PENGELOLAAN PEMBