BI FAI & BI FIKES

Normal
0

false
false
false

IN
X-NONE
X-NONE

MicrosoftInternetExplorer4

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;
mso-fareast-language:EN-US;}

MATERI I

                BAHASA INDONESIA YANG BAIK DAN BENAR

Bahasa Indonesia yang Baik

                adalah bahasa Indonesia yang pemakaiannya sesuai dngan situasi, kondi-si dan maksud pembicaraan. Dalam situasi resmi dipergunakan bahasa Indonesia ragam resmi dan sebaliknya. Contoh situasi resmi? Contoh situasi tidak resmi? Bahasa Indonesia ragam resmi?

 

2. Bahasa Indonesia yang Benar

                 adalah bahasa Indonesia yang pemakaiannya sesuai dengan kaidah tata bahasa yang baku

4 kemungkinan pemakaian bahasa Indonesia

Pemakaian bahasa Indonesia yang baik dan benar

                bahasa Indonesia baku digunakan dalam situasi formal. Misalnya: bahasa ragam baku dipakai di dalam penulisan karya ilmiah.

b.            Bahasa Indonesia yang baik tetapi tidak benar

                bahasa Indonesia yang tidak sesuai dengan kaidah tata bahasa tetapi sesuai dengan situasi pemakaiannya dan sangat komunikatif. Misalnya: bahasa ragam informal yang dipergunakan pada situasi santai.

c.             Pemakaian bahasa Indonesia yang benar tetapi tidak baik. Terjadi pada pemakaian bahasa yang sesuai dengan kaidah, namun tidak komunikatif.

                Misalnya bahasa Indonesia ragam baku yang dipakai pada saat                 berpacaran/ situasi santai lain.
d.            Pemakaian bahasa Indonesia yang tidak baik dan tidak benar.
                Terjadi pada pemakaian bahasa Indonesia ragam santai yang     situasi pemakaiannya tidak cocok.  Misalnya: bahasa santai    dipakai di dalam penulisan karya ilmiah.

CIRI- CIRI BAHASA INDONESIA RAGAM BAKU

Penggunaan imbuhan secara eksplisit dan konsisten

                Contoh: Ia ngajak saya jalan- jalan di sore hari (TB)

                                          Ia mengajak saya berjalan-jalan di sore hari (B)

Penggunaan kata tugas secara eksplisit dan konsisten

                Contoh: Ia tidak jadi datang, sakit (TB)

                                          Ia tidak jadi datang, karena sakit (B)            

3. Penggunaan kata tugas sesuai dengan fungsinya
                Contoh: Para calon mahasiswa baru diwajibkan mengikuti
                                Semaba (B)
                                Kepada calon mahasiswa baru diwajibkan mengikuti
                                Semaba. (TB)

4. Penggunaan struktur logika yang tidak benar

                Mobilnya rusak dalam perjalanan antara Magelang menuju Ban-

                dung. (TB)

5. Penggunaan bentuk gramatikal yang tidak benar

                Para hadirin dipersilakan duduk. (TB)

                Pemberantasan kemungkaran adalah merupakan tugas kita ber

                sama. (TB)

6. Menghindari  pemendekan bentuk kata maupun bentuk kalimat.

a. Pemendekan bentuk kata: gimana

                                  tapi

                                         gitu

                                         udah

                                         aja

b. Pemendekan bentuk kalimat:

    Engkau akan pergi ke mana ? (B)           TB?

    Saya akan pergi ke Wonosari. (B)          TB?

 

7. Menghindari lafal yang berbau kedaerahan

                Dialek Jakarta: dong, deh, sih, kek, lu, gue, ngacir

                Bahasa Jawa: lo, lawong, to, je

                Bahasa Sunda: mah, teh, atuh

 

                               

Contoh lafal yang berbau daerah/ dialek:
Dialek Jakarta: ape, kemane, aje, berape, siape
Bahasa Jawa: mBandung, mBogor, mBali, nDemak, ngGombong

8. Penggunaan kata sapaan formal Bapak, Ibu, Saudara, Anda dan penghin-

    daran pemakaian kata sapaan informal sini, situ, sana.

