LAP PENELT WAY KARDUS

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Perkembangan bahasa yang berawal dari Word Acquisition pada usia bawah lima tahun (balita) akan berkembang sangat aktif dan pesat. Kesulitan bahasa pada periode ini dapat menimbulkan berbagai masalah dalam proses belajar di sekolah. Anak yang mengalami keterlambatan bicara dan bahasa beresiko mengalami kesulitan belajar dan kesulitan membaca serta akan menyebabkan pencapaian akademik yang kurang secara menyeluruh. Hal ini dapat berlanjut sampai usia dewasa muda serta mengalami masalah perilaku dan penyesuaian psikososial.
Word Acquisition dapat dipakai sebagai indikator perkembangan anak secara keseluruhan termasuk kemampuan kognisi. Hasil studi longitudinal menunjukkan bahwa word acquisition berkaitan dengan inteligensi dan membaca di kemudian hari. Word acquisition dapat dikembangkan melalui bercerita.
Mendongengkan cerita diharapkan menjadi ritual penting bagi anak. Manfaatnya sangat banyak terutama pengembangan otak dan kemampuan berbahasa anak, dan dengan menyerap suara dan bahasa yang orang dewasa keluarkan saat bercerita membantu anak belajar ketrampilan keaksaraan dengan cara yang menyenangkan, menenangkan kala anak menangis dan menghilangkan stres anak dari orang tua, meningkatkan kecerdasan anak, dll. Apalagi bila cerita disampaikan kepada anak secara nyaman, santai,penuh dramatisasi adegan yang menyenangkan. Agar dapat banyak memikat atensi anak sebuah cerita dapat disampaikan lewat media wayang kardus.. Jika terbiasa menyimak cerita dari wayang kardus, anak akan menganggap wayang kardus sebagai teman menyenangkan seperti mainan lainnya, bahkan bernilai budaya.
Dari lomba-lomba bercerita baik guru maupun anak menunjukkan bahwa penguasaan anak terhadap pengembangan kemampuan dasar berbahasa melalui bercerita masih relatif rendah. Kenyataan ini mungkin disebabkan anak hanya cenderung diajar bercerita tanpa disertai dengan pemahaman yang maksimal akan pesan yang terkandung di dalam cerita. Pada kenyataannya hasil pengembangan kemampuan dasar pemerolehan kata pada anak baik di tingkat kota maupun kabupaten Magelang masih belum memuaskan, masih cukup banyak anak memperoleh hasil belajar kosa kata di bawah standar keberhasilan belajar minimal yang telah ditetapkan. Dari hasil-hasil evaluasi harian terakhir yang dilaksanakan diperoleh data dari 34 anak terdapat 30 anak hasil belajar pemerolehan suku katanya minimal, di bawah standar kemampuan pengembangan berbahasa.
Dari kenyataan di atas terlihat masih banyak anak yang tidak mampu mengembangkan kemampuan dasar pemerolehan kata. Permasalahan ini yang mendasari munculnya gagasan untuk menekankan pada pengembangan kemampuan word acquisition melalui bercerita dengan menggunakan wayang kardus. Berkenaan dengan pengembangan pemerolehan word acquisition melalui bercerita dengan menggunakan wayang kardus usia 3-4 tahun ditandai oleh kemampuan sebagai berikut: (Depdiknas, 2010).
1. Mampu mengenal, memahami, dan menggunakan kosa kata baru.
2. Memiliki berbagai perbendaharaan kata kerja.
3. Menunjukkan pengertian dan pemahaman tentang sesuatu.
4. Mampu mengungkapkan pikiran, perasaan dan tindakan dengan menggunakan kalimat sederhana.
Dengan demikian pengembangan kemampuan word acquisition melalui bercerita dengan menggunakan wayang kardus dapat mengembangkan beberapa aspek fisik maupun psikologis bagi anak taman kanak-kanak sesuai dengan tahap perkembangannya. Salah satu pengembangan kemampuan dasar pemerolehan kosa kata yang akan dikembangkan di taman kanak-kanak di kabupaten dan kota Magelang adalah metode bercerita dengan menggunakan wayang kardus. Sebab pada umumnya guru jarang bercerita dan hanya bercerita ala kadarnya, tanya jawab dan meminta anak bercerita sesuai dengan bahasa yang ia kuasai sendiri. Bertolak dari uraian di atas maka akan dilakukan penelitian dengan judul:” Mengoptimalkan Word Acquisition Pada Anak Melalui Bercerita Menggunakan Wayang Kardus”.

B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian sebagai berikut:
1. Apakah bercerita menggunakan wayang kardus dapat mengoptimalkan Word Acquisition Pada Anak?
2. Bagaimanakah aktivitas belajar anak-anak taman kanak-kanak di kota dan kabupaten Magelang pada saat menyimak cerita menggunakan wayang kardus pada kompetensi dasar pemerolehan kata?

C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui peningkatan Word Acquisition Pada Anak taman kanak-kanak di kota Magelang dan kabupaten Magelang setelah menyimak cerita menggunakan wayang kardus.
2. Untuk mengetahui aktivitas belajar anak ketika menyimak cerita menggunakan wayang kardus pada kompetensi dasar pemerolehan kosa kata anak.

D. Manfaat Penelitian
Dengan tercapainya tujuan penelitian di atas, maka manfaat yang diharapkan sebagai berikut:
1. Menambah wawasan bagi guru mengenai pengembangan pemerolehan kosa kata pada anak melalui bercerita menggunakan wayang kardus, sehingga dapat memperbaiki mutu berbahasa anak.
2. Mengembangkan hasil belajar anak khususnya pada kompetensi dasar pemerolehan kata pada anak.
3. Hasil penelitian ini dapat memberi sumbangan yang baik bagi taman kanak-kanak di kota Magelang maupun di kabupaten Magelang dalam rangka perbaikan kualitas pengembangan kemampuan dasar berbahasa.
—-

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Bercerita Menggunakan Wayang Kardus
1. Pengertian Bercerita
Bercerita yang biasa disebut mendongeng merupakan seni atau teknik budaya kuno untuk menyampaikan suatu peristiwa yang dianggap penting melalui kata-kata, imaji dan suara-suara (Ismoerdijahwati, 2007). Dongeng atau cerita telah ada dalam banyak kebudayaan dan daerah sebagai hiburan, pendidikan, pelestarian kebudayaan dan menyimpan pengetahuan serta nilai-nilai moral. Bercerita adalah suatu kegiatan yang dilakukan seseorang secara lisan kepada orang lain dengan alat peraga atau tanpa alat tentang apa yang harus disampaikan dalam bentuk pesan, informasi, atau hanya sebuah dongeng untuk diperdengarkan dengan rasa menyenangkan. Oleh karena itu orang yang menyajikan cerita tersebut harus menyampaikannya dengan menarik (Dhieni, et.all, 2006).
Cerita anak dapat didefinisikan tuturan lisan, karya bentuk tulis atau tentang suatu kejadian, peristiwa dan sebagainya yang terjadi di seputar dunia anak (Musfiroh, et.al, 2005). Bercerita merupakan cara bertutur kata dalam penyampaian cerita atau memberikan penjelasan kepada anak secara lisan dalam upaya memperkenalkan atau memberikan keterangan hal baru kepada anak.

2. Cerita yang Sesuai dengan Perkembangan Anak
Kegiatan bercerita memberikan nilai pembelajaran yang banyak bagi proses belajar dan perkembangan anak serta dapat menumbuhkan minat dan kegemaran membaca. Jensen (2010) membacakan cerita dengan nyaring kepada anak secara substansial dapat berkontribusi terhadap pengetahuan cerita anak dan kesadarannya tentang membaca. Di samping dapat menciptakan suasana menyenangkan, bercerita dapat mengundang dan merangsang proses kognisi, khususnya aktivitas berimajinasi, dapat mengembangkan kesiapan dasar bagi perkembangan bahasa dan literacy, dapat menjadi sarang untuk belajar serta dapat berfungsi untuk membangun hubungan yang akrab. Cerita bagi anak-anak harus sesuai dengan tahap perkembangan anak. Dhieni (2005), isi cerita hendaknya sesuai dengan tingkatan pikiran dan pengalaman anak. Bercerita sesuai dengan perkembangan anak dalam konsep Development Appropriate Practice (DAP) dari The National Association for the Education of Young Children (NAEYC) yaitu bercerita sesuai dengan pedoman pendidikan anak (Musfiroh, et al, 2006), cerita yang dimaksud mengandung beberapa persyaratan yang perlu dipenuhi oleh para pendidik, yakni:
a. Memahami pengertian dan permasalahan seputar cerita dan bercerita. Pendidik perlu memastikan apa pengertian bercerita, apa perbedaannya dengan mendongeng, bagaimana konsep penyajian bercerita yang mendukung perkembangan anak dalam berbagai aspeknya.
b. Memahami asumsi dasar anggapan perkembangan anak. Pendidik perlu menyadari bahwa anak berkembang menurut fase-fase tertentu. Anak usia 4-7 tahun berada pada fase praoperasional dengan ciri perkembangan yang berbeda dengan anak-anak di atas usia itu.
c. Memahami konsep sesuai perkembangan dalam pedoman praktek pembelajaran atau Development Appropriate Practic (DAP).
d. Memahami konsep belajar dan mengajar.
e. Memahami domain dan teori perkembangan bahasa yang dianut.
f. Memahami arti dan tugas perkembangan anak.

3. Bentuk-Bentuk Metode Bercerita Untuk Anak
Metode bercerita dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu:
a. Bercerita tanpa alat peraga
Metode bercerita ini tanpa menggunakan alat peraga sebagai media bercerita dan guru harus memperhatikan ekspresi wajah, gerak-gerak tubuh dan suara guru harus dapat membantu fantasi anak untuk mengkhayalkan hal-hal yang diceritakan guru.
b. Bercerita dengan alat peraga
Metode bercerita ini menggunakan alat peraga sebagai media penjelas dari cerita yang didengarkan anak, sehingga imajinasi anak terhadap suatu cerita tidak terlalu menyimpang dari apa yang dimaksudkan oleh guru. Alat peraga dapat berupa:
1) Alat peraga tak langsung, yaitu menggunakan benda-benda yang bukan alat sebenarnya.
• Bercerita dengan benda tiruan, misalnya binatang tiruan, buah-buahan tiruan, sayuran tiruan yang mempunyai proporsi bentuk dan warna yang sesuai dengan aslinya.
• Bercerita dengan menggunakan gambar-gambar, misalnya: gambar lepas, gambar dari buku, gambar seri yang melukiskan jalannya cerita.
• Bercerita dengan menggunakan papan flanel untuk menempelkan potongan-potongan gambar yang akan disajikan dalam cerita.
• Membacakan cerita
Buku cerita dapat dipergunakan agar minat anak terhadap buku semakin bertambah.
• Sandiwara boneka
Menggunakan berbagai macam boneka yang akan dipentaskan dalam suatu cerita.
2) Alat peraga langsung, yaitu menggunakan benda asli atau benda sebenarnya (misalnya: kelinci, kembang, piring) agar anak dapat memahami isi cerita dan dapat melihat langsung ciri serta kegunaan dari alat tersebut.

4. Metode Bercerita dengan Wayang Kardus
Segala ide, gagasan maupun pesan dapat diberikan kepada anak melalui sebuah pembelajaran. Agar pembelajaran menarik, seni pertunjukkan merupakan salah satu alternatif pilihan. Media pembelajaran ini semula bertujuan memanfaatkan barang-barang bekas yang dikemas sedemikian rupa berbentuk wayang yang dikehendaki sebagai media ekspresi yang dapat bergerak.
Alat dan Bahan Pembuatan Wayang Kardus
– Kardus bekas
– Pensil
– Lem/ perekat lain
– Bambu kecil ukuran secukupnya
– Gunting
– Krayon/ pensil warna
– Plastik pres/ laminating
Prosedur Pembuatan Wayang Kardus
– Menyiapkan alat dan bahan
– Membuat pola/ sketsa gambar yang dikehendaki
– Pola yang telah disiapkan diletakkan di atas kardus yang akan dibuat
– Menggambar pola di atas kardus yang akan dibuat
– Gambar tersebut diwarnai mencolok dan menarik
– Setelah gambar diwarnai, lalu digunting
– Gambar yang telah diwarnai dengan menarik kemudian di pres plastik/ dilaminating
– Tidak lupa diberi tangkai/ gagang dari bambu secukupnya
– Siap untuk dimainkan.
Prosedur Bercerita
Karena wayang kardus sebagai media seni pertunjukkan tradisional yang sangat layak dikonsumsi anak-anak, maka dibutuhkan beberapa alat pendukung agar pertunjukkan ini menjadi lebih menarik. Alat yang dimaksud meliputi: bonggol/ batang pohon pisang (sekurang-kurangnya 90 cm), beberapa background menarik sebagai seting cerita dapat dibuat dari gabus, musik tradisional digunakan untuk backsound, misalnya gamelan, suara alam, dan sejenisnya.
Hal yang juga perlu diperhatikan bahwa dalang/ pembawa cerita berada di belakang layar panggung seperti halnya dalang pada wayang kulit. Bonggol/ batang pohon pisang dipergunakan untuk menancapkan wayang-wayang tersebut. Mengingat wayang yang dimainkan satu per satu sesuai dengan lakon/ alur, namun semua wayang ditunjukkan kepada para pendengar dan tetap ditancapkan pada bonggol pisang tersebut.
Dalam bercerita awalilah dengan memperkenalkan setiap karakter wayang-wayang tersebut. Backsound yang dipergunakan pun turut mendukung keberhasilan bercerita dengan wayang kardus ini.

