ALIRAN PERENIALISME

Normal
0

false
false
false

IN
X-NONE
X-NONE

MicrosoftInternetExplorer4

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;
mso-fareast-language:EN-US;}

ALIRAN PERENIALISME

Perenialisme adalah suatu pandangan bahwa dalam zaman yang selalu berubah tetap ada “ benang merah” yang menghubungkan zaman yang satu dengan zaman yang lain, atau antara wilayah yang satu dan wilayah yang lain pada zaman yang sama. Aliran ini juga kurang puas dengan pandangan progresivisme yang selalu harus dengan yang baru.

Pandangan umum perenialisme antara lain:

1.    Kehidupan manusia saat ini penuh dengan kekacauan, baik dalam hal moral, sosial, maupun intelektual.

·      Akibat tidak adanya kepastian, tidak ada yang dapat dipakai sebagai pegangan untuk menghadapi dunia yang selalu berubah

Aliran ini mengakui adanya perubahan tetapi menghendaki agar dalam menghadapi  perubahan itu manusia mempunyai pegangan kuat sehingga tidak terombang-ambing oleh kondisi dan tuntutan lingkungan.

2.      Aliran perenialisme menempuh pendekatan regresif, yaitu mencari pegangan dari masa lalu.

·         Apa yang menjadi pegangan hidup orang-orang pada zaman dulu masih berfungsi sebagai pegangan hidup orang-orang dikehidupan sekarang.

·         Yang dimaksud dengan masa lalu adalah masa lalunya masyarakat eropa, yaitu masa kebesaran para filosof terkenal oada zaman sebelum masehi atau berkembangnya agama-agama besar.

3.      Ada dua macam pegangan yang diperlukan manusia sejak dulu sampai sekarang,

·         Kepercayaan yang bersumber dari Tuhan dan kepercayaan hasil rasio.

4.      Pandangan perenialisme tentang kebenaran adalah

·         kebenaran merupakan perpaduan antara kebenaran hasil pikiran, kebenaran yang melekat pada objek, dan keyakinan adanya kesesuaian antara hasil berpikir dan kondisi objek.

5.      Kebenaran berpikir diperoleh dengan menggunakan hukum-hukum logika.

6.      Pandangan perenialisme tentang nilai atau norma sesuai dengan orientasinya pada abad pertengahan yaitu:

·         Memandang norma sebagai persoalan kejiwaan.

·         Dasar nilai bersifat teologis dan ukuran baik buruk berasal dari Tuhan.

Pandangan perenialisme yang menyangkut pendidikan:

1.      Tentang kurikulum perenialisme berpendapat:

·         Kurikulum merupakan alat untuk mengembangkan akal dan memori

·         Kurikulum harus meliputi pengalaman langsung maupun tidak langsung.

2.      Tentang belajar pandangan perenialisme adalah:

·         Titik tolak belajar adalah bahwa manusia adalah makhluk rasionalis, Titik tolak kemampuan manusia adalah kemampuan berfikir.

·         Dari berpikir berkembanglah kebebasan, ketrampilan, berbahasa dsb.

·         Belajar adalah persoalan latihan dan disiplin mental.

ü  Yang penting adalah pengembangan kemampuan dasar.

ü  Alat nya adalah materi ajar.

·         Bila kemampuan dasarnya tersebut telah berkembang dengan sendirinya manusia akan dapat menghadapi dan memecahkan segala masalah yang dia hadapi.

·         Ada belajar yang terjadi dalam bentuk pengajaran dan ada juga belajar yang berupa penemuan sendirioleh peserta didik.

Beberapa prinsip pendidikan perenialisme secara umum, yaitu:

1.      Menghendaki pendidikan kembali kepada jiwa yang menguasai Abad Pertengahan,

·         pada Abad Pertengahan telah merupakan jiwa yang menuntun manusia hingga dapat dimengerti adanya tata kehidupan yang telah dapat menemukan adanya prinsip-prinsip pertama yang mempunyai peranan sebagai dasar pegangan intelektual manusia.

