengertian bercerita
2.mengevaluasi buku cerita
Agar mahasiswa dapat mempelajari modul ini dengan baik, ikutilah petunjuk belajar di bawah ini:
1. Bacalah dengan cermat setiap bagian modul, sehingga Anda dapat memahami setiap konsep yang disajikan.
2. Kaitkan konsep yang baru Anda pahami dengan konsep-konsep lain yang telah Anda peroleh.
3. Hubungkan konsep-konsep tersebut dengan pengalaman Anda dalam mengajar sehari-hari sehingga Anda dapat menangkap kegunaan konsep tersebut.

PENDAHULUAN

Kegiatan yang paling disukai kanak-kanak selain bermain adalah bertutur dan mendengar cerita. Dari hikayat sang kancil dan buaya, legenda si Malin Kundang, kisah para Nabi dan Rasul, hingga sejarah kampong halaman atau asal-usul nenek moyang kita. Bercerita dan mendengar cerita memang merupakan sarana komunikasi dan pembelajaran yang efektif bagi kanak-kanak. Baik si penutur cerita maupun si pendengar dituntut kreatif, bagaimana mengolah kata-kata dan mengungkapkannya, serta mengalami dan merasakan peristiwa yang diluksikan terjadi. Di samping menghibur hati, cerita juga dapat membangkitkan semangat, memercikkan inspirasi dan membentuk karakter jiwa.
Ada satu tradisi menarik di kalangan orang Jerman yang masih dipertahankan hingga kini, yaitu bercerita kepada anak pada malam ulang tahunnya. Meskipun sangat lelah setelah seharian bekerja, sang ibu akan meluangkan waktunya bercerita kepada anak sebelum tidur. Sambil membuka album keluarga diceritakannya suasana menjelang kelahiran si anak, bagaimana saat masih di dalam kandungan ia bergerak seperti menendang-nendang dari dalam perut, bagaimana tangisan pertamanya ketika baru saja lahir ke dunia, apa yang menjadi kesukaaanya waktu masih kecil, dan seterusnya.
Menurut para ahli, banyak manfaat yang didapat dari menuturkan dan mendengar cerita. Diantaranya, bercerita bisa memacu anak gemar membaca, membina keakraban antara orangtua dan anak, melatih anak agar percaya diri dan tidak pemalu. Juga sebagai ajang peningkatan pengetahuan anak sekaligus melatih mereka berpikir divergen (mencari berbagai alternative solusi untuk satu masalah). Selain itu dengan bercerita orangtua juga dapat mewarnai anak-anak dengan karakter yang lebih baik dan membantu mereka menghadapi kehidupan di masa dating dengan lebih optimis dan bertanggung jawab. Namun sering timbul pertanyaan sejak usia berapa anak dibacakan dongeng, usia berapa anak dapat mengerti suatu dongeng, cerita jenis apa yang disukai oleh anak serta kapan si anak sebaiknya membaca sendiri buku kesukaan mereka.
Menurut Birgiit Flogel, bercerita dari pengalaman atau menceritakan kembali akan lebih berkesan daripada bercerita sambil membaca buku. Hal itu karena dengan bercerita semacam ini maka pembawa cerita dengan anak akan terasa lebih dekat (tanpa diganggu oleh konsentrasi pada buku) dan juga memberikan efek yang dalam kepada anak. Tapi yang penting diperhatikan ialah bagaimana menggunakan bahasa yang sederhana sesuai dengan usia anak. Selain itu pembawa cerita juga bisa langsung melihat reaksi anak sehingga pembawa cerita bisa langsung tahu apakah cerita yang dibawakannya perlu dipotong atau diuraikan lebih jauh. Pembawa cerita bisa langsung memahami alam pikiran anak, sehingga anak juga tidak akan segan untuk memotong cerita densgan pertanyaan.
Pada dasarnya anak pada semua umur senang mendengar cerita. Namun yang perlu diperhatikan oleh orang tua adalah jenis cerita apa yang akan diperdengarkan kepada anak sesuai usianya. Berikut penulis mencoba menguraikan lebih jauh cerita yang menarik bagi anak berdasarkan tingkatan umur anak berdasarkan pengalaman berpedoman pada pendapat Birgitt Flogel.
Pada usia antara 3 hingga 6 tahun anak dapat dirangsang mengembangkan daya imajinasinya dengan mendengarkan cerita. Para ahli percaya usia 3 hingga 4 tahun adalah masa penuh fantasi dan serba mungkin (magic). Karenanya masa ini ideal untuk mendengarkan dongeng yang agak panjang (fairi tale atau marchen). Dongeng yang diceritakan akan berbicara langsung dengan alam bawah sadar anak. Untuk menghidupkan lagi daya fantasi anak, bercerita bisa dibantu dengan buku bergambar atau dengan alat peraga seperti boneka dan lain sebagainya.Pada usia 3 hingga 6 tahun ini anak-anak mulai mengagumi dan suka membayangkan dirinya sendiri sebagai tokoh tertentu dalam dongeng yang diceritakan. Dipercaya bahwa dongeng-dongeng yang terdapat di seluruh dunia mempunyai alur cerita yang sama: tentang keberanian dan kepahlawanan melawan kejahatan, kesabaran dan kesungguhan akan membawa kesuksesan, dan sebagainya. Hampir semua dongeng-dongeng itu mempunyai karakter dan tipe –tipe tokoh yang mirip. Misalnya, selalu ada tokoh yang kuat dan lemah, baik dan jahat.