Kelebihan Bercerita Menggunakan Wayang Kardus
1. Melatih daya pikir dan fantasi anak.
2. Menciptakan suasana menyenangkan pada anak.
3. Mengembangkan kemampuan berbahasa dan menambah perbendaharaan kata bagi anak didik.
4. Turut melestarikan budaya seni pertunjukkan karena bernilai sejarah.
5. Waktu yang digunakan untuk bercerita lebih efektif dan efisien.
Adapun yang merupakan kelemahan dari bercerita menggunakan wayang kardus adalah memerlukan ketrampilan guru dalam membawakannya serta banyak hal yang harus dipersiapkan.
Metode bercerita dengan wayang kardus merupakan salah satu cara yang paling mendasar untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, dan membina hubungan interaksi dengan anak-anak. Melalui seluruh kemampuan yang dimiliki si penyampai cerita, yaitu perpaduan antara bahasa kata dan bahasa gambar/ wayang kardus, anak menjadi mudah mengerti apa yang dikatakan orang lain kepadanya.
Pada usia 4- 5 tahun, anak mulai dapat menikmati sebuah cerita pada saat ia mengerti tentang peristiwa yang terjadi di sekitarnya dan mampu mengingat beberapa berita yang diterimanya. Hal ini ditandai oleh berbagai kemampuan sebagai berikut:
a. Mampu menggunakan kata-kata untuk berkomunikasi.
b. Memiliki berbagai perbendaharaan kata kerja, kata sifat, kata keadaan, kata tanya, dan kata sambung.
c. Menunjukkan pengertian dan pemahaman tentang sesuatu.
d. Mampu mengungkapkan pikiran, perasaan dan tindakan dengan menggunakan kalimat sederhana.
e. Mampu membaca gambar/ bentuk dan mampu mengungkapkan sesuatu.
Beberapa manfaat metode bercerita dengan wayang kardus bagi anak usia dini:
a. Melatih daya serap/ daya tangkap anak, artinya anak taman kanak-kanak dapat dirangsang untuk mampu memahami isi atau ide-ide pokok dalam cerita secara keseluruhan.
b. Melatih daya konsentrasi anak untuk memusatkan perhatiannya kepada keseluruhan cerita, karena dengan pemusatan perhatian tersebut anak dapat melihat hubungan bagian-bagian cerita sekaligus menangkap ide pokok dalam cerita.
c. Menciptakan situasi yang menggembirakan serta mengembangkan suasana hubungan yang akrab sesuai dengan tahap perkembangan.
d. Melatih daya pikir anak untuk terlatih memahami proses cerita, mempelajari hubungan bagian-bagian dalam cerita termasuk hubungan sebab-akibatnya,
e. Mengembangkan daya imajinasi anak, artinya dengan bercerita anak dengan daya imajinasinya dapat membayangkan atau menggambarkan suatu situasi yang berada di luar jangkauan inderanya bahkan yang mungkin jauh dari lingkungan sekitarnya, ini berarti membantu mengembangkan wawasan anak.
f. Membantu perkembangan bahasa anak dalam berkomunikasi secara efektif dan efisien sehingga proses percakapan menjadi komunikatif.

B. Word Acquisition Pada Anak
1. Pengertian Bahasa
Proses anak mulai mengenal komunikasi dengan lingkungannya secara verbal disebut dengan pemerolehan bahasa pada anak. Pemerolehan bahasa pada anak berawal dari word acquisition (pemerolehan kata) yang terjadi bila anak sejak semula tanpa bahasa kini telah memperoleh kata per kata. Pada masa word acquisition ini anak lebih mengarah pada fungsi komunikasi daripada bentuk bahasanya. Word Acquisition pada anak dapat dikatakan mempunyai ciri kesinambungan, memiliki suatu rangkaian kesatuan yang bergerak dari ucapan satu kata sederhana menuju gabungan kata yang lebih rumit.
Word Acccquisition mempunyai permulaan yang mendadak, tiba-tiba serta memiliki suatu permulaan yang gradual yang muncul dari prestasi-prestasi motorik, sosial dan kognitif pralinguistik. Word Acquisition sangat erat hubungannya dengan perkembangan kognisi, yakni jika anak dapat menghasilkan ucapan-ucapan yang berdasar pada tata bahasa yang teratur rapi, tidaklah secara otomatis mengimplikasikan bahwa anak telah menguasai kata yang bersangkutan dengan baik. Kedua, anak harus memperoleh kategori-kategori kognitif yang mendasari berbagai makna ekspresif alamiah, seperti anggota tubuh, nama benda, bentuk-bentuk, dan sebagainya.
Bahasa sebagai salah satu aspek perkembangan yang harus dikembangkan pada usia anak merupakan media komunikasi agar anak dapat menjadi bagian dari kelompok sosialnya. Bahasa dapat berbentuk lisan, gambar, tulisan, isyarat, dan bilangan. Kemampuan berbahasa meliputi kemampuan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi dan mengidentifikasikan diri. (Dhieni, 2010) menyatakan bahwa bahasa adalah alat penghubung atau komunikasi antara anggota masyarakat yang terdiri dari individu-individu yang menyatakan pikiran, perasaan dan keinginannya. Bromley (2009) mendefinisikan bahasa sebagai sistem simbol yang teratur untuk mentransfer sebagai ide maupun informasi yang terdiri dari simbol-simbol visual maupun verbal.

2.Perkembangan Bahasa Anak
Para pendidik sangatlah penting mengetahui bagaimana cara belajar berbahasa anak, hal ini berkaitan dengan pembelajaran bahasa pada anak. Para ahli teori nativis menyatakan bahwa manusia secara natural memiliki kemampuan untuk memahami bahasa dan komunikasi. Menurut Chomsky (dalam Berk, 2009) …that regards language as a uniquely human accomplishment, etched into the structure of the brain … all children have a language acquisition device’. Pemerolehan bahasa sangat dipengaruhi oleh inteligensi ataupun pengalaman individu serta alat penguasaan bahasa. Piaget (dalam Berk, 2009) menyatakan ,”…that language is our most flexible means of mental representation”. By detechting thought from action, it premits far more adept thinking than was possible earlier”. Clara dan Stern (2008) membagi-bagi perkembangan bahasa menjadi empat masa, setiap masa setengah tahun lamanya, yaitu:
a. Kalimat satu kata: 1- 1,5 tahun
Kata pertama yang diucapkan anak dimulai dari suara-suara raban, seperti yang kita dengar keluar dari mulut bayi. Pada masa ini anak cenderung mengucapkan pengulangan suara (ta- ta, mi- mi, da- da). Anak menghubung-hubungkan kata-kata raban dan tiruan itu dengan benda-benda lainnya sehingga diperoleh nama-nama.Anak menggunakan kata-kata itu untuk menyatakan keinginan dan perasaannya dengan satu kata yang telah mempunyai arah sebagai satu kalimat.
b. Masa memberi nama: (1,5- 2 tahun)
Setelah pertengahan tahun kedua, timbullah dorongan untuk mengetahui nama-nama benda. Kalimat yang semula terdiri dari sepatah kata semakin lama semakin bertambah sempurna. Kadang-kadang ada gejala kesukaran berbicara, yang disebabkan kemajuan pikiran dan perasaannya lebih cepat berkembang dari perkembangan bahasanya. Setelah perkembangan bahasa mengalami kemajuan, pemakaian isyarat menjadi berkurang. Kata hubung baru dikenal anak sesudah ia mencapai usia tiga tahun.
c. Masa kalimat tunggal: (2- 2,5 tahun)
Anak telah menggunakan kalimat tunggal. Dalam masa ini anak menggunakan awalan dan akhiran yang membedakan bentuk dan warna bahasanya, anak memerlukan waktu untuk mempelajarinya.
d. Masa kalimat majemuk: 2,5 tahun dan seterusnya
Anak telah mulai menyatakan pendapatnya dengan kalimat majemuk. Dalam hal ini, anak sering berbuat kesalahan namun tidak berputus asa, semakin banyak pertanyaannya. Lingkungan hidup turut mempengaruhi perkembangan bahasa. Sehubungan dengan hal itu, jangan menirukan bahasa anak yang salah diucapkan.

3. Prinsip- prinsip Pengembangan Kemampuan Bahasa Anak
Ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan guru dan orang tua untuk mengetahui pengembangan dan kemampuan pemerolehan kata pada anak. Prinsip-prinsip pengembangan kemampuan pemerolehan kata pada anak sebagai berikut:
a. Pendidik lebih mengutamakan pemerolehan kata pada anak, kemampuan menyimak dan berkomunikasi.
b. Mendeteksi melacak kemampuan pemerolehan kata anak. Hasil kegiatan ini diharapkan dapat diperoleh kemampuan pemerolehan kata.
c. Merencanakan kegiatan bermain dan alat permainan sederhana melalui kegiatan bercakap-cakap, bercerita atau menyampaikan cerita, membacakan cerita dan bermain peran.
Sebelum anak menyimak/ siap mendengarkan cerita, guru perlu mengetahui apakah anak telah siap mengikuti kegiatan bercerita. Kesiapan anak memperoleh sejumlah kata sangat diperlukan agar anak berhasil secara optimal dalam belajar mendapatkan kata.
Dhieni (2010) mengemukakan bahwa tanda-tanda kesiapan anak untuk menyimak sebuah cerita dengan baik hendaknya dibekali kemampuan:
a. Dapat memahami bahasa lisan;
b. Dapat mengucapkan kata-kata dengan jelas;
c. Dapat mengingat kata-kata;
d. Dapat mengucapkan bunyi huruf;
e. Dapat menunjukkan minat menyimak;
f. Dapat membedakan suara/ bunyi dan objek-objek dengan baik.
Gray (2010) menyebutkan beberapa komponen pemerolehan kata dalam belajar bahasa, yaitu:
a. Pengenalan kata-kata baru
Penekanannya pada menganalogkan kata-kata baru dengan kata lain yang pernah dikenal.
b. Pengertian
Selain dapat mengucapkan, anak dapat memaknai/ memberi arti sebuah kata baru.
c. Reaksi
Diharapkan ada reaksi terhadap kata baru yang didengar.
d. Mengingat
Ada upaya untuk menyimak lalu mengingat kata baru.
e. Berkonsentrasi dan berpikir
Anak dapat menunjukkan daya konsentrasi yang lebih lama.
f. Bertanya
Ketika anak melakukan pemerolehan kata, apakah anak menyampaikan sebuah pertanyaan terkait dengan kata baru tersebut.
Menurut Departement of School Education Victoria (2009) pemerolehan kata pada anak akan merupakan suatu perkembangan yang alami bila anak:
a. Mempunyai banyak pengalaman menyenangkan tentang kata.
b. Memahami bahwa ide dan kejadian-kejadian penting direkam dan didengar anak melalui kata.
c. Memahami bahwa dengan kata dapat membagi pengalamannya pada orang lain.
d. Senang mendengar dan menikmati kata sehingga ide-ide dapat diekspresikan.

4. Word Acquisition Pada Anak
Bahasa gambar dan bahasa kata mempunyai hubungan yang erat bagi perkembangan bahasa anak (Tabrani, 2009). Salah satu usaha upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan word acquisition pada anak yaitu dengan cara bercerita memungkinkan terjadinya komunikasi, memiliki kemampuan berpikir abstrak khususnya imaji konkrit indra lainnya; gerak, dengar, rupa dan sebagainya. Membaca cerita yang menarik pada anak akan membuat anak menjadi tahu bahwa dalam cerita ada sesuatu hal yang menarik baginya, sehingga anak ingin lebih mengetahui sendiri apa yang terdapat dalam cerita tersebut. Hal ini sama artinya dengan menumbuhkan minat ingin tahu dan memahami makna kata semakin baik (Ferguson, 2009) dalam penelitiannya pada tahun 2007 menunjukkan bahwa anak yang sering mendengarkan cerita memperoleh skor lebih tinggi dalam tes pengembangan kosa kata.

C. Kerangka Berpikir
Berdasarkan berbagai pendapat rendahnya Word Acquisition pada anak sangat berpengaruh pada kemampuan anak dalam berkomunikasi dan berinteraksi hingga jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Anak yang memiliki Word Acquisition rendah perlu mendapatkan bantuan untuk mengatasi masalah tersebut berupa cerita menggunakan wayang kardus sehingga mereka dapat mengembangkan kemampuan pemahaman kosa kata yang dimiliki. Dengan diberikannya cerita menggunakan wayang kardus diharapkan anak mampu memiliki tingkat Word Acquisition yang lebih baik.

Gambar 1
Kerangka Berpikir
D.Hipotesis Tindakan
Suryabrata (2004) menjelaskan bahwa hipotesis adalah jawaban sementara terhadap masalah penelitian yang kebenarannya masih diuji secara empiris. Hal tersebut sejalan dengan pernyataan bahwa hipotesis dirumuskan berdasarkan kerangka pemikiran yang telah dipaparkan (Surachmad, 2004). Sementara menurut Arikunto (2006) hipotesis adalah kebenaran yang masih berada di bawah dan belum tentu benar, dan baru dapat diangkat menjadi suatu kebenaran jika memang telah disertai dengan bukti-bukti.
Mengacu pada rumusan masalah dalam kerangka pemikiran tersebut di atas, maka hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah:” Word Acquisition pada anak dapat meningkat melalui bercerita menggunakan wayang kardus”.