    Contoh: Saya setuju, bagaimana Anda? (B)

                                     Sini setuju, gimana situ (TB)

                                     Saya setuju, Saudara juga setuju, tetapi dia tidak. (B)

                                     Sini setuju, situ juga, tapi sana nggak. (TB)

 

9. Penggunaan pola urutan

                TB: Buku itu ku akan ambil.

                       Buku itu kau akan ambil.

                       Buku itu saya akan ambil.

                       Buku itu kami akan ambil.

                B?                          

               


10. Penggunaan bentuk terpadu bukan bentuk analitik/ terbagi

Contoh:

TB: membikin susah

                  membikin tentram

 

BAHASA INDONESIA RAGAM ILMIAH

Adalah bahasa Indonesia yang dipakai untuk kepentingan penulisan tulisan yang sifatnya ilmiah. Suatu tulisan dikatakan ilmiah bila memenuhi kriteria:

Bahasa Indonesia yang dipergunakan bahasa Indonesia ragam baku.

Penggunaan kalimat efektif yang bercirikan:

                a. Bentuk gramatikal singkat namun memuat pesan yang padat

                b. Menghindari bentuk redundan/ berlebih.

                    Kdua orang itu saling pukul- memukul. (TE)

 

Banyak warung-warung bermunculan di sekitar kampus. (TE)

E?
Ayahnya adalah merupakan orang terpandang di daerahnya. (TE)
E?

                Adanya kesepadanan antara struktur gramatik dengan alur pikir.

                Contoh: Tamara mengambil kertas, lalu ditulisnya surat. (TE)

                                       E?

3. Menghindari bentuk bahasa yang bermakna ambigu

                Contoh: Isteri jendral yang gemuk itu cantik sekali.

                                      Maknanya?

4. Penggunaan kata dan istilah yang bermakna kias

                Contoh: Sifat kedua orang itu seperti bumi dengan langit. (kias)

                                      seharusnya?               

 

5. Menghindari pennjolan persona
                Contoh: Masalah permodalan dapat dilihat pada halaman 16. (PP)
                                 Masalah permodalan tertera di halaman 16.

LATIHAN

Tulislah masing-masing 2 buah contoh pemakaian bahasa Indonesia yang:

Baik dan benar;

Baik tetapi tidak benar;

Benar tetapi tidak baik; dan

Tidak benar dan tidak baik.

                                                PARAGRAF DAN PENALARAN

                                Sebagai anggota masyarakat, manusia membutuhkan tngkat kehidupan yang lebih baik. Kehidupan di sini menyangkut berbagai aspek, seperti ekonomi, kesehatan, dan keamanan. Ketiga hal tersebut merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi oleh setiap manusia agar dapat hidup sejahtea. Apabila salah satu syarat tersebut tidak terpenuhi, kesejahteraan hidup manusia akan terganggu.

 

Paragraf di atas dibangun oleh …. Kalimat.

Kalimat pertama sebagai…….. yang berisi ……yaitu……..

Kalimat kedua dan seterusnya sebagai ……

Hubungan timbal balik antara kalimat-kalimat tersebut dtunjukkan oleh

                penggunaan kata atau kelompok kata….

KERANCUAN DAN KESALAHAN BAHASA

                Kerancuan disebut juga kontaminasi. Kata ‘ rancu berarti kacau. Jadi kerancuan bahasa diartikan sebagai kekacauan dalam berbahasa.

 

Kerancuan bahasa

                Kerancuan bahasa adalah kekacauan dalam penggunaan bahasa. Dapat trjadi dalam pembentukan kata, kelompok kata maupun kalimat. Kerancuan terjadi akibat menyatunya dua bentuk yang berlainan ke dalam satu rangkaian yang tidak berpasangan.

                Macamnya:

                a. Kerancuan bentukan kata

                   ialah kacau dalam membentuk kata. Misalnya ‘ dipelajarkan’ dan

                   ‘ diperlebarkan’ dalam kalimat:

                   1) Di kelas kami akan dipelajarkan berbagai keterampilan hidup.

 

2. Jalan menuju kampus kami akan diperlebarkan.
    bentuk ‘ dipelajarkan’ rancu terjadi dari ‘ dipelajari’ dan ‘
    diajarkan’
    bentuk’ diperlebarkan’ rancu terjadi dari ‘ diperlebar’
    dan ‘ dilebarkan’ yang keduanya sangat berbeda makna-
    nya.  