Usia 7 tahun membaca buku, majalah atau Komik Anak
Apabila anak menginjak usia 7 tahun, orang tua sebaiknya menggalakkan anak untuk membaca sendiri cerita-cerita dalam buku, komik anak atau majalah anak kesukaannya. Untuk acara bercerita bisa diteruskan dengan mengambil tema dari segala peristiwa atau kejadian harian yang dialami anak, misalnya kunjungan ke dokter gigi dan sebagainya atau meminta anak bercerita tentang buku yang sudah dibacanya. Topik lain yang juga menarik bagi anak usia dini adalah bercerita tentang idolanya, cita-citanya, kesukaannya, harapan-harapannya serta apa-apa yang dicemaskannya.
Anak usia sekolah juga lebih menyukai cerita tentang masa kecil orang tuanya atau neneknya. Biasanya mereka sangat menikmati cerita tentang masa sekolah mama atau papanya, tentang momen-momen yang tak dapat dilupakan. Anak juga sangat tertarik dengan cerita bagimana orang tuanya melalui masa-masa sedih maupun gembira. Dengan begitu anak akan mendapat perbandingan dan pelajaran jika si anak sendiri mengalami hal serupa. Dari sini orang tua dapat membagi pengalaman dengan anak, secara turun temurun dapat menanamkan budi pekerti dan nilai-nilai luhur kepada anak, menanamkan moral serta melatih anak berpikir rasional dan praktis dalam menyelesaikan masalah serta dalam mengambil keputusan.

Manfaat dan Kekuatan Dongeng pada Psikologi Anak
Kegiatan mendongeng sebetulnya bisa memikat dan mendatangkan banyak manfaat bukan hanya untuk anak-anak tetapi juga orang tua yang mendongeng untuk anaknya. Kegiatan ini dapat mempererat ikatan dan komunikasi yang terjalin antara orang tua dan anak. Para pakar menyatakan ada beberapa manfaat lain yang dapat digali dari kegiatan bercerita ini.
Pertama, anak dapat mengasah daya pikir dan imajinasinya. Hal yang belum tentu dapat terpenuhi bila anak hanya menonton dari televise. Anak dapat membentuk visualisasinya sendiri dari cerita yang didengarkan. Ia dapat membayangkan seperti apa tokoh-tokoh maupun situasi yang muncul dari dongeng tersebut. Lama kelamaan anak dapat melatih kreativitas dengan cara ini.
Kedua, cerita atau dongeng merupakan media yang efektif untuk menanamkan berbagai nilai dan etika kepada anak, bahkan untuk menumbuhkan rasa empati. Misalnya, nilai-nilai kejujuran, rendah hati, kesetiakawanan kerja keras maupun tentang berbagai kebiasaan sehari-hari seperti pentingnya makan sayur dan menggosok gigi. Anak juga diharapkan dapat lebih mudah menssyerap berbagai nilai dengan tidak bersikap memerintah atau menggurui, sebaliknya para tokoh cerita dalam dongeng tersebutlah yang diharapkan menjadi contoh atau teladan bagi anak.
Ketiga, cerita dapat menjadi langkah awal untuk menumbuhkan minat baca anak. Setelah tertarik pada berbagai dongeng yang diceritakan, anak diharapkan mulai menumbuhkan ketertarikannya pada buku. Diawali dengan buku-buku cerita yang kerap didengarnya, kemudian meluas pada buku-buku lain seperti buku pengetahuan, sains, agama, dan lain-lain.
Tidak ada batasan usia yang ketat mengenai kapan sebaiknya anak dapat mulai diberi cerita. Untuk anak-anak usia prasekolah, cerita dapat membantu mengembangkan kosa kata. Hanya saja cerita yang dipilihkan tentu saja yang sederhana dan kerap ditemui anak sehari-hari. Misalnya cerita tentang binatang; sedangkan untuk anak-anak usia sekolah dasar dapat dipilihkan cerita yang mengandung teladan, nilai dan pesan moral serta problem solving. Harapannya nilai dan pesan tersebut kemudian dapat diterapkan anak dalam kehidupan sehari-hari. Keberhasilan suatu cerita tidak saja ditentukan oleh daya rangsang imajinatifnya, tapi juga kesadaran dan kemampuan pendongeng untuk menyajikannya secara menarik. Untuk itu kita dapat menggunakan berbagai alat bantu seperti kartu gambar, gambar seri atau berbagai buku cerita sebagai sumber yang dapat dibaca oleh orang tua sebelum mendongeng.

Yang dapat dilakukan oleh Orang Tua
– Sebelum orang tua pulang, browsing cerita untuk si kecil, lalu jadikan ini bahan cerita yang diimprovisasi dengan imajinasi sendiri.
– Sebagai ‘pemula’ orang tua juga bisa mendengarkan cara ibu guru di prasekolah bercerita. Atau orang tua memiliki gaya bercerita tersendiri. Si kecil tak kan bisa mngalihkan perhatian jika cara bercerita seru!
– Inspirasi cerita bisa berasal dari pengalaman orang tua di masa kecil saat masih balita, kisah klasik yang telah dikenal sejak kecil atau film anak-anak.

Beberapa Syarat Bercerita
1. Sesuai dengan tingkat perkembangan dan lingkungan anak-anak, tempat dan keadaan.
2. Isi cerita harus bermutu pendidikan seperti nilai-nilai agama dan moral serta tujuan pengembangan bahasa anak-anak.
3. Bahasa harus sederhana dan mudah dimengerti anak-anak.
4. Pahami karakter tokoh dalam cerita serta menentukan intonasi suara masing-masing tokoh.
5. Pelajari suasana cerita untuk menciptakan tempo dan irama bercerita.
6. Tuturan sesuai perkembangan bahasa anak dan menarik dapat memotivasi anak mengikuti cerita sampai selesai.
7. Memperhatikan posisi guru dengan jumlah anak, sehingga guru dapat melakukan kontak mata dengan anak saat bercerita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s