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Seting Penelitian dan Karakteristik Subyek Penelitian
1. Seting Penelitian
Seting penelitian berarti latar dan tempat yang dijadikan lokasi penelitian. Tempat yang dijadikan lokasi penelitian ini adalah taman kanak-kanak di kota dan kabupaten Magelang. Lokasi tersebut peneliti pilih berdasarkan hasil pengamatan dan argumen bahwa di taman kanak-kanak kota dan kabupaten Magelang bercerita menggunakan wayang kardus sebagai salah satu upaya mengoptimalkan anak dalam Word Acquisition belum pernah dilakukan. Melihat kenyataan seperti itu peneliti akan mencari upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut.
2. Karakteristik Subyek Penelitian
Sifat subyek penelitian yang dimaksud adalah keadaan yang mencakup kondisi subyek penelitian dan aspek fisik maupun aspek psikis anak didik. Kondisi subyek penelitian yaitu anak didik tergolong memiliki Word Acquisition rendah terbukti dari minimnya penggunaan kosa kata yang belum memenuhi/ tidak sesuai dengan tugas-tugas perkembangan anak 4-5 tahun. Hal ini dapat diketahui berdasarkan catatan anekdot, informasi dari guru, pengamatan ketika proses belajar mengajar dan wawancara dengan orang tua.
3. Subyek Penelitian
Secara keseluruhan yang menjadi subyek penelitian adalah semua taman kanak-kanak yang berlokasi di kabupaten dan kota Magelang. Namun peneliti mengambil subyek dengan cara Purposive Sampling dan tertunjuklah 4 buah taman kanak-kanak di kabupaten Magelang dan 4 taman kanak-kanak di kota Magelang. Pertimbangan peneliti menggunakan Purposive Sampling karena subyek menunjukkan word acquisition rendah. Data tersebut peneliti peroleh ketika melakukan observasi sebelum tindakan diberikan (data terlampir). Subyek yang dimaksud tertera dalam tabel berikut:

Tabel 1. Subyek Penelitian
No Nama Lembaga Lokasi Jumlah Siswa
1
2
3
4
5
6
7
8 TK ABA 1
TK ABA 4
TK ABA 7
TK Pertiwi
TK PGRI 2 Deyangan
TK ABA 1 Bumirejo
TK ABA 5 Borobudur
TK ABA 6 Borobudur Kota Magelang
Kota Magelang
Kota Magelang
Kota Magelang
Kab. Magelang
Kab. Magelang
Kab. Magelang
Kab. Magelang 22 anak
27 anak
15 anak
23 anak
18 anak
25 anak
14 anak
16 anak
Jumlah : 160 anak

Nama-nama siswa terdapat pada lampiran
c. Indikator Rendahnya Word Acquisition Pada Anak
Indikator artinya tanda-tanda yang tampak. Indikator/ gejala yang dapat dilihat sebagai wujud dari rendahnya Word Acquisition pada anak dalam penelitian ini adalah anak belum mampu:
1. Melakukan pengenalan kosa kata baru secara cepat;
2. Mengucapkan dan memaknai/ memberi arti sebuah kata baru;
3. Memberikan reaksi terhadap kata baru yang didengar;
4. Menyimak dengan baik lalu berupaya mengingat kata baru;
5. Menunjukkan daya konsentrasi yang lebih lama;
6. Menyampaikan sebuah pertanyaan terkait dengan kata baru tersebut.

B. Variabel Penelitian
Margono (2008) mengatakan bahwa variabel adalah konsep yang mempunyai variasi nilai, sehingga variabel dapat diartikan sebagai pengelompokkan yang logis dari dua atribut atau lebih. Arikunto (2007) menjelaskan variabel adalah obyek penelitian atau apa yang menjadikan titik penelitian. Dalam penelitian terdapat beberapa macam variabel yaitu variabel input, variabel proses, variabel output.
Dalam penelitian ini yang dijadikan variabel input berupa rendahnya Word Acquisition pada anak. Diberikannya bercerita menggunakan wayang kardus merupakan variabel proses dan hasil dari tindakan berupa adanya peningkatan Word Acquisition pada anak merupakan variabel output.
Penjelasan lebih lanjut mengenai masing-masing variabel sebagai berikut:
1. Variabel Input
Variabel input dalam penelitian ini adalah rendahnya Word Acquisition Pada Anak. Rendahnya Word Acquisition pada anak ini ditandai dengan anak belum mampu dalam:
a. Melakukan pengenalan kosa kata baru secara cepat;
b. Mengucapkan dan memaknai/ memberi arti sebuah kata baru;
c. Memberikan reaksi terhadap kata baru yang didengar;
d. Menyimak dengan baik lalu berupaya mengingat kata baru;
e. Menunjukkan daya konsentrasi yang lebih lama;
f. Menyampaikan sebuah pertanyaan terkait dengan kosa kata baru tersebut.
2. Variabel Proses
Dalam penelitian tindakan ini yang menjadi variabel proses adalah tindakan pelaksanaan bercerita menggunakan wayang kardus. Pelaksanaan ditempuh dengan tujuan agar anak mampu mengubah variabel inputnya yaitu rendahnya word acquisition menjadi word acquisition yang optimal.
3. Variabel Output
Variabel output adalah hasil yang diharapkan dengan adanya proses yang telah dilaksanakan dalam rencana tindakan berupa optimalisasi Word Acquisition. Hasil yang ingin dicapai adalah adanya perubahan positif terkait pemerolehan kata dengan indikasi Word Acquisition pada anak yang dijadikan subyek penelitian.Perubahan Word Acquisition pada anak yang ingin dimunculkan adalah anak lebih mampu dalam:
a. Melakukan pengenalan kosa kata baru secara cepat;
b. Mengucapkan dan memaknai/ memberi arti sebuah kata baru;
c. Memberikan reaksi terhadap kata baru yang didengar;
d. Menyimak dengan baik lalu berupaya mengingat kata baru;
e. Menunjukkan daya konsentrasi yang lebih lama;
f. Menyampaikan sebuah pertanyaan terkait dengan kosa kata baru tersebut.

C. Rencana Tindakan
Rencana tindakan yang akan diterapkan untuk mengoptimalkan Word Acquisition pada anak melalui bercerita menggunakan wayang kardus di TK ABA 1 kota Magelang, TK ABA 4 kota Magelang,TK ABA 7 kota Magelang, TK Pertiwi kota Magelang, TK ABA 1 Bumirejo Kotamungkid kab. Magelang, TK PGRI 2 Deyangan kab.Magelang, TK ABA 5 Borobudur kab. Magelang dan TK ABA 6 Borobudur kab. Magelang dengan melakukan penelitian tindakan kelas.
Alur penelitian tindakan ini terdiri dari tiga siklus. Tiap siklus terdiri dari 4 fase yaitu rencana tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi; untuk silus terakhir diakhiri dengan evaluasi. Alasan melakukan penelitian tindakan dalam 3 siklus adalah dimungkinkan permasalahan yang ada akan dapat teratasi. Untuk lebih jelasnya ketiga siklus yang dilakukan peneliti digambarkan sebagai berikut:

Siklus I

Siklus II

Siklus III

dan seterusnya
Gambar 2. Rencana Tindakan
1. Siklus I
a. Rencana Tindakan I
Rencana Tindakan I dilakukan berdasarkan hasil observasi terhadap pemerolehan kata oleh subyek penelitian. Tindakan yang akan ditempuh adalah melalui bercerita menggunakan wayang kardus. Tindakan yang pertama dilaksanakan pada tanggal 3- 18 Nopember 2011 dengan jadwal sebagai berikut:

No Tanggal Tempat Penelitian

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
3 dan 5 Nopember 2011
4 dan 5 Nopember 2011
7 dan 8 Nopember 2011
9 dan 10 Nopember 2011
11 dan 13 Nopember 2011
12 dan 14 Nopember 2011
13 dan 15 Nopember 2011
17 dan 18 Nopember 2011
TK ABA 4 kota Magelang
TK ABA 6 kab. Magelang
TK ABA 1 kota Magelang
TK Pertiwi kota Magelang
TK ABA 7 kota Magelang
TK ABA 1 Bumirejo
TK ABA 5 kab. Magelang
TK PGRI 2 Deyangan

Setiap pertemuan berlangsung sekitar 35 menit
b. Pelaksanaan Tindakan I
Tindakan yang ditempuh berupa pelaksanaan bercerita menggunakan wayang kardus dengan narasi cerita “Salah Hitung”dan “Menyelamatkan Hutan”sebagai berikut:
SALAH HITUNG
PROLOG (PEMBUKA)
Ada dua liliput yang malas belajar dan sekolah. Karena salah menghitung buah hutan yang dibawa ke atas teratai di tengah dana, tiba-tiba teratai itu tenggelam kelebihan beban. Dan ketika mereka berenang di danau, tiba-tiba mereka diserang seekor ikan besar. Bisakah mereka selamat? Yuk kita ikuti petualangan seru mereka!
Monolog : Lala dan Lili liliput adalah anak liliput yang malas belajar dan sekolah.
Ketika teman-temannya belajar, Lala dan Lili liliput malah asyik bermain.
Lala : Ayo, Lili kita main perosotan! Ayo dong!
Lili : Oke, Lala! Tapi, hati-hati nanti kecebur, lho!
Lala : Daripada belajar, lebih asyik kita main, ya!
Lili : Kalau belajar berhitung itu aku suka pusing…. Wah, capek! Dari tadi kita ma-
in, sekarang kita pulang, yuk!
Monolog : Lalu..mereka pulang ke rumah jamur..
Mama : Lala dan Lili! Mama hari ini mau membuat jus buah hutan..Siang ini kalian
bisa bantu mama, kan? Sekarang kalian harus mencari buah hutan di sebe-
rang danau. Mama hanya butuh enam biji buah hutan saja. Pilihlah buah
hutan yang besar dan masak, ya!
Lala : Oke, deh mama! Kami pergi dulu. Assalamu’alaikum.
Mama : Wa,alaikumsalam! Hati- hati ya Lala dan Lili..
Monolog : Ketika tadi Mama menyebut angka 6, Lala dan Lili sebenarnya bingung.
Lili : Lalu gimana, nih! Kita kan belum tahu angka enam..
Lala : Iya, aku juga bingung. Kita baru bisa berhitung sampai angka 3!
Lili : Ya, gara-gara jarang sekolah dan belajar. Kita jadi Liliput bodoh begini!
Lala : Sudahlah Lili. Ayo sekarang kita menyeberang danau!
Lili : Naik perahu teratai Kwok Kodok, ya!
Lala : Assalamu’alaikum Kwok Kodok!
Kodok : Wa’alaikum salam Lala dan Lili!
Lala : Kwok, tolong antarkan kami ke seberang danau, ya!
Lili : Kami akan memetik 6 biji buah hutan di sana!
Kodok : Oke, tapi perahu terataiku hanya bisa mengangkut 2 penumpang dan 6 bi-
ji buah hutan! Jika mengangkut lebih dari itu, aku kuatir perahu terataiku
akan rusak. Ayo deh, sekarang kalian boleh naik!
Monolog : Maka..mereka pun segera naik…
Lala : Terima kasih, Kwok! Kamu baik sekali, deh!
Kwok : Hati-hati, jangan terburu-buru, nanti kamu jatuh! Bismillah.. ayo kita be-
rangkat!.. Nah, sebentar lagi kita sampai di seberang danau…
Monolog : Akhirnya……
Lala : Alhamdulillah..kita sudah sampai di seberang danau!
Lili : Daaaggh! Makasih Kwok! Nanti Kwok jemput kami lagi ya..
Monolog : Kemudian Lala dan Lili sibuk mencari dan memetik buah hutan…
Lala : Buah hutan ini cukup besar dan sudah masak! Buah hutannya kita kumpul-
kan di sini saja, Lili!
Lili : Ayo, kita cari lagi! Kita harus mengumpulkan 6 biji buah hutan! Sudah bera-
pa biji buah hutan yang kita petik, ya!
Lala : Coba saja kamu hitung, Lili!
Lili : Sudahlah aku kira jumlahnya nggak kurang dari 6.
Lala :: Oke, deh, sekarang kita pulang saja.
Monolog : Kemudian..Kwok datang menjemput Lala dan Lili.
Lala : Kemari, Kwok! Kami sudah selesai memetik buah hutan!
Kwok : Kalau begitu, ayo siap-siap kita pulang.
Lili : Perahu teratainya dekatkan ke sini, dong!
Monolog : Setelah semua buah hutan ada di atas perahu teratai, mereka pun segera
berangkat…
Kwok : Tunggu sebentar..Sepertinya ada yang tak beres nih… Ufh! Kok perahu tera-
taiku berat begini!
Monolog : Kemudian tiba-tiba…
Lala : Lho, ini ke..ke..kenapa kwok?
Lili : Kita mau tenggelam!!!
Kwok : Ayo loncaaat!! Pasti kalian sudah salah menghitung buah hutan!
Lili : Ufh! Aaah…Tolooong! Cepat selamatkan diri! Iya, kayaknya tadi buah hutan
nya lebih dari 6 biji.
Lala : Maafkan kami, Kwok! Tadi memang kami tidak menghitungnya. Abis kami
baru bisa berhitung sampai angka tiga.
Lili : Innalillaahi! Lihat di belakangmu Lala! A..ada..ada..i..ikan besaar!!
Lala : Ya, allah! Tolooong! Si Kwok kemana, ya?
Lili : Cepat berenang ke pinggir danau, Lala!
Kwok : Hei, aku di sini! Cepat, ayo! Kalian naik saja ke atas rumput ini!
Lili : Ya, allah tolong selamatkan kami…
Lala : Alhamdulillah..kita selamat! Ikan itu tak mungkin mengejar kita lagi!
Ikan : ya, gagal deh aku mau makan mereka!
Monolog : Setelah peristiwa itu, akhirnya Lala dan Lili jadi tahu. Mengapa mereka
harus sekolah dan belajar…
Pak Guru : Lili, tiga ditambah dua berapa, coba?
Lili : Ngg..lima pa guru!
Lala : Wah, subhanallah! Lili sekarang jadi pintar…
Monolog : Belajar ilmu itu menghapus dosa-dosa besar dan belajar Al-Quran itu me-
nambah pengertian akan agama.