·          Menjadi sarana untuk menemukan evidensi-evidensi ( bukti /fakta ) diri sendiri (Imam Barnadib, 2002).

·         Tujuan pendidikan adalah sama dengan tujuan hidup, yaitu untuk mencapai kebijakan dan kebajikan.

2.        Rasio merupakan atribut manusia yang paling tinggi. Manusia harus menggunakannya untuk mengarahkan sifat bawaannya, sesuai dengan tujuan yang ditentukan.

·         Tugas pendidikan adalah memberikan pengetahuan yang kebenarannya pasti, dan abadi.

·         Kurikulum diorganisir dan ditentukan terlebih dahulu oleh orang dewasa, dan ditujukan untuk melatih aktivitas akal, untuk mengembangkan akal.

·         Yang dipentingkan dalam kurikulum adalah mata pelajaran general education yang meliputi bahasa, sejarah, matematika, IPA, filsafat dan seni dan (membaca, menulis, berhitung).

·         Mata-mata pelajaran tersebut merupakan esensi dari general education.

3.       Siswa seharusnya mempelajari karya-karya besar literature yang menyangkut sejarah, filsafat, seni, begitu juga dalam literature yang berhubungan dengan kehidupan social, terutama politik dan ekonomi. Dalam literature-literatur tersebut manusia sepanjang masa telah melahirkan hasil yang maha besar.

TOKOH-TOKOH PERENIALISME

1.       Plato
Plato (427 – 347 SM) hidup pada zaman kebudayaan yang syarat denganketidakpastian, Plato ingin membangun dan membina tata kehidupan dunia yang ideal, di atas tata kebudayaan yang tertib dan sejahtera,membina cara yang menuju kepada kebaikan.

·         Dalam pandangan Plato, Manusia tidak menciptakan kebenaran, pengetahuan dan nilai moral, melainkan bagaimana menemukan semuanya itu. Dengan menggunakan akal dan rasio, semuanya itudapat ditemukan kembali oleh manusia.

2.      Aristoteles
Aristoteles (384 – 322 SM), adalah murid Plato, namun dalam pemikirannya ia mereaksi terhadap filsafat gurunya yaitu idealisme.

·         Plato, yang menekankan berpikir rasional spekulatif. Aristoteles menggunakan cara berpikir rasional empiris realistis.

·         Cara berpikir ini kemudian disebut filsafat Realisme.

·          Aristoteles dinyatakan sebagai pemikir abad pertengahan renaissance.

·         Manusia adalah makhluk materi dan rohani sekaligus 

3.      Thomas Aquinas
Pandangannya tentang realitas, ia mengemukakan bahwa segala sesuatu yang ada, adanya itu karena diciptakan oleh Tuhan, dan tergantung kepada-Nya.

·         Tomas Aquinas menekankan dua hal dalam pemikiran tentang realitas, yaitu :
a) dunia tidak diadakan semacam bahan dasar.
b) penciptaan tidak terbatas pada satu saja

·         Dalam masalah pengetahuan, Aquinas mengemukakan bahwa pengetahuan itu diperoleh sebagai persentuhan antara dunia luar dan / oleh akal budi, yang kemudian menjadi pengetahuan.

·         Sumber pengetahuan selain bersumber dari akal budi, juga berasal dari wahyu Tuhan.

·         Pendidikan adalah suatu usaha dalam menuntun kemampuan-kemampuan yang masih tidur menjadi aktif atau nyata tergantung pada kesadaran tiap-tiap individu.

·          Seorang guru bertugas untuk menolong membangkitkan potensi yang masih tersembunyi dari anak agar menjadi aktif dan nyata.

 

 IMPLIKASI ALIRAN FILSAFAT PENDIDIKAN PERENIALISME TERHADAP DISIPLIN

Teori dasar dalam belajar menurut perenialisme adalah

·         Mental disiplin sebagai teori dasar penganut perenialisme

·         Bahwa latihan dan pembinaan berfikir (mental dicipline) adalah salah satu kewajiban dari belajar, atau keutamaan dalam proses belajar (yang tertinggi).