Contoh lain:

Para mahasiswa telah berulang kali diberi tahu.

‘berulang kali’ terbentuk dari….

Memperbaikinya: kembalikan pada dua bentuk asli yang benar strukturnya.

Menjadi: …… atau ……

 

2. Kerancuan Susunan Kata

                Kerancuan susunan kata merupakan kekacauan dalam penyusunan kata. Terjadi karena penggabungan dua kelompok kata yang berbeda menjadi susunan kata baru yang rancu.

Misalnya: ‘ menundukkan badan’ atau ‘ jangan boleh’
Pada kalimat::
1. Hadirin menundukkan badan untuk menghormati tamu.
2. Mereka jangan boleh masuk lebih dahulu.

Kelompok kata ‘ menundukkan badan’ terbentuk dari dua kelompok kata ‘ menundukkan kepala’ dan membungkukkan badan’. Dengan demikian kalimat tersebu seharusnya:

Hadirin menundukkan kepala untuk menghormati tamu.           Atau

Hadirin membungkukkan badan untuk mengormati tamu.

 

‘jangan boleh’ merupakan bentuk rancu dari ‘tidak boleh’ dan jangan biarkan’

 

c. Kerancuan Kalimat

Diartikan kacau dalam menyusun kalimat. Contoh kalimat yang rancu:

Di Fakultas Ekonomi akan mengadakan perlombaan menulis artikel.

Dalam bisnis tidak mengenal semboyan ‘ pelan-pelan asal tercapai.

                Bagaimana seharusnya? Kembalikan pada dua kalimat asal yang benar strukturnya.

Di Fakultas Ekonomi akan diadakan perlombaan menulis artikel.

                atau

                Fakultas Ekonomi akan mengadakan perlombaan menulis artikel.

2. Dalam bisnis tidak dikenal semboyan ‘ pelan-pelan

    asal tercapai’

    atau

    Bisnis tidak mengenal semboyan ‘pelan-pelan asal tercapai’.

Contoh lain:
Dia bukan mahasiswa semester I, tetapi mahasiswa semester V.
Seharusnya:

LATIHAN

                Susunlah kalimat-kalimat berikut menjadi sebuah paragraf yang kohesif dan tunjukkan kalimat utamanya!

Cara hubungan seperti itu tidaklah sesuai dengan harkat dan martabat manusia.

Sebaliknya, yang akan terjadi adalah hubungan yang sewenang-

                wenang, yang kuat menindas yang lemah dan yang kaya meng-

                eksploitasi yang miskin.

PENULISAN KARYA ILMIAH

                Karya ilmiah disebut pula tulisan ilmiah / karangan ilmiah yaitu tulisan yg berisi permasalahan yg diungkapkan dg metode ilmiah serta disusun secara sistematis logis.

 

                Contoh tulisan ilmiah: laporan penelitian, skripsi, tesis, disertasi, makalah, buku pelajaran/ buku teks, dll.

 

                a. Makalah

                    Makalah dsbt pula paper yg ditindaklanjuti  dg keg seminar, lokakar

                    ya, diskusi ilmiah, dsb. Makalah yg dibuat mhs merupk jenis tugas

         tertulis pd suatu mata kuliah ttt.

 

                b. Skripsi

                    Karya ilmiah ini merpk bag dr persyaratan akademis yg hrs ditemp

                    oleh mhs strata 1 (S1) yg akan menempuh uj akhir.

                Skripsi berisi hsl penelitian yg diolah, dibahas, dan diberikan komentar, simpulan dan saran sesuai dengan tuj penulisan skripsi. Penulisan skripsi oleh mhs dibimbing oleh dua orang dosen pembimbing sesuai dg bidangnya.

KOMPONEN- KOMPONEN SKRIPSI

Bagian Awal:

                – Halaman sampul/ judul

                – halaman pengesahan

                – Kata Pengantar

                – Daftar Isi

                – Daftar Tabel (jika ada)

                – Daftar Gambar (jika ada)

                – Abstrak

2. Bagian Pokok/ Utama:

                – Pendahuluan (latar belakang dan permasalahan)

 

TEKNIK PENGETIKAN

Penggunaan Huruf

                – Naskah ditik dengan huruf picca/ huruf standar

                – menggunakan pita/ tinta berwarna hitam

                – Lambang/ simbol/ notasi (jika tidak dapat ditulis dg komputer) ditu

                  lis tangan dengan tinta hitam.

b. Jarak Pengetikan (Spasi)

                – jarak antar baris dua spasi

                – pada abstrak pengetikannya spasi tunggal/ satu spasi serta tidak

                  boleh lebih dari satu halaman

                – kutipan langsung yang lebih dari empat baris diketik dengan jarak

                  satu spasi.