MENYELAMATKAN HUTAN
PEMBUKA
Inilah hutan kita…hutan yang sangat lebat…yang menjadi paru-paru planet kita..bumi! Di dalam hutan para penghuni hidup dengan gembira, hidup rukun dan damai.
Gugug : Guug..guug
Kucing : Meong..
Kerbau : Sudah..sudah, sesama binatang jangan bertengkar
Gugug : Maaf
Kucing : Sama-sama
Kuda Nil : Suara apa itu
Bos penebang: Tebang semuanya…!!!
Anak buah : Baik bos!
Bos penebang: Angkut semua…!!
Gajah : Hey kancil, ada apa?
Kancil : Gawat…, gawat!!!
Kancil : Pak kehut…pak kehut…gawat Pak Kehut
Pak Kehut : Apa yang gawat Ncil?
Kancil : Manusia- manusia sedang merusak hutan dan menebang pohon-pohon.
Semua binatang: Apaaaa…??
Singa : Saya tidak mau tinggal di kebun binatang..
Mongki : Saya juga…
Kucing : Kalau kamu sih tinggal di rumah manusia juga tidak apa-apa
Gajah : Kita harus bertindak, pa Kehut..
Binatang lain : Betull..kalau tidak akan membahayakan kita semua.
Kerbau : Betul..
Gorila : Setuju..
Kerbau : Itu betul.. kita harus mencegah para manusia yang merusak dan menebang po
hon sembarangan di hutan kita..Saya akan menulis surat untuk mereka..
Monolog : Beberapa saat kemudian…
Kerbau : Mongki..berikan surat ini pada pimpinan manusia!
Mongki : Baik!!
Semua binatang: Hati-hati, ya Mongkiii..!!
Mongki : Ada surat dari Ketua Hutan untuk Pimpinan Manusia
Anak buah : Bos..ada monyet ingin bertemu
Bos : Suruh ke sini!!!
Surat : Kepada yang terhormat Bapak Pimpinan Manusia..Saya Ketua Hutan memo-
hon untuk menghentikan penebangan hutan, karena akan membahayakan kita
semua..terima kasih.
Bos : Hm..hm..hi..hi..ha..ha..ha
Semua binatang: Mongki…
Mongki : Mereka menolak permohonan kita Pak Ketua
Pak Ketua : Teman-teman bersiaplah, besok pagi kita akan bersama-sama memohon pada
manusia untuk tidak menebangi pohon-pohon di hutan kita ini lagi…!!
Semua binatang: Baik
Monolog : Pagi-pagi sekali ketika matahari terbit..
Kerbau : Teman-teman mari kita temui manusia bersama-sama..
Anak buah : Bos..bos..banyak binatang datang ke sini!!
Bos : Mau apa lagi binatang-binatang jelek itu datang ke sini?
Kerbau : Kami mohon teman manusia tidak menebangi pohon di hutan lagi dan segera
pergi dari hutan
Bos : Tidak…kami tidak akan pergi. Kami perlu kayu-kayu itu…dan…Kalian yang
harus pergi! Usir semua!!
Manusia : Hus..hus..hus
Kerbau : Teman-teman selamatkan diri masing-masing!!
Gajah : Sekarang bagaimana Pak Kehut? Teman-teman kita banyak yang terluka…
Kerbau : Kita akan minta bantuan teman-teman kita di hutan yang lain
Monolog : Sementara itu…manusia terus menebang semua pohon dan hampir sete-
ngahnya hutan kita sudah habis… Kayu-kayu pohon dibawa semua, tak
peduli dengan semua binatang yang terluka.
Kerbau : Teman- teman…kita akan meminta bantuan teman-teman kita di hutan yang
lain.
Banteng : Gajah panggil mereka dengan suara panggilan
Gajah : Baik pak Kehut
Eeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee………..
Beruang : Ada suara panggilan hutan…
Unta : Ada apa ya…?
Binatang : Saya harus segera datang..
Binatang : Ayo beruang kita ke sana!
Mongki : Cepat jerapah ada panggilan hutan!
Binatang : Kalian kan sudah punah?
Binatang-binatang: Betul…
Monolog : Mendengar suara gajah semua binatang di seluruh hutan datang ber-
bondong-bondong
Kerbau : Teman-teman kita akan berjuang menyelamatkan hutan. Kita akan mengu sir manusia yang telah merusak hutan.
Manusia-manusia: Boss..boss mereka datang lagi..
Manusia : Hehehehe.. mereka belum kapok ya?
Manusia : Boss..saya takut, mereka terlalu banyak..
Manusia lain : Boss..saya pulang duluan ya daahh..
Binatang-binatang: Manusia kalian harus pergi..atau kami seraang!!
Manusia 1 : Aaaaaa..Boss saya digigit buaya..
Manusia 2 : Tante badak..ammpuuuunn..
Manusia 3 : Mammiii..tolooooongg!!
Manusia-manusia: Kabuuur..kabbuuur..
Manusia-manusia: Kami akan kembali lagi..kerbau jelek..Dengan peralatan yang lebih tahan
binatang..
Binatang-binatang: Kita berhasil teman-teman…
Kerbau : Terima kasih teman-teman..untuk sementara mereka telah pergi, tapi hutan
kita telah rusak. Pohon-pohon sebagian hilang..kita harus memperbaikinya
lagi, dan itu memerlukan waktu yang sangat lama. Teman-teman..mulai be-
sok kita akan bangun hutan kita lagi.

Pada saat subyek dikenai tindakan I dan subyek telah selesai menyimak cerita-cerita yang disajikan melalui wayang kardus, peneliti melakukan penekanan-penekanan pada beberapa kata di bawah ini sebagai kata baru dan hendaknya subyek dapat:
1. Melakukan pengenalan kosa kata baru tersebut secara cepat;
2. Mengucapkan dan memaknai/ memberi arti sebuah kata baru;
3. Memberikan reaksi terhadap kata baru yang didengar;
4. Menyimak dengan baik lalu berupaya mengingat kata baru;
5. Menunjukkan daya konsentrasi yang lebih lama; serta
6. Menyampaikan sebuah pertanyaan terkait dengan kata baru tersebut.
Kata baru pada cerita I dengan judul “Salah Hitung”yang dimaksud meliputi kata: liliput, hutan, teratai, danau, bingung, penumpang, kuatir, kemari, beres, tenggelam, gagal dan agama. Pada cerita kedua dengan judul “Menyelamatkan Hutan”, subyek mendapatkan kata-kata baru sebagai berikut: hutan, lebat, paru-paru, bumi, tebang, gawat, bertindak, setuju, mencegah, sembarangan, pimpinan, memohon, menolak, terbit dan peduli.

Tabel Matrik Pelaksanaan Tindakan I Bercerita Menggunakan Wayang Kardus
Untuk Mengoptimalkan word acquisition pada Anak
Tahapan Kegiatan Peran Peneliti Peran subyek Hasil
Pembukaan Mengadakan pendekatan secara persuasif Menciptakan suasana akrab, hangat, terbuka, dan bersahabat Menerima peneliti dengan penuh kepercayaan Tercipta hubungan yang baik
Penjelasan Menjelaskan maksud dan tujuan Menyampaikan maksud dan tujuan Menyimak dan mengerti maksud kehadiran peneliti Pemahaman kehadiran peneliti
Tindakan penyelesaian masalah Penerapan bercerita menggunakan wayang kardus Menyampaikan cerita menggunakan wayang kardus untuk mengoptimalkan Word acquisition Sanggup menyimak jalannya cerita dan menjawab serta merespon pertanyaan Kesimpulan sementara
Penutup Mengakhiri pertemuan Menutup dan menyampaikan rencana pertemuan selanjutnya Menerima rencana pertemuan selanjutnya