·         Teori dan program pendidikan pada umumnya dipusatkan kepada pembinaan kemampuan berfikir.

·         Anak didik yang diharapkan menurut perenialisme adalah mampu mengenal dan mengembangkan karya-karya yang menjadi landasan pengembangan disiplin mental.

ü  Anak didik akan mempunyai dua keuntungan yakni: 

ü  Anak-anak akan mengetahui apa yang terjadi pada masa lampau yang telah dipikirkan oleh orang-orang besar.

ü  Mereka memikirkan peristiwa-peristiwa penting dan karya¬-karya tokoh tersebut untuk diri sendiri dan sebagai bahan pertimbangan (reverensi) zaman sekarang.

 

v  Aliran Perenialisme dianggap sebagai “regresive road to culture” yakni jalan kembali ke kebudayaan masa lampau.

v  Pandangan Perenialisme mengenai belajar dengan mendasarkan pada teori belajar, Mental disiplin sebagai teori dasar, rasionalitas dan asas kemerdekaan, belajar untuk berpikir serta belajar sebagai persiapan hidup.

v  Perenialisme juga memiliki formula mengenai jenjang pendidikan beserta kurikulum, yaitu pendidikan dasar dan (sekolah) menengah, pendidikan tinggi dan adult education.

v  Perenialisme merupakan filsafat yang sangat tua usianya yang menekankan pada nilai keabadian dan mengarah apa tujuan kesempurnaan hidup.

v   Nilai-nilai filsafat perennialisme bersifat abadi dan universal dapat diterapkan dalam berbagai kontek kehidupan, social, politik, budaya dan juga pendidikan.

v  Dalam konteks pendidikan Filsafat perenialisme sangat diperlukan untuk menjaga dan sebagai konservasi terhadap nilai-nilai luhur manusia dalam kehidupan.

2.  ALIRAN ESENSIALISME

Berbeda dengan aliran Progesivisme yang berpendapat bahwa tidak ada yang sifatnya universal bahwa di samping adanya perubahan juga ada yang sifatnya abadi, tetap sepanjang zaman.

·         Yaitu berupa esensinya sesuatu, intinya sesuatu, hakikat sesuatu yang tidak berubah.

·         Sebagai contoh meskipun wujud riil manusia dari waktu ke waktu, dari tempat ke tempat yang lain berbeda, berubah.

·          Tetapi hakikat manusia tetap ada, yaitu bagaimanapun tetap manusia. 

TOKOH  ALIRAN ESENSIALISME

ü  Paham ini populer pada tahun 1930an

ü  Pelopornya William Bagley (1874-1946)

Pendapat esensialisme terhadap beberapa hal tentang pendidikan:

1.      Tentang apa yang harus diajarkan kepada peserta didik

·         Materi pelajaran yang sifatnya tetap

ü  Bahasa,

ü  Moral,

ü  Matematika,

ü  Ilmu Pengetahuan Alam dsb.

Hal-hal yang esensi tersebut tetap ada meskipun wujud riil nya bisa berbeda-beda.

2.      Pendidikan harus dapat menemukan hal-hal yang merupakan esensi tersebut.

3.      Kurikulum tidak perlu terlalu banyak menyajikan pengetahuan atau pengalaman.

·         Cukup diberikan yang esensi

·         Merupakan inti dari berbagai pengetahuan/pengalaman

·         Peserta didik harus mengembangkan sendiri.

v  Filsafat ini berdasarkan filsafat konservatif, bahwasanya sekolah itu tidak dapat mengubah masyarakat secara radikal.

v  Sekolah seharusnya mengajarkan nilai-nilai moral tradisionaldan pengetahuan.

v  Pendidikan hendaknya menekankan pemahaman dunia lewat:

ü  Percobaan saintifik

ü  Penguasaan ilmu-ilmu alamiah

ü  Daripada ilmu filsafat atau agama

vMata pelajaran tradisional yang lazim dianggap penting:

ü  Matematika,

ü  Sejarah,

ü  IPA,

ü   Bahasa Asing, dan

ü  Kesusastraan.

v  Mata-mata pelajaran yang bersifat vokasional atau kurang akademik kurang berkenan bagi kelompok ini.

 

3.  ALIRAN REKONTRUKSIONISME

Rekonstruksionisme merupakan kelanjutan dari gerakan progresivme, gerakan ini lahir didasari atas suatu anggapan bahwa kaum progresif hanya memikirkan dan melibatkan diri dengan masalah-masalah masyarakat yang ada pada saat sekarang ini.

·         aliran rekonstrusionisme berupaya membina konsensus yang paling luas dan mengenai tujuan pokok dan tertinggi dalam kehidupan umat manusia.

·         Aliran rekonstruksionisme lebih jauh menekankan tentang pemecahan masalah, berfikir kritis dan sebagainya.

 

v  Rekonstruksionisme berasal dari bahasa inggris Reconstruct yang berarti menyusun kembali.

v  Dalam konteks filsafat pendidikan aliran rekonstruksionisme adalah suatu aliran yang berusaha merombak tata susunan lama dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang bercorak modern.

v  Pada dasarnya aliran rekonstruksionisme sepaham dengan aliran perenialisme bahwa ada kebutuhan untuk kejelasan dan kepastian bagi kebudayaan zaman modern sekarang.

v   Tetapi aliran rekonstruksionisme tidak sependapat dengan cara dan jalan pemencahan yang ditempuh filsafat perenialisme.

v  Aliran perenialisme memilih jalan kembali ke alam kebudayaan abad pertengahan. Sementara itu alliran rekonstruksionisme berusaha membina suatu konsensus yang paling luas dan paling mungkin tentang tujuan utama dan tertinggi dalam kehidupan manusia.

v  Rekonstruksionisme ingin merombak tata susunan lama dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang sama sekali baru.

TOKOH – TOKOH REKONTRUKSIONIME

ØTokoh- tokoh aliran rekonstruksionisme yaitu:

·           Caroline pratt, George count, dan Harold rugg.

Rekonstrusionisme di pelopori oleh George Count dan Harold Rugg pada tahun 1930

 yang ingin membangun masyarakat baru, masyrakat yang pantas dan adil.

·       George counts dalam publikasinya Dare the school build a new sosial order mengemukakan:

üSekolah akan betul- betul berperan apabila sekolah menjadi pusat bangunan masyarakat baru secara keseluruhan, dan kesukuan (rasialisme).

üMasyarakat yang menderita kesulitan ekonomi dan masalah-masalah sosial yang besar merupakan tantangan bagi pendidikan untuk menjalankan perannya sebagai agen pembaharu dan rekonstruksi sosial.

üSekolah harus bersatu dengan kekuatan buruh progresif, wanita, para petani, dan kelompok minoritas untuk mengadakan perubahan-perubahan yang diperlukan.

·           aliran ini berpendapat bahwa sekolah harus mendominasi atau mengarahkan perubahan (rekonstruksi) pada tatanan sosial saat ini.

 Pandangan rekonstruksionisme dan penerapannya di bidang pendidikan:

·         Pembinaan kembali daya intelektual dan spiritual yang sehat akan membina kembali manusia melalui pendidikan yang tepat atas nilai dan norma.

·         Aliran ini memiliki persepsi bahwa masa depan suatu bangsa merupakan suatu dunia yang diatur, diperintah oleh rakyat secara demokratis dan bukan dunia yang dikuasasi oleh golongan tertentu.

·         Sila-sila demokrasi yang sungguh bukan hanya teori tetapi menjadi kenyataan.