                – penulisan antar sumber dalam Daftar pustaka ditik dengan jarak

                  dua spasi

BATAS TEPI PENGETIKAN

Batas tepi pengetikan sbb:

Tepi atas            : 4 cm

Tepi bawah       : 3 cm

Tepi kiri              : 4 cm

Tepi kanan        : 3 cm

 

PENULISAN ANGKA

Angka lambang bilangan mengikuti ketentuan:

Semua bilangan ditulis dengan angka, kecuali bilangan satu sampai

                sembilan, bil yang berada pd awal kalimat, bilangan yg dapat dituliskan dengan satu atau dua kata.

                Misalnya:

     – Ia mengasuh 128 anak yatim

     – Lastri membeli lima buah kamus.

     Tiga orang pengusaha ekonomi lemah memperoleh bantuan.          

Kerangka teoritik dan pengajuan hipotesis
– Metode Penelitian
– Hasil penelitian, pengujian hipotesis, dan pembahasan
– Simpulan, implikasi, dan saran

3. Bagian Akhir

                – Daftar Pustaka

                – Lampiran

 

TEKNIK PENULISAN KARYA ILMIAH

 

Penggunaan Kertas

                – kertas HVS, berwarna putih, berat 70/ 80 gr

                – ukuran kertas kuarto

                – naskah ditulis pada satu sisi kertas

                – untuk gambar/ grafik ukuran besar penempatannya dapat

                  dilipat sesuai dengan ukuran kertas naskah

                – untuk menyatakan desimal digunakan tanda koma

Satuan ukuran ditulis sesuai dengan singkatan resminya, mis. Gr,

                cm.

Penulisan angka ribuan, jutaan, dan seterusnya yang menyatakan jum-

                lah menggunakan tanda titik setiap tiga angka dari belakang. Apabila

                menyatakan urutan, tanda titik tersebut tidak digunakan.

                Misalnya: Tabungannya berjumlah Rp 18.528.000,00.

                                              Dia calon haji kota Magelang nomor 1528.

 

                                                                PENULISAN NAMA

Nama pengarang baik dalam naskah maupun dalam Daftar Pustaka

mengikuti ketentuan sbb.:

Nama pengarang yang diacu dalam naskah hanya ditulis nama

                pokoknya. Mis. Jika nama pengarang Agus Susanto, yang

                ditulis dalam naskah hanya Susanto.     

Pada penulisan Daftar Pustaka, nama pengarang yang terdiri dari dua
 penggal nama atau lebih yang dituliskan pertama kali hanya nama po-
 koknya nama belakang . Di antara nama pokok dan nama depan diper-
 gunakan tanda koma.

Misalnya: nama pengarang ‘Agus Susanto’ penulisannya dalam Daftar

Pustaka menjadi Susanto, Agus.

 

Pengarang buku yang terdiri dari dua orang, kedua nama orang ditulis

                secara lengkap.

Pengarang sebuah buku yang terdiri dari tiga orang atau lebih,

                yang dicantumkan hanya nama pengarang pertama dan

                diikuti singkatan ‘dkk’.

Gelar kesarjanaan dan pangkat/ jabatan akademis tidak

                boleh dicantumkan dalam karya ilmiah.

SISTEM PENOMORAN

Penomoran halaman baru awal bab

                Nomor halaman menggunakan angka biasa dan diletakkan simetris di bagian tengah bawah (bila di bag. Atas tertera judul bab)

 

Penomoran halaman lanjutan

                Nomor halaman diletakkan pada bagian sudut kanan atas.

 

Penomoran halaman pelengkap (hal. Judul, hal kata pengantar, hal daftar isi, dsb menggunakan angka romawi kecil (i, ii, iii, dst) yang diletakkan di bag tengah .