Berdasarkan tabel di atas dapat dijelaskan bahwa peneliti mengadakan pendekatan secara persuasif dengan subyek, guna mengetahui gejala-gejala yang tampak terkait dengan rendahnya word acquisition. Dengan demikian peneliti juga akan dengan mudah mengetahui kemauan subyek dalam meningkatkan word acquisition. Strategi peningkatan word acquisition dilakukan dengan cara bercerita menggunakan wayang kardus dan berpijak pada indikator tinggi rendahnya word acquisition pada anak.
c. Observasi I
Observasi I dilaksanakan untuk mengetahui adanya perubahan/ peningkatan word acquisition yang diindikasikan terjadi pada subyek penelitian. Siswa yang dijadikan subyek penelitian adalah siswa yang memiliki kemampuan word acquisition rendah yang berasal dari 4 taman kanak-kanak di kabupaten Magelang dan 4 taman kanak-kanak di kota Magelang pada tahun ajaran 2011/ 2012. Observasi dilaksanakan dengan cara mengamati respon dan perilaku subyek selama proses bercerita berlangsung di dalam kelas.
d. Refleksi I
Refleksi I dilaksanakan untuk mengevaluasi tindakan pada siklus I dan mencari masukan untuk perencanaan tindakan pada siklus berikutnya. Apabila diketahui perubahan yang diindikasikan belum mencapai target minimum 50 %, maka perlu dilaksanakan tindakan siklus II.
2. Siklus II
a. Rencana Tindakan II
Rencana tindakan II ini merupakan revisi rencana tindakan I. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari siklus I. Bentuk-bentuk rencana tindakan II berupa peningkatan pemahaman terhadap pemerolehan kosa kata / word acquisition. Cara yang ditempuh adalah melakukan bercerita menggunakan wayang kardus seperti yang dilakukan pada rencana tindakan I. , tujuannya untuk mengubah adanya peningkatan kepemilikan pemerolehan kata yang diinginkan. Berdasarkan siklus tindakan I menunjukkan adanya perubahan pemilikan word acquisition yang terjadi belum optimal, maka peneliti perlu melakukan tindakan II.
b. Pelaksanaan Tindakan II
Tindakan II pada siklus II hampir sama dengan tindakan pada siklus I, perbedaannya terletak pada pemberian penguat yang diperlukan anak. Inti dari sasaran adalah meningkatkan word acquisition pada anak. Target perubahan yang ingin dicapai adalah 55% ke arah yang lebih baik dari keadaan sebelumnya.
c. Observasi II
Observasi II terhadap pelaksanaan pada siklus II ini harus dilaksanakan secara cermat. Dalam pelaksanaannya bertujuan agar pelaksanaan pada siklus berikutnya dapat dilaksanakan dengan baik. Di samping itu juga untuk mengetahui ada tidaknya perubahan perilaku pada subyek penelitian. Proses pelaksanaannya sama dengan siklus I.
d. Refleksi II
Refleksi II dilakukan untuk mengumpulkan masukan bagi penelitian selanjutnya. Di samping itu dilakukan juga analisis hasil tindakan dari konseling II, bercerita menggunakan wayang kardus. Selanjutnya, peneliti membuat kesimpulan agar dapat diketahui perilaku apa saja yang sudah menunjukkan adanya perubahan selama diberikannya tindakan bercerita. Apabila diketahui belum ada perubahan mencapai 55%, maka perlu dilaksanakan tindakan siklus III.
3. Siklus 3
a. Rencana Tindakan III
Rencana tindakan siklus III diadakan berdasarkan hasil observasi dan refleksi II. menggunakan wayang kardus. Tujuannya adalah untuk meningkatkan pemerolehan kata pada subyek sehingga diharapkan anak dapat memiliki tingkat word acquisition yang optimal.
b. Pelaksanaan Tindakan III
Tindakan III ini dilaksanakan sebagai tindak lanjut dari tindakan I dan II. Pelaksanaan ini hampir sama dengan tindakan I dan II yaitu dengan bercerita menggunakan wayang kardus, tetapi dalam siklus III ini perlu lebih intensif daripada tindakan sebelumnya. Hal tersebut dilaksanakan agar target atau sasaran perubahan dapat mencapai 55% menuju arah yang lebih baik.
c. Observasi III
Observasi III dilaksanakan untuk mengetahui perubahan perilaku secara lebih mendalam. Observasi III ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar prosentase perubahan pemilikan pemerolehan kata pada anak selama penelitian ini berlangsung.
d. Evaluasi
Kegiatan evaluasi ini bertujuan untuk menilai tingkat optimalisasi wayang kardus sebagai media bercerita untuk meningkatkan word acquisition pada anak.serta untuk mengetahui seberapa besar prosentase perubahan/ peningkatan dimilikinya pemerolehan kata pada anak setelah subyek menyimak jalannya cerita yang disampaikan menggunakan wayang kardus melalui tiga siklus yang telah dilaksanakan. Perubahan yang diindikasikan adalah dimilikinya word acuisition yang tinggi pada anak.
D. Data dan Metode Pengumpulan Data
1. Data
a. Jenis Data
Disesuaikan dengan judul penelitian tindakan ini, maka jenis data yang dikumpulkan berupa data rendahnya word acquisition anak yang dimiliki oleh anak taman kanak-kanak di kabupaten Magelang dan kota Magelang pada semester I tahun ajaran 2011/ 2012. Adapun jenis data dan rendahnya word acquisition pada anak yang dimaksud adalah anak belum mampu dalam: 1) melakukan pengenalan kosa kata baru secara cepat; 2) mengucapkan dan memaknai/ memberi arti sebuah kata baru; 3) memberikan reaksi terhadap kata baru yang didengar; 4) menyimak dengan baik lalu berupaya mengingat kata baru; 5) menunjukkan daya konsentrasi yang lebih lama; 6) menyampaikan sebuah pertanyaan terkait dengan kosa kata baru tersebut.
b.Sumber Data
1) Sumber Data primer
Sumber data primer dalam penelitian ini diperoleh dari siswa taman kanak-kanak di kabupaten Magelang dan kota Magelang sebagai subyek penelitian. Data yang diperoleh dari siswa-siswa tersebut digunakan untuk mengetahui: a) karakteristik word acquisition subyek penelitian selama memperoleh penyajian bercerita menggunakan wayang kardus; b) karakteristik word acquisition subyek penelitian setelah memperoleh penyajian bercerita menggunakan wayang kardus.
2)Sumber Data sekunder
Sumber data sekunder dalam penelitian ini berasal dari wawancara, catatan anekdot dan informasi guru. Sumber data sekunder ini digunakan untuk mengumpulkan data tentang perilaku subyek penelitian serta tindakan pemberian cerita menggunakan wayang kardus yang akan dilaksanakan.
2. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode observasi, wawancara dan dokumentasi.
a. Observasi
Zuhriah (2006) menyatakan bahwa observasi diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap gejala yang tampak pada obyek penelitian. Berdasarkan jenisnya observasi dibedakan menjadi 2, yaitu 1) observasi langsung adalah observasi yang dilakukan di mana observer berada bersama obyek yang diteliti; 2) observasi tidak langsung yaitu observasi atau pengamatan yang dilakukan tidak pada saat berlangsungnya suatu peristiwa yang akan diteliti. Observasi dilakukan untuk mengetahui peningkatan word acquisition pada anak. Dari hasil observasi akan diketahui seberapa peningkatan word acquisition sebelum dan sesudah subyek (siswa taman kanak-kanak di kabupaten Magelang dan kota Magelang) diberi tindakan.
Dalam penelitian ini selain peneliti ikut serta mengamati sekaligus terlibat dalam penyampaian bercerita menggunakan wayang kardus, peneliti juga bekerja sama dengan guru kelas. Alat yang digunakan untuk mengamati perilaku subyek yaitu lembar observasi dan lembar tes yang berisi indikator-indikator perilaku peningkatan word acquisition anak yang meliputi: 1) melakukan pengenalan kosa kata baru secara cepat; 2) mengucapkan dan memaknai/ memberi arti sebuah kata baru; 3) memberikan reaksi terhadap kata baru yang didengar; 4) menyimak dengan baik lalu berupaya mengingat kata baru; 5) menunjukkan daya konsentrasi yang lebih lama; 6) menyampaikan sebuah pertanyaan terkait dengan kosa kata baru tersebut. Pedoman observasi terdapat pada Lampiran…
b. Wawancara
Zuhriah (2006) wawancara merupakan alat pengumpul informasi dengan cara mengajukan pertanyaan secara lisan untuk dijawab secara lisan pula. Menurut Zuriah (2006) jenis wawancara dibedakan menjadi dua, yaitu:
1) Wawancara berstruktur ialah wawancara yang pertanyaan dan alternatif jawaban yang diberikan kepada intervie/ subyek telah ditetapkan terlebih dahulu oleh interviewer.
2) Wawancara tak berstruktur, pertanyaan dapat diajukan secara bebas kepada subyek.
Peneliti menggunakan wawancara berstruktur yang bertujuan untuk memperoleh informasi tentang seberapa peningkatan word acquisition yang dimiliki oleh subyek penelitian. Agar wawancara yang diadakan lebih terarah maka peneliti juga menyiapkan Pedoman wawancara yang terdapat pada lampiran. Wawancara ini ditujukan kepada berbagai pihak, meliputi:
a. Wawancara dengan orang tua
Wawancara dengan orang tua dilakukan di ruang kelas. Dalam wawancara ini dibicarakan tentang berbagai hal terkait dengan word acquisition pada anak. Dengan wawancara ini diperoleh juga informasi tentang word acquisition yang berhubungan dengan indikator-indikator rendah dan tingginya word acquisition dalam penelitian ini. Fokus wawancara ditujukan kepada subyek penelitian yang akan dilakukan, dengan menggunakan instrumen pedoman wawancara dengan orang tua.
b. Wawancara dengan guru kelas
Wawancara dengan guru kelas dilakukan di dalam dan di luar ruang kelas yang bertujuan untuk mengumpulkan data tentang peningkatan word acquisition pada anak. Fokus wawancara ditujukan kepada subyek penelitian yang akan dilakukan dengan menggunakan instrumen pedoman wawancara dengan guru kelas.
c. Analisis Isi Dokumentasi
Analisis isi dokumentasi merupakan teknik pengumpulan data dalam penelitian kualitatif yang bersifat non interaktif (Arikunto, 2006), menjelaskan bahwa analisis dokumen yaitu penelitian yang dilakukan terhadap informasi yang didokumentasikan dalam rekaman, baik gambar, suara, tulisan atau lainnya. Dalam hal ini, cara yang diperlukan untuk memperoleh data adalah dengan mencatat, menganalisis dan menyimpulkan hasil dokumentasi yang dilakukan terhadap arsip atau catatan dokumentasi pada guru kelas.
E. Validitas Data
Untuk mengetahui validitas data digunakan teknik triangulasi sebagai banding data penelitian. Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain. Di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. Teknik triangulasi yang paling banyak digunakan adalah pemeriksaan melalui sumber lainnya (Moloeng, 2006). Triangulasi ini meliputi triangulasi sumber dan metode. Patton (2006) berpendapat bahwa triangulasi sumber berarti membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam penelitian kualitatif. Hal itu dapat dicapai dengan:
1. Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara;
2. Membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa yang dikatakan secara pribadi;
3. Membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakan sepanjang waktu;
4. Membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan orang;
5. Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan.
Pada triangulasi dengan metode menurut Patton (2006) terdapat dua strategi, yaitu:
1. Pengecekan derajat kepercayaan penemuan hasil penelitian beberapa teknik pengumpulan data;
2. Pengecekan derajat kepercayaan beberapa sumber data dengan metode yang sama.
Triangulasi metode ini dengan jalan memanfaatkan penelitian atau pengamatan lainnya untuk keperluan pengecekan kembali derajat kepercayaan data. Pemanfaatan pengamat lainnya membantu mengurangi ketidaktepatan dalam pengumpulan data. Pengubahan/ pemerolehan kata dapat dinyatakan meningkat dan berhasil apabila:
1. Skor hasil observasi dan lembar tes menunjukkan peningkatan sebesar lebih dari 55%.
2. Subyek mengalami peningkatan word acquisition yang lebih baik pada saat kegiatan penelitian.
Dalam penelitian tindakan ini data berwujud data kualitatif, karena itu data yang terkumpul akan dianalisis dengan menggunakan teknik analisis prosentase konstan. Rumus yang digunakan dalam menghitung perubahan/ peningkatan word acquisition dalam teknik analisis prosentase konstan sebagai berikut:
Sebelum tindakan- sesudah tindakan
Prosentase perubahan (PC)= sebelum tindakan x 100%
(Ali, 2007)
F. Indikator Kinerja
Bagian ini memaparkan tolak ukur keberhasilan tindakan yang dilakukan. Hal ini dilakukan sebagai dasar penilaian berhasil tidaknya kegiatan yang telah dilakukan. Penggunaan indikator sebagai tolak ukur berhasil tidaknya penyajian bercerita menggunakan wayang kardus untuk meningkatkan word acquisition pada anak di taman kanak-kanak kota Magelang dan kabupaten Magelang tahun pelajaran 2011/ 1012. Perubahan atau terjadinya peningkatan word acquisition dinyatakan berhasil apabila:
1. Subyek dapat memiliki word acquisition sebesar 55% dari kondisi sebelumnya.
2. Subyek menunjukkan tingkat word acquisition yang lebih baik.

G. Jadwal Kegiatan Penelitian
Jadwal kegiatan penelitian yang penulis laksanakan dimulai dari bulan September 2011 sampai masalah dapat diatasi. Jadwal kegiatan tergambar pada tabel berikut:
Tabel
Jadwal Kegiatan Penelitian
No Kegiatan Waktu Pelaksanaan
1 Pra Penelitian September 2011
2 Pelaksanaan Penelitian Oktober- Desember 2011
3 Pelaporan Desember 2011- Awal Januari 2012

—-

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Sesuai dengan rencana penelitian tindakan yang dilakukan serta hipotesis tindakan yang akan diuji dalam pelaksanaannya, penelitian ini menempuh langkah tindakan sebanyak tiga siklus. Kegiatan ini dilakukan semenjak sebelum dilaksanakan tindakan untuk meningkatkan word acquisition pada anak dengan melaksanakan penilaian dan pengamatan tentang pemerolehan kata subyek penelitian di lapangan, melakukan wawancara terhadap guru kelas serta wawancara terhadap orang tua subyek. Kegiatan penelitian didasari atas adanya masukan yang diperoleh dalam diskusi antara guru kelas dengan diri peneliti. Dalam diskusi tentang tingkat word acquisition pada anak diperoleh masukan bahwa masih dijumpai siswa-siswa yang memiliki tingkat word acquisition rendah; dengan kata lain tingkat word acquisition pada anak sangat perlu ditingkatkan. Berdasarkan pengamatan pra penelitian tindakan yang dilakukan peneliti pada beberapa taman kanak-kanak di kabupaten Magelang dan di kota Magelang memang penelitian word acquisition ini perlu dilakukan.
Adapun yang menjadi indikator rendahnya word acquisition bila anak belum/ kurang mampu dalam: 1) melakukan pengenalan kosa kata baru secara cepat; 2) mengucapkan dan memaknai/ memberi arti sebuah kata baru; 3) memberikan reaksi terhadap kata baru yang didengar; 4) menyimak dengan baik lalu berupaya mengingat kata baru; 5) menunjukkan daya konsentrasi yang lebih lama; 6) menyampaikan sebuah pertanyaan terkait dengan kosa kata baru tersebut.
Untuk membantu guru kelas dalam melaksanakan tugas serta dalam rangka menumbuhkembangkan verba-linguistic intelligence pada anak, mendorong peneliti untuk melakukan penelitian tindakan kelas dengan judul “Optimalisasi Word Acquisition Pada Anak Melalui Bercerita Menggunakan Wayang Kardus” di taman kanak-kanak kabupaten dan kota Magelang tahun pelajaran 2011/ 2012.

A. Hasil Penelitian
1. Pelaksanaan Siklus I
a. Observasi Pelaksanaan Tindakan
Kegiatan observasi dilakukan selama 10 hari mulai tanggal 20- 29 Oktober 2011. Hasil observasi menunjukkan bahwa para siswa/ subyek penelitian memang memiliki word acquisition yang rendah.

Tabel 5
Indikator Rendahnya Word Acquisition Anak Sebelum Tindakan

No Indikator W.A J u m l a h
1. Lambat mengenal kosa kata baru ABA 1 ABA 4 ABA 7 Pert Dey Bum ABA 5 ABA 6
22 26 15 22 17 24 13 16
2. Sulit memaknai kata baru 22 27 15 22 17 25 14 15
3. Tidak bereaksi terhadap kata baru
21
26
14
21
18
25
13
16
4. Tidak menyimak dan mengingat kata baru
20
26
14
20
17
24
13
16
5. Konsentrasi rendah 20 25 15 20 17 23 14 16
6. Tidak menyampaikan pertanyaan tentang kata baru

21

24

13

21

16

25

14

15
.
Keterangan:
ABA 1 = ABA 1 Kota Magelang
ABA 4 = ABA 4 Kota Magelang
ABA 7 = ABA 7 Kota Magelang
Pertiwi = TK Pertiwi Kota Magelang
Dey = TK PGRI 2 Deyangan Kab. Magelang
Bmrj = TK ABA 1 Bumirejo Kab. Magelang
ABA 5 = TK ABA 5 Kab. Magelang
ABA 6 = TK ABA 6 Kab. Magelang

Berdasarkan tabel hasil observasi di atas, jelaslah bahwa subyek penelitian tersebut me-mang memiliki tingkat word acqusition yang sangat rendah. Oleh sebab itu para subyek perlu ditingkatkan kemampuan word acquisitionnya melalui penyajian bercerita menggunakan wayang kardus.
b. Pelaksanaan Tindakan
Tindakan I dilaksanakan dengan cara mengadakan wawancara kepada guru kelas dan orang tua siswa serta observasi terhadap subyek penelitian yang dilaksanakan pada tanggal 24 Oktober 2011 hingga 2 Nopember 2011. Tiap pertemuan wawancara masing-masing berlangsung 30- 40 menit di dalam dan di luar ruang kelas. Selengkapnya digambarkan pada matriks sebagai berikut:
Tabel 6. Matrik Pelaksanaan Tindakan I Bercerita Menggunakan Wayang Kardus
Untuk Mengoptimalkan word acquisition pada Anak
Tahapan Kegiatan Peran Peneliti Peran subyek Hasil
Pembukaan Mengadakan pendekatan secara persuasif Menciptakan suasana akrab, hangat, terbuka, dan bersahabat Menerima peneliti dengan penuh kepercayaan Tercipta hubungan yang baik
Penjelasan Menjelaskan maksud dan tujuan Menyampaikan maksud dan tujuan Menyimak dan mengerti maksud kehadiran peneliti Pemahaman kehadiran peneliti
Tindakan penyelesaian masalah Penerapan bercerita menggunakan wayang kardus Menyampaikan cerita menggunakan wayang kardus untuk mengoptimalkan Word acquisition Sanggup menyimak jalannya cerita dan menjawab serta merespon pertanyaan Kesimpulan sementara
Penutup Mengakhiri pertemuan Menutup dan menyampaikan rencana pertemuan selanjutnya Menerima rencana pertemuan selanjutnya

c. Observasi dan refleksi
Observasi dan refleksi pada siklus I dilaksanakan pada tanggal 3- 18 Nopember 2011. Kegiatan ini bertujuan mengetahui kekurangan-kekurangan dan kemajuan yang dicapai selama proses tindakan siklus I dan rencana apa yang perlu diambil untuk tindakan berikutnya. Hasil pelaksanaan tindakan berikutnya pada siklus I dijelaskan pada tabel berikut ini:
Tabel 7
Perubahan Tingkat Word Acquisition Sebelum dan Sesudah Tindakan I pada Subyek
No Indikator Word Acquisition Sebelum Tindakan Sesudah Tindakan Prosentase Perubahan (%)
1. Melakukan pengenalan kosa kata baru secara cepat 65 81 20
2. Mengucapkan & memaknai arti sebuah kata baru 60 75 20
3. Memberikan reaksi terhadap kata baru yang didengar 60 80 25
4. Menyimak dengan baik lalu berupaya mengingat kata baru 65 81 20
5. Menunjukkan daya konsentrasi yang lebih lama 70 93 25
6. Menyampaikan sebuah pertanyaan terkait dengan kata baru tersebut 65 76 17

Berdasarkan data tersebut dengan mencermati perilaku subyek dapat diketahui bahwa telah terjadi peningkatan word acquisition pada subyek sesudah tindakan I yang menunjukkan hasil sebagai berikut:
1) Melakukan pengenalan kosa kata baru secara cepat sebelum dilakukan tindakan sebanyak 65 subyek dan setelah dilakukan tindakan meningkat menjadi 81 subyek;
2) Mengucapkan dan memaknai memberi arti sebuah kata baru sebelum dilakukan tindakan sebanyak 60 subyek dan setelah dilakukan tindakan meningkat menjadi 75 subyek;
3) Memberikan reaksi terhadap kata baru yang didengar sebelum dilakukan tindakan sebanyak 60 subyek dan setelah dilakukan tindakan meningkat menjadi 80 subyek;
4) Menyimak dengan baik lalu berupaya mengingat kata baru sebelum dilakukan tindakan terjadi pada sebanyak 65 subyek dan setelah dilakukan tindakan meningkat menjadi 81 subyek;
5) Menunjukkan daya konsentrasi yang lebih lama sebelum dilakukan tindakan sebanyak 70 subyek dan setelah dilakukan tindakan tetap terjadi pada 93 subyek;
6) Menyampaikan sebuah pertanyaan terkait dengan kosa kata baru tersebut sebelum dilakukan tindakan 65 subyek dan setelah dilakukan tindakan menjadi 76 subyek.
Dari data tersebut di atas dapat diketahui bahwa peningkatan word acquisition pada anak pada seluruh subyek belum mencapai peningkatan lebih dari 55%, oleh sebab itu perlu dilanjutkan tindakan pada siklus berikutnya.
2. Pelaksanaan Siklus II
a. Pelaksanaan Tindakan II
Tindakan pada siklus II ini dilaksanakan pada tanggal 3 hingga 18 Nopember 2011 untuk seluruh subyek di 4 taman kanak-kanak di kota Magelang dan 4 taman kanak-kanak di kabupaten Magelang. Tiap pertemuan berlangsung 40- 50 menit di ruang kelas sekolah masing-masing. Tahap kegiatan pelaksanaan tindakan II pada siklus II yang berupa bercerita menggunakan media wayang kardus dapat digambarkan dengan matrik sebagai berikut:

Tabel 8
Matriks Tindakan II Bercerita Menggunakan Wayang Kardus pada Subyek
Tahapan Kegiatan Peran Peneliti Peran Subyek Hasil
Apersepsi Membuka Kegiatan Membuka, melakukan pemanasan kegiatan Menerima peneliti dengan penuh kepercayaan Tercipta hubungan yang baik
Penjelasan Penjelasan maksud dan tujuan Menyampaikan maksud kedatangan Memahami maksud kegiatan Subyek menerima dengan baik
Inti kegiatan Bercerita menggunakan wayang kardus Membawakan cerita semenarik mungkin Menyimak, bertanya, berkonsentrasi Memahami jalannya cerita, menemukan kata baru
Penutup Evaluasi kegiatan Bertanya kepada subyek tentang kosa kata baru Menjawab, mengomentari Kesimpulan sementara

b. Observasi dan Refleksi
Observasi dan refleksi pada siklus II dilaksanakan pada tanggal 3- 18 Nopember 2011. Tujuan kegiatan pada tahap ini adalah untuk mengevaluasi proses kegiatan selama tindakan II dan hasil pelaksanaan tindakan pada siklus II. Hasil pelaksanaan tindakan II pada siklus II dijelaskan sebagai berikut:
Tabel 9
Peningkatan Word Acquisition Pada Subyek Sebelum dan Sesudah Tindakan II
No Indikator Word Acquisition Sebelum Tindakan Sesudah Tindakan Prosentase Perubahan (%)
1. Melakukan pengenalan kosa kata baru secara cepat 65 105 39
2. Mengucapkan & memaknai arti sebuah kata baru 60 101 41
3. Memberikan reaksi terhadap kata baru yang didengar 60 99 39
4. Menyimak dengan baik lalu berupaya mengingat kata baru 65 108 40
5. Menunjukkan daya konsentrasi yang lebih lama 70 121 42
6. Menyampaikan pertanyaan terkait kata baru 65 112 42
Dari data tersebut, setelah peneliti mencermati pemerolehan kata pada subyek dapat diketahui bahwa telah terjadi perubahan word acquisition pada subyek yang lebih baik terbukti jumlah subyek yang dapat memenuhi keenam indikator lebih banyak dengan penjelasan sebagai berikut:
1. Melakukan pengenalan kosa kata baru secara cepat sebelum dilakukan tindakan sebanyak 65 subyek setelah dilakukan tindakan II berubah menjadi 105 subyek.
2. Mengucapkan dan memaknai/ memberi arti sebuah kata baru sebelum dilakukan tindakan sebanyak 60 subyek setelah diberikan tindakan II meningkat menjadi 101 subyek.
3. Memberikan reaksi terhadap kata baru yang didengar setelah dilakukan tindakan hanya dimiliki oleh 60 orang subyek, setelah diberikan tindakan II berubah menjadi 99 subyek.
4. Menyimak dengan baik lalu berupaya mengingat kata baru sebelum dikenai tindakan hanya 65 orang subyek, setelah dilaksanakan tindakan II berubah menjadi 108 subyek;
5. Menunjukkan daya konsentrasi yang lebih lama semula setelah dilakukan tindakan hanya dimiliki oleh 70 subyek, setelah dikenai tindakan II meningkat mencapai 121 subyek.
6. Menyampaikan sebuah pertanyaan terkait dengan kata baru sebelum dilaksanakan tindakan dilakukan oleh 65 subyek, setelah dilakukan tindakan II mencapai 112 subyek.
Sekalipun peneliti telah melakukan tindakan II, namun perubahan berupa peningkatan word acquisition pada anak belumlah maksimal, belum terjadi pencapaian target hingga 55%. Dengan demikian peneliti memandang perlu dilaksanakan siklus berikutnya yaitu pelaksanaan tindakan III pada siklus III.

3. Pelaksanaan Siklus III
a. Pelaksanaan Tindakan III
Tindakan pada siklus III telah dilaksanakan pada tanggal 3 hingga 18 Nopember 2011 untuk semua subyek penelitian baik subyek di kota Magelang maupun di kabupaten Magelang. Tiap pertemuan berlangsung 40- 50 menit di ruang kelas sekolah masing-masing. Pada dasarnya pelaksanaan tindakan III ini sama dengan pelaksanaan tindakan II hanya lebih intensif. Peneliti melakukan tanya jawab, menjelaskan makna, juga menekankan pada kosa kata- kosa kata baru yang dianggap belum begitu dikuasai oleh subyek pada tindakan II.
b. Observasi dan Refleksi
Observasi dan Refleksi pada siklus III dilaksanakan seketika sesaat setelah peneliti melakukan tindakan III yaitu pada tanggal 3 sampai 18 Nopember 2011. Hasil observasi pada siklus III ini dapat dilihat pada lampiran. Setelah melewati tindakan I, tindakan II, dan tindakan III pada siklus I, siklus II, dan siklus III setelah subyek penelitian melakukan pengenalan dan pemerolehan kosa kata baru melalui penyampaian bercerita menggunakan wayang kardus diharapkan word acquisition subyek meningkat. Hasil pelaksanaan tindakan III pada siklus III dijelaskan pada tabel sebagai berikut:
Tabel 10
Perubahan Word Acquisition Anak Sebelum dan Sesudah Tindakan III

No Indikator Word Acquisition Sebelum Tindakan Sesudah Tindakan Prosentase Perubahan (%)
1. Melakukan pengenalan kosa kata baru secara cepat 65 153 58
2. Mengucapkan & memaknai arti sebuah kata baru 60 148 59
3. Memberikan reaksi terhadap kata baru yang didengar 60 147 59
4. Menyimak dengan baik lalu berupaya mengingat kata baru 65 155 58
5. Menunjukkan daya konsentrasi yang lebih lama 70 156 55
6. Menyampaikan pertanyaan terkait kata baru 65 150 57

Tabel 10 di atas menunjukkan bahwa terjadi perubahan signifikan jumlah subyek yang dapat memenuhi indikator word acquisition. Artinya setelah peneliti memberikan siklus III tindakan III yang lebih intensif telah menghasilkan tingkat word acquisition pada anak yang jauh lebih baik dari tindakan- tindakan sebelumnya. Hal tersebut dapat peneliti jelaskan sebagai berikut:
1. Melakukan pengenalan kosa kata baru secara cepat sebelum tindakan I hanya dapat dilakukan oleh 65 subyek, setelah dikenai tindakan III mencapai 153 subyek.
2. Mengucapkan dan memaknai/ memberi arti sebuah kata baru sebelum tindakan dilakukan oleh 60 subyek, setelah diberikan tindakan III mencapai 148 subyek.
3. Memberikan reaksi terhadap kata baru yang didengar sebelum tindakan dapat dilakukan oleh 60 subyek saja, setelah selesai tindakan III meningkat menjadi keseluruhan subyek mencapai 147 subyek.
4. Menyimak dengan baik lalu berupaya mengingat kata baru yang pada sebelum tindakan dilakukan oleh 65 subyek, namun setelah dilaksanakan tindakan III dapat mencapai keseluruhan subyek 155 subyek.
5. Menunjukkan daya konsentrasi yang lebih lama yang sebelum tindakan dilakukan oleh 70 subyek setelah tindakan III mencapai 156 subyek.
6. Menyampaikan sebuah pertanyaan terkait dengan kosa kata baru sebelum tindakan 65 subyek, setelah usai tindakan III meningkat menjadi 150 subyek.
Berdasarkan dari tabel-tabel di atas dapat diketahui bahwa telah terjadi peningkatan word acquisition pada anak yang sangat signifikan pada seluruh subyek setelah melewati tindakan III pada siklus III dan telah mencapai lebih dari 55% yang artinya tingkat pemerolehan kata anak cukup tinggi. Oleh sebab itu pelaksanaan/ pemberian tindakan pada subyek dapat dihentikan. Dengan demikian dapat peneliti katakan bahwa bercerita menggunakan wayang kardus telah dapat mengoptimalkan word acquisition anak taman kanak-kanak di kabupaten Magelang dan kota Magelang.
Tabel 11
Matrik Peningkatan Word Acquisition Sebelum dan Setelah Tindakan Pada Semua Siklus
No Indikator Word Acquisition Sebelum Tindakan Sesudah Tindakan Perubahan Semua Siklus (%)
1. Melakukan pengenalan kosa kata baru secara cepat
65
153
58
2. Mengucapkan & memaknai arti sebuah kata baru
60
148
59
3. Memberikan reaksi terhadap kata baru yang didengar
60
147
59
4. Menyimak dengan baik lalu berupaya mengingat kata baru
65
155
58
5. Menunjukkan daya konsentrasi yang lebih lama
70
156
55
6. Menyampaikan pertanyaan terkait kata baru
65
150
57

B. Pembahasan
Hasil akhir merupakan hasil yang diperoleh pada akhir tindakan. Hasil akhir tersebut ditunjukkan untuk menjawab permasalahan penelitian yang dilakukan yaitu: Apakah media bercerita menggunakan wayang kardus dapat mengoptimalkan word acquisition pada anak? dan menguji hipotesis yang peneliti ajukan bahwa Optimalisasi Word Acquisition pada Anak dapat dilakukan melalui bercerita menggunakan wayang kardus.
Pada tindakan III dari keseluruhan subyek penelitian menunjukkan perubahan dan peningkatan word acquisition, yaitu dari word acquisition rendah menjadi lebih tinggi. Hal ini dapat dibuktikan dengan dimilikinya indikator- indikator word acquisition tinggi pada subyek penelitian setelah subyek menerima penyajian bercerita menggunakan wayang kardus.
Sebanyak 160 subyek sudah dapat menunjukkan adanya peningkatan word acquisition yang tinggi yang tampak pada indikator-indikator di bawah ini:
1. Melakukan pengenalan kosa kata baru secara cepat dapat dilakukan oleh 153 subyek, berarti terjadi peningkatan sebesar 58%;
2. Mengucapkan dan memaknai/ memberi arti sebuah kata baru dilakukan oleh 154 subyek, artinya ada peningkatan sebanyak 59%;
3. Memberikan reaksi terhadap kata baru yang didengar oleh 147 subyek, berarti terjadi peningkatan sebesar 59%;
4. Menyimak dengan baik lalu berupaya mengingat kata baru sebanyak 155 subyek, artinya ada peningkatan sebanyak 58%;
5. Menunjukkan daya konsentrasi yang lebih lama sejumlah 156 subyek, berarti terjadi peningkatan sebesar 55%; dan
6. Menyampaikan sebuah pertanyaan terkait dengan kata baru tersebut sebanyak 150 subyek, artinya ada peningkatan sebanyak 57%.
Berdasarkan hasil penelitian di atas peneliti dapat menyimpulkan bahwa media bercerita wayang kardus sangat efektif untuk meningkatkan word acquisition pada anak di taman kanak-kanak di kota Magelang dan kabupaten Magelang. Hal ni sejalan dengan keberhasilan tentang media bercerita pada beberapa temuan dan penelitian terdahulu sebagai berikut:
Media bercerita atau alat peraga dalam bercerita menduduki tempat yang paling penting dalam lapangan kebahasaan pada pendidikan anak usia dini. Media buku cerita telah memberikan pengaruh yang besar terhadap kemampuan bahasa anak (Corey: 2009). Menurut O. Leary dan Drabmant (Wandono, 2008), media boneka tangan telah sukses meningkatkan pemahaman kosa kata yang kacau, menambah tingkat atensi anak, kemampuan anak mengatakan kembali lebih besar dalam beberapa kata.
Contoh media cerita dalam penelitian Brassel (2009), enam belas anak dilatih menyimak sebuah cerita dengan menggunakan buku bergambar; yang memfokuskan peningkatan daya konsentrasi anak; selama 6 bulan kebanyakan guru pendidikan anak menggunakan buku bergambar besar dan mencolok setiap bercerita untuk anak. Hasilnya, siswa yang banyak menyimak cerita menggunakan buku cerita bergambar menunjukkan peningkatan dalam kemampuan bertuturnya.
Berbagai penelitian sebelumnya telah menemukan bahwa betapa pentingnya alat peraga media bercerita bagi anak. Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti dapat menyatakan bahwa wayang kardus benar-benar efektif sebagai salah satu media bercerita yang menarik untuk meningkatkan kemampuan word acquisition anak.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1. Teori
Dalam bercerita pada anak usia dini, penggunaan media bercerita sangat ditekankan pada peningkatan word acquisition anak. Dalam hal ini semula word acquisition anak rendah berubah menjadi tinggi karena anak menyimak cerita yang disajikan menggunakan wayang kardus. Cerita yang diperdengarkan menggunakan media cerita wayang kardus telah mampu mempermudah anak dalam melakukan pengenalan kosa kata baru serta anak dapat mengucapkan dan memaknai sebuah kata baru. Setelah sesaat anak mendengar kata baru dia dengan mudah dan cepat dapat memberikan reaksi terhadap kata tersebut, sebab anak juga telah menyimak dengan baik dan berupaya mengingat kata baru itu. Karena anak telah menunjukkan daya konsentrasi yang lebih lama ketika mendengar cerita yang dibawakan melalui wayang kardus yang kemudian berkontribusi pada kemampuan anak dalam menyampaikan sebuah pertanyaan terkait dengan kata baru tersebut.
Berdasarkan hal di atas maka dapat disimpulkan bahwa optimalisasi word acquisition pada anak dapat ditingkatkan melalui bercerita menggunakan wayang kardus.
2. Hasil Penelitian
Terjadinya peningkatan dan optimalisasi word acquisition pada anak setelah menyimak cerita yang disampaikan menggunakan media wayang kardus dapat peneliti laporkan sebagai berikut:
a. Melakukan pengenalan kosa kata baru secara cepat sebelum dilakukan tindakan dan setelah dilakukan tindakan mengalami perubahan sebanyak 58%;
b. Mengucapkan dan memaknai/ memberi arti sebuah kata baru mengalami peningkatan sejumlah 59%;
c. Memberikan reaksi terhadap kata baru yang didengar telah mengalami perubahan sebanyak 59%;
d. Menyimak dengan baik lalu berupaya mengingat kata baru mengalami peningkatan sejumlah 58%;
e. Menunjukkan daya konsentrasi yang lebih lama telah mengalami perubahan sebanyak 55%; serta
f. Menyampaikan sebuah pertanyaan terkait dengan kata baru tersebut mengalami peningkatan sejumlah 57%.
B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan dalam penelitian ini, maka hal yang dapat peneliti sarankan adalah sebagai berikut:
1) Dalam upaya peningkatan kemampuan berbahasa pada anak usia dini, guru dapat menggunakan media wayang kardus dalam bercerita;
2) Para tenaga pendidik anak usia dini dapat menggunakan wayang kardus sebagai media bercerita karena wayang kardus telah terbukti efektif meningkatkan word acquisition pada anak.
3) Diperlukan upaya-upaya kreatif dan inovatif dari para tenaga pendidik anak usia dini terkait dengan berbagai media bercerita yang menarik;
4) Tenaga pendidik anak usia dini dapat meningkatkan kemampuan word acquisition anak melalui bercerita;
5) Perlunya memvariasikan penyampaian pesan-pesan moral, sosial, dan agama lewat bercerita yang tidak hanya disajikan dengan cara-cara konvensional;
6) Daya konsentrasi dan menyimak anak juga dapat ditingkatkan dengan berbagai upaya menarik dalam cerita yang diperdengarkan oleh guru.
—-

DAFTAR PUSTAKA

Ali, Satariah. 2007. Penelitian Pola Penanganan dan Pelaksanaan Pelayanan. Yogyakarta
Andi Ofset.
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka
Cipta.
________________. 2007. The Development of Intellect. New York: The McGraw Hill
Companies.
Berk, Laura E. 2009. Child Development. Tokyo: McGraw Hill Kogakusha.
Brassel. 2009. The Friendship Telling: Helping Kids Learn.
Broomley. 2009. The Local Historian’s table book. Moses Aaron.
Corey, Gerald. 2009. Explorations in Personal Growth. Malaysia: University Sarawak.
Depdiknas. 2010. Standar Kemampuan Berbahasa Anak. Jakarta: Bumi Aksara.
Dhieni, Nurbiana, dkk. 2006. Metode Pengembangan Bahasa. Jakarta: Universitas Terbuka.
Ferguson, Adam. 2009. An Essay on the History. Kotabaru: Kelantan.
Gray, John. 2010. Thoughts on Humans and Other Animals.Geerken.
Ismoerdijahwati, K. 2007. Art & Technique of Storytelling.
Jensen, Derrick. 2010. A Language Older than Words.
L.Moloeng. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Rosdakarya.
Margono, S. 2008. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Musfiroh, Tadkiroatun. 2005. Menumbuhkembangkan Minat Baca Anak. Jakarta: PT Gra-
media Widiasarana.
Stern, Clara. 2008. Psychology of Early Childhood up to the sixth year of age. Florida:
Harcourt Brace & Company.
Surachmad, Winarno. 2004. Metodologi Pengajaran Prasekolah. Tangga Pustaka.
Suryabrata, Sumadi. 2004. Metodologi Penelitian. Jakarta: Bumi Aksara.
Tabrani, Primadi. 2009. Bahasa Rupa. Bandung: Penerbit ITB.
Zuhriah, Nurul. 2006. Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan, Teori dan Aplikasi.
Jakarta: Bumi Aksara.

DAFTAR SUBYEK TK ABA 1 KOTA MAGELANG

NO NAMA
1 Zhafira Arwa Seta
2 Akbar Pasha Ismail
3 Rasya Yuda Pratama
4 Nurul Riski Ramadani
5 Anggifa Puspa W
6 Putri Dwi Setyowati
7 Salwa Kaila Putri
8 Naza Rosidina
9 Nabila Alfira Dwifana
10 Iqbad David Anwari
11 Fatha Kharis Kaysya
12 Olin Widyarni
13 M. Viky Hananda
14 Kaysya Lutfi A
15 Fasya Faudsar F
16 Rainaldi Ali A
17 Muhammad Fikri Saputra
18 Alya Haninda R
19 Haidar Amru
20 Devi Handayani
21 Akbar Pasha Ismail
22 Adella Bijak M
23 Faris Athar Kaila
24 Naufal Anindya Jati

DAFTAR SUBYEK TK ABA 4 KOTA MAGELANG

NO NAMA SUBYEK
1 Aura Nadaa Akhlina
2 Aulia Schatzi Meyzaluna
3 Djenar Pramudya Apsara
4 Dimas Ahmad Aprianto
5 Febrilian Zenryona
6 Fawwas Naufal Tsqif
7 Jundu Millah Ibrahim
8 Laili Wasliati
9 Muh Rais Al Labiq
10 Maulana Dyanayaksa
11 Muh Umar Rathullah
12 Micheeya Swesthaty
13 Naila Farha Aprilia
14 Nur Mayta Riskyka
15 Elang Abra Adhiyeksa
16 Seno Hakim Uliniha
17 Syidad Abdilbar M
18 Vernbano Feby YP
19 Zerda Fauzana
20 Khalisa Anisa Salsabila

DAFTAR SUBYEK TK ABA 7 KOTA MAGELANG

NO NAMA SUBYEK
1 Aji Bayu Ramadhan
2 Aridla Nailah Husna
3 Allidya Syafa Sasikirana
4 Agis Kiky Fatima
5 Fachri Azizzul Akbar
6 Fakhri Ahmad Yawmil A
7 Kayla Athanaila Virgianisa
8 Marzuqa Ryma Ramadhani
9 Muhammad Galang Prayogo
10 M. Masruchan Halintar
11 Qeisya Putri Zahira Syifa
12 Septiana Putri Ramadhani
13 Wafa Ilham Kunaifi
14 Zuhad Awwab Syahbana
15 Fa’ath Rizqy Mahardika

DAFTAR SUBYEK TK PERTIWI KOTA MAGELANG

NO NAMA SUBYEK
1 Albertus Magnus Among
2 Adhimar Marizka Athallah
3 Alicia Efendi
4 Brayan Rabhani PH
5 Chika Dewinta Syarif
6 Felingga Arkayla Shafik
7 Farelka Riesky Ramdhani
8 Faza Aruna Herwondo
9 Galang Semesta
10 Izza Rakha Aroyan
11 M. Davin Farel Alfatah
12 Nabila Galuh Candrika
13 Nafiza Nanda Ariela
14 Neyza Nanda Ariella
15 Naufandra Gustav R.
16 Rasya Adhita Faiz
17 Rayhan Abbel Saputra
18 Raisya Panji Anindito
19 Sheycalluna Alinsky
20 Syafira Eka Ayudya P.
21 Vaidalita Aurelia Damarsary
22 Venus Yumna Tsabilah
23 Nabila Zahra

DAFTAR SUBYEK TK ABA 5 KAB. MAGELANG

NO NAMA SUBYEK
1 Afaf Maula Hudzaifah
2 Alif Santoso
3 Amelia Niken Puspitasari
4 Arnolisyahid
5 Ewank Dwi Saputra
6 Joni Aprilianto
7 Muhammad Afif
8 Muhamad Aiman
9 Nofi Nur Fitriyani
10 Safarina Annajah
11 Siti Fatma Asih Subekti
12 Tiara Ariana Andita Putri
13 Zifran Hably Raka Alfari
14 Kelvin Amardika
15 Rado
16 Sellena Astritya Wahana

DAFTAR SUBYEK TK ABA 6 KAB. MAGELANG

NO NAMA SUBYEK
1 Atta Amrullah Ahmad
2 Dama Santosa
3 Dedi Wibowo
4 Deni Akhmad Susanto
5 Dika Sakbani Nurohmat
6 Dwiki Darmawan
7 Hendra Eka Satriya
8 Ikhsan Eka Susanto
9 Laela Suryaningsih
10 Muhammad Achsanal Kholiqi
11 Muhammad Zidan Arsyadana
12 Nayla Rizky Mareta
13 Rizky Eka Saputri
14 Nurmala Ratih Permatasari

DAFTAR SUBYEK TK ABA 1 BUMIREJO KAB. MAGELANG

NO NAMA SUBYEK
1 Aida Maya Handayani
2 Anita Nur Ramadani
3 Asla Afia
4 Azzahra Akhsanu Salsabila
5 Cholis Febri Rohmani
6 Damar Buana Panyuluh
7 Desi Tanoshiningtyas
8 Dimas Arya Sadewa
9 Erlangga Tri Hanung Sanjoyo
10 Faras Muhamad Ghibran
11 Fitri Nur Zaidah
12 Ibnu Salis Ahmad Sya’bani
13 Indah Restu Dwi Hapsari
14 Indah Restu Fatimatuzzahra
15 Muhammad Falih Ardysyah
16 Muhammad Rudi
17 Muhammad Tri Wahyudi
18 Naya Novita Azzahra
19 Nova Dwi Ningsih
20 Rizki Nur Fadli
21 Wahyu Febriani
22 Yoga Virga Dwi
23 Zaki Fathul Kirom
24 Falsa Adin Sakina
25 Naila Fauziyya Putri

DAFTAR SUBYEK TK PGRI 2 DEYANGAN KAB. MAGELANG

NO NAMA SUBYEK
1 Ade Teguh Febriyanto
2 Ahmad Lutfi Atijati
3 Alia Siti Mutmainah
4 Aurella Felita Azzahra
5 Desy Nurlita Tri Utami
6 Dimas Hayu Pangestu
7 Dinda Bigusnal Aulia
8 Fattan Hafidz Adiyatma A.
9 Ilham Sandi Dwi Putra
10 Junia Puspitaningrum
11 Laurenzia Kurnia Bella
12 Muhammad Ramdani
13 Najwa Raisa Fadila
14 Niken Esteria
15 Riki Setiawan
16 Rio Mediatoro
17 Violia Dwi Ramadhani
18 Rahma Khoirul Nisa

PEDOMAN OBSERVASI
Peningkatan Word Acquisition pada Anak

Tempat Observasi :
Hari/ tanggal pelaksanaan :
Tindakan ke :

NO Aspek yang Diamati Jumlah Subyek (tally)
1 Melakukan pengenalan kosa kata baru secara cepat
2 Mengucapkan sebuah kata baru yang baru saja didengar
3 Mengartikan kata baru
4 Menunjukkan adanya reaksi setelah mendengar kata baru
5 Menyimak dengan baik
6 Menunjukkan upaya mengingat kata baru
7 Menunjukkan konsentrasi yang lebih lama

PEDOMAN WAWANCARA GURU KELAS
Peningkatan Word Acquisition Pada Anak

Tempat Wawancara :
Waktu Pelaksanaan :

DAFTAR PERTANYAAN

NO PERTANYAAN JAWABAN KETERANGAN
1 Apakah subyek dapat mengenal kata baru dengancepat
2 Setelah subyek mendengar sebuah kata baru apakah dia dapat mengucapkan kembali?
3 Apakah subyek dapat mengartikan kata baru?
4 Setiap subyek memperoleh kata baru, apakah dia menunjukkan reaksi?
5 Setiap subyek mendengarkan cerita, apakah dia dapat menyimak dengan baik?
6 Ketika sebuah kata baru diperdengarkan apakah dia tampak berusaha mengingat kata tersebut?
7 Ketika cerita diperdengarkan, apakah subyek mampu berkonsentrasi lebih lama?

Pewawancara

Lilis M

PEDOMAN WAWANCARA ORANG TUA
Peningkatan Word Acquisition pada Anak

Nama Subyek :
Nama Orang Tua :
Alamat :
Nama Sekolah :

NO PERTANYAAN JAWABAN KETERANGAN
1 Apakah putra Bapak/ Ibu dapat mengenal kata baru dengan cepat?
2 Jika Bpk/ Ibu kenalkan kata baru, apakah putra Bpk/ Ibu dapat mengucapkannya kembali?
3 Apakah putra dapat mengartikan kata baru tersebut?
4 Kalau dia mendengar kata baru, apakah ada reaksi?
5 Jika Bpk/ Ibu bercakap-cakap dengannya, apakah putra dapat menyimak dengan baik?
6 Jika Bpk/ Ibu kenalkan kata baru apakah putra berusaha mengingat-ingat kata itu?
7 Jika putra diajak berbicara, apakah dia mampu berkonsentrasi lebih lama?

Pewawancara

Lilis M.

KISI-KISI WORD ACQUISITION PADA ANAK

1. Melakukan pengenalan kosa kata baru secara cepat.
2. Mengucapkan sebuah kata baru yang baru saja didengar.
3. Mengartikan kata baru.
4. Menunjukkan adanya reaksi setelah mendengar kata baru.
5. Menyimak dengan baik.
6. Menunjukkan upaya mengingat kata baru.
7. Menunjukkan konsentrasi yang lebih lama.

CERITA I
SALAH HITUNG
PROLOG (PEMBUKA)
Ada dua liliput yang malas belajar dan sekolah. Karena salah menghitung buah hutan yang dibawa ke atas teratai di tengah dana, tiba-tiba teratai itu tenggelam kelebihan beban. Dan ketika mereka berenang di danau, tiba-tiba mereka diserang seekor ikan besar. Bisakah mereka selamat? Yuk kita ikuti petualangan seru mereka!
Monolog : Lala dan Lili liliput adalah anak liliput yang malas belajar dan sekolah.
Ketika teman-temannya belajar, Lala dan Lili liliput malah asyik bermain.
Lala : Ayo, Lili kita main perosotan! Ayo dong!
Lili : Oke, Lala! Tapi, hati-hati nanti kecebur, lho!
Lala : Daripada belajar, lebih asyik kita main, ya!
Lili : Kalau belajar berhitung itu aku suka pusing…. Wah, capek! Dari tadi kita ma-
in, sekarang kita pulang, yuk!
Monolog : Lalu..mereka pulang ke rumah jamur..
Mama : Lala dan Lili! Mama hari ini mau membuat jus buah hutan..Siang ini kalian
bisa bantu mama, kan? Sekarang kalian harus mencari buah hutan di sebe-
rang danau. Mama hanya butuh enam biji buah hutan saja. Pilihlah buah
hutan yang besar dan masak, ya!
Lala : Oke, deh mama! Kami pergi dulu. Assalamu’alaikum.
Mama : Wa,alaikumsalam! Hati- hati ya Lala dan Lili..
Monolog : Ketika tadi Mama menyebut angka 6, Lala dan Lili sebenarnya bingung.
Lili : Lalu gimana, nih! Kita kan belum tahu angka enam..
Lala : Iya, aku juga bingung. Kita baru bisa berhitung sampai angka 3!
Lili : Ya, gara-gara jarang sekolah dan belajar. Kita jadi Liliput bodoh begini!
Lala : Sudahlah Lili. Ayo sekarang kita menyeberang danau!
Lili : Naik perahu teratai Kwok Kodok, ya!
Lala : Assalamu’alaikum Kwok Kodok!
Kodok : Wa’alaikum salam Lala dan Lili!
Lala : Kwok, tolong antarkan kami ke seberang danau, ya!
Lili : Kami akan memetik 6 biji buah hutan di sana!
Kodok : Oke, tapi perahu terataiku hanya bisa mengangkut 2 penumpang dan 6 bi-
ji buah hutan! Jika mengangkut lebih dari itu, aku kuatir perahu terataiku
akan rusak. Ayo deh, sekarang kalian boleh naik!
Monolog : Maka..mereka pun segera naik…
Lala : Terima kasih, Kwok! Kamu baik sekali, deh!
Kwok : Hati-hati, jangan terburu-buru, nanti kamu jatuh! Bismillah.. ayo kita be-
rangkat!.. Nah, sebentar lagi kita sampai di seberang danau…
Monolog : Akhirnya……
Lala : Alhamdulillah..kita sudah sampai di seberang danau!
Lili : Daaaggh! Makasih Kwok! Nanti Kwok jemput kami lagi ya..
Monolog : Kemudian Lala dan Lili sibuk mencari dan memetik buah hutan…
Lala : Buah hutan ini cukup besar dan sudah masak! Buah hutannya kita kumpul-
kan di sini saja, Lili!
Lili : Ayo, kita cari lagi! Kita harus mengumpulkan 6 biji buah hutan! Sudah bera-
pa biji buah hutan yang kita petik, ya!
Lala : Coba saja kamu hitung, Lili!
Lili : Sudahlah aku kira jumlahnya nggak kurang dari 6.
Lala :: Oke, deh, sekarang kita pulang saja.
Monolog : Kemudian..Kwok datang menjemput Lala dan Lili.
Lala : Kemari, Kwok! Kami sudah selesai memetik buah hutan!
Kwok : Kalau begitu, ayo siap-siap kita pulang.
Lili : Perahu teratainya dekatkan ke sini, dong!
Monolog : Setelah semua buah hutan ada di atas perahu teratai, mereka pun segera
berangkat…
Kwok : Tunggu sebentar..Sepertinya ada yang tak beres nih… Ufh! Kok perahu tera-
taiku berat begini!
Monolog : Kemudian tiba-tiba…
Lala : Lho, ini ke..ke..kenapa kwok?
Lili : Kita mau tenggelam!!!
Kwok : Ayo loncaaat!! Pasti kalian sudah salah menghitung buah hutan!
Lili : Ufh! Aaah…Tolooong! Cepat selamatkan diri! Iya, kayaknya tadi buah hutan
nya lebih dari 6 biji.
Lala : Maafkan kami, Kwok! Tadi memang kami tidak menghitungnya. Abis kami
baru bisa berhitung sampai angka tiga.
Lili : Innalillaahi! Lihat di belakangmu Lala! A..ada..ada..i..ikan besaar!!
Lala : Ya, allah! Tolooong! Si Kwok kemana, ya?
Lili : Cepat berenang ke pinggir danau, Lala!
Kwok : Hei, aku di sini! Cepat, ayo! Kalian naik saja ke atas rumput ini!
Lili : Ya, allah tolong selamatkan kami…
Lala : Alhamdulillah..kita selamat! Ikan itu tak mungkin mengejar kita lagi!
Ikan : ya, gagal deh aku mau makan mereka!
Monolog : Setelah peristiwa itu, akhirnya Lala dan Lili jadi tahu. Mengapa mereka
harus sekolah dan belajar…
Pak Guru : Lili, tiga ditambah dua berapa, coba?
Lili : Ngg..lima pa guru!
Lala : Wah, subhanallah! Lili sekarang jadi pintar…
Monolog : Belajar ilmu itu menghapus dosa-dosa besar dan belajar Al-Quran itu me-
nambah pengertian akan agama.

CERITA II
MENYELAMATKAN HUTAN
PEMBUKA
Inilah hutan kita…hutan yang sangat lebat…yang menjadi paru-paru planet kita..bumi! Di dalam hutan para penghuni hidup dengan gembira, hidup rukun dan damai.
Gugug : Guug..guug
Kucing : Meong..
Kerbau : Sudah..sudah, sesama binatang jangan bertengkar
Gugug : Maaf
Kucing : Sama-sama
Kuda Nil : Suara apa itu
Bos penebang: Tebang semuanya…!!!
Anak buah : Baik bos!
Bos penebang: Angkut semua…!!
Gajah : Hey kancil, ada apa?
Kancil : Gawat…, gawat!!!
Kancil : Pak kehut…pak kehut…gawat Pak Kehut
Pak Kehut : Apa yang gawat Ncil?
Kancil : Manusia- manusia sedang merusak hutan dan menebang pohon-pohon.
Semua binatang: Apaaaa…??
Singa : Saya tidak mau tinggal di kebun binatang..
Mongki : Saya juga…
Kucing : Kalau kamu sih tinggal di rumah manusia juga tidak apa-apa
Gajah : Kita harus bertindak, pa Kehut..
Binatang lain : Betull..kalau tidak akan membahayakan kita semua.
Kerbau : Betul..
Gorila : Setuju..
Kerbau : Itu betul.. kita harus mencegah para manusia yang merusak dan menebang po
hon sembarangan di hutan kita..Saya akan menulis surat untuk mereka..
Monolog : Beberapa saat kemudian…
Kerbau : Mongki..berikan surat ini pada pimpinan manusia!
Mongki : Baik!!
Semua binatang: Hati-hati, ya Mongkiii..!!
Mongki : Ada surat dari Ketua Hutan untuk Pimpinan Manusia
Anak buah : Bos..ada monyet ingin bertemu
Bos : Suruh ke sini!!!
Surat : Kepada yang terhormat Bapak Pimpinan Manusia..Saya Ketua Hutan memo-
hon untuk menghentikan penebangan hutan, karena akan membahayakan kita
semua..terima kasih.
Bos : Hm..hm..hi..hi..ha..ha..ha
Semua binatang: Mongki…
Mongki : Mereka menolak permohonan kita Pak Ketua
Pak Ketua : Teman-teman bersiaplah, besok pagi kita akan bersama-sama memohon pada
manusia untuk tidak menebangi pohon-pohon di hutan kita ini lagi…!!
Semua binatang: Baik
Monolog : Pagi-pagi sekali ketika matahari terbit..
Kerbau : Teman-teman mari kita temui manusia bersama-sama..
Anak buah : Bos..bos..banyak binatang datang ke sini!!
Bos : Mau apa lagi binatang-binatang jelek itu datang ke sini?
Kerbau : Kami mohon teman manusia tidak menebangi pohon di hutan lagi dan segera
pergi dari hutan
Bos : Tidak…kami tidak akan pergi. Kami perlu kayu-kayu itu…dan…Kalian yang
harus pergi! Usir semua!!
Manusia : Hus..hus..hus
Kerbau : Teman-teman selamatkan diri masing-masing!!
Gajah : Sekarang bagaimana Pak Kehut? Teman-teman kita banyak yang terluka…
Kerbau : Kita akan minta bantuan teman-teman kita di hutan yang lain
Monolog : Sementara itu…manusia terus menebang semua pohon dan hampir sete-
ngahnya hutan kita sudah habis… Kayu-kayu pohon dibawa semua, tak
peduli dengan semua binatang yang terluka.
Kerbau : Teman- teman…kita akan meminta bantuan teman-teman kita di hutan yang
lain.
Banteng : Gajah panggil mereka dengan suara panggilan
Gajah : Baik pak Kehut
Eeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee………..
Beruang : Ada suara panggilan hutan…
Unta : Ada apa ya…?
Binatang : Saya harus segera datang..
Binatang : Ayo beruang kita ke sana!
Mongki : Cepat jerapah ada panggilan hutan!
Binatang : Kalian kan sudah punah?
Binatang-binatang: Betul…
Monolog : Mendengar suara gajah semua binatang di seluruh hutan datang ber-
bondong-bondong
Kerbau : Teman-teman kita akan berjuang menyelamatkan hutan. Kita akan mengu sir manusia yang telah merusak hutan.
Manusia-manusia: Boss..boss mereka datang lagi..
Manusia : Hehehehe.. mereka belum kapok ya?
Manusia : Boss..saya takut, mereka terlalu banyak..
Manusia lain : Boss..saya pulang duluan ya daahh..
Binatang-binatang: Manusia kalian harus pergi..atau kami seraang!!
Manusia 1 : Aaaaaa..Boss saya digigit buaya..
Manusia 2 : Tante badak..ammpuuuunn..
Manusia 3 : Mammiii..tolooooongg!!
Manusia-manusia: Kabuuur..kabbuuur..
Manusia-manusia: Kami akan kembali lagi..kerbau jelek..Dengan peralatan yang lebih tahan
binatang..
Binatang-binatang: Kita berhasil teman-teman…
Kerbau : Terima kasih teman-teman..untuk sementara mereka telah pergi, tapi hutan
kita telah rusak. Pohon-pohon sebagian hilang..kita harus memperbaikinya
lagi, dan itu memerlukan waktu yang sangat lama. Teman-teman..mulai be-
sok kita akan bangun hutan kita lagi.

—-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s