 

TEORI PENDIDIKAN REKONTRUKSIONISME

  1. Tujuan Pendidikan

1. Sekolah-sekolah rekonstruksionis berfungsi sebagai lembaga utama untuk melakukanperubahan sosial, ekonomi dan politik dalam masyarakat.

2.Tugas sekolah-sekolah rekonstruksionis adalah mengembangkan ”insinyur-insinyur” sosial, warga-warga negara yang mempunyai tujuan mengubah secara radikal wajah masyarakat masa kini.

3.Tujuan pendidikan rekonstruksionis adalah membangkitkan kesadaran para peserta didik tentang masalah sosial, ekonomi dan politik yang dihadapi umat manusia dalam skala global, dan mengajarkan kepada mereka keterampilan-keterampilan yang diperlukan untuk mengatasi masalah tersebut.

  1. Metode pendidikan

ü  Analisis kritis terhadap kerusakan-kerusakan masyarakat dan kebutuhan-kebutuhan programatik untuk perbaikan.

ü  Dengan demikian menggunakan metode pemecahan masalah, analisis kebutuhan, dan penyusunan program aksi perbaikan masyarakat.

 

  1. Kurikulum

ü  Kurikulum berisi mata-mata pelajaran yang berorientasi pada kebutuhan-kebutuhan masyarakat masa depan.

ü  Kurikulum banyak berisi masalah-masalah sosial, ekonomi, dan politik yang dihadapi umat manusi, yang termasuk di dalamnya masalah-masalah pribadi para peserta didik sendiri; dan program-program perbaikan yang ditentukan secara ilmiah untuk aksi kolektif.

ü  Struktur organisasi kurikulum terbentuk dari cabang-cabang ilmu sosial dan proses-proses penyelidikan ilmiah sebagai metode pemecahan masalah.

  1. Pelajar

ü  Siswa adalah generasi muda yang sedang tumbuh menjadi manusia pembangun masyarakat masa depan, dan perlu berlatih keras untuk menjadi insinyur-insinyur sosial yang diperlukan untuk membangun masyarakat masa depan.

 

  1. Pengajar

ü  Guru harus membuat para peserta didik menyadari masalah-masalah yang dihadapi umat manusia, mambatu mereka merasa mengenali masalah-masalah tersebut sehingga mereka merasa terikat untuk memecahkannya.

ü  Guru harus terampil dalam membantu peserta didik menghadapi kontroversi dan perubahan.

ü  Guru harus menumbuhkan berpikir berbeda-beda sebaga suatu cara untuk menciptakan alternatif-alternatif pemecahan masalah yang menjanjikan keberhasilannya.

 

ü  Menurut Brameld (kneller,1971) teori pendidikan rekonstruksionisme ada 5 yaitu:

a.Pendidikan harus di laksanakan di sini dan sekarang dalam rangka menciptakan tata sosial baru yang akan mengisi nilai-nilai dasar budaya kita, dan selaras dengan yang mendasari kekuatan-kekuatan ekonomi, dan sosial masyarakat modern.

b.Masyarakat baru harus berada dalam kehidupan demokrasi sejati dimana sumber dan lembaga utama dalam masyarakat dikontrol oleh warganya sendiri.

c.Anak, sekolah, dan pendidikan itu sendiri dikondisikan oleh kekuatan budaya dan sosial.

d.Guru harus menyakini terhadap validitas dan urgensi dirinnya dengan cara bijaksana dengan cara memperhatikan prosedur yang demokratis.

e.   — Cara dan tujuan pendidikan harus diubah kembali seluruhnya dengan tujuan untuk menemukan kebutuhan-kebutuhan yang berkaitan dengan krisis budaya.

 

   — untuk menyesuaikan kebutuhan dengan sains sosial yang mendorong kita untuk menemukan nilali-nilai dimana manusia percaya atau tidak bahwa nilai-nilai itu bersifat universal.  meninjau kembali penyusunan kurikulum, isi pelajaran, metode yang dipakai, struktur administrasi, dan cara bagaimana guru dilatih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s