 

Penulisan Daftar Pustaka tidak diperbolehkan menggunakan nomor.

Penomoran digunakan dalam penulisan Daftar Isi.

Penulisan bab, subbab dan anak subbab diikuti nomor halaman yang dituliskan di tepi sebelah kanan .

 

                                                                                DAFTAR ISI

                                                                                                                                Halaman

KATA PENGANTAR………………………………………………………….             iii

DAFTAR ISI………………………………………………………………………            iv

BAB I UANG, BANK DAN LEMBAGA KEUANGAN……………….              1 

                    A. Arti dan Fungsi Uang……………………………………………..             2

                        1. Pengertian uang………………………………………………..              3

 

PENULISAN SUMBER REFERENSI

                Sumber bacaan yang diacu dituliskan pada akhir kutipan di antara tanda kurung. Hal yang dituliskan: nama pokok pengarang/ penulis buku, tahun penerbitan dan nomor halaman.                          

Contoh:

Surat adalah satu sarana untuk menyampaikan pernyataan atau informasi secara tertulis. (Bratawijaya, 2011: 9).

 

Apabila nama pengarang telah disebutkan lebih dahulu, sumber yang dituliskan di antara tanda kurung hanyalah tahun penerbitan dan nomor halaman yang diacu. Contoh:

                Menurut Bratawijaya (2011: 9) surat adalah satu sarana untuk menyampaikan pernyataan atau informasi secara tertulis.

 

Karena kurang praktis dan efisien, penggunaan catatan kaki/ footnote tidak perlu dipakai.

 

PENULISAN DAFTAR PUSTAKA

                Penulisan daftar pustaka mengikuti ketentuan sbb.:

Nama pengarang, tahun terbit, judul buku, kota terbit, penerbit.

Di antara satuan tersebut digunakan tanda ‘titik’ kecuali di antara kota terbit dan nama penerbit dipakai tanda ‘ titik dua’. Setiap awal kata pada nama buku ditulis dengan huruf kapital.

Judul buku dicetak miring.

Contoh:

Bratawijaya, Wiyasa. 2011. Surat Bisnis. Jakarta: PT Gramedia.

 

Jika merujuk internet

 

 

Penulisan daftar pustaka diurutkan secara alfabetis. Nomor urut tidak boleh dipergunakan dalam penulisan daftar pustaka.

 

 

                d. Penulisan Angka
                    
1) Semua bil. ditulis dengan angka, kec.
                         bil. satu sampai sembilan, bil, yang
                         berada pd awal kalimat, dan bil,                              yang dapat dituliskan dengan satu/                                        dua kata.
                         Misalnya:
                         Tiga orang nelayan memperoleh
                            bantuan.
                         – Dia meminjam uang dua juta                                          rupiah.

                     2) Untuk menyatakan desimal dipergu-
                          nakan tanda koma (bukan titik).

                     3) Satuan ukuran ditulis sesuai dengan
                          singkatan resmi: gr (gram), cm                                       

                4) Penulisan angka ribuan, jutaan yang menya-
                    takan jumlah menggunakan tanda titik setiap
                    tiga angka dari belakang; (jika menyatakan
                    urutan tanda titik tidak digunakan)
                    Contoh:
                    – Kreditnya di BRI mencapai Rp 18.534.500,00.
                     – Parto adalah calon haji kota Magelang nomor 1258.

          e. Penulisan Nama
               
Nama pengarang dalam isi tulisan/ daftar pus-
            taka menggunakan ketentuan sbb.:
                1). Nama pengarang dalam isi tulisan hanya di-
                      tulis nama belakang saja. Contoh: Philip
                      Kotler, ditulis Kotler.

               

   2) Pada penulisan daftar pustaka, misalnya: Philip Kot-
        ler maka ditulis Kotler, Philip.
   3) Pengarang buku yang terdiri dari dua orang,kedua
        nama pengarang ditulis secara lengkap.
   4) Pengarang sebuah buku yang terdiri dari tiga orang
        atau lebih, yang dicantumkan hanya nama penga-
       rang pertama dan diikuti singkatan “dkk.”
    5) Gelar kesarjanaan/ pangkat apapun tidak boleh
       dicantumkan dalam karya ilmiah, cukup ditulis nama
       saja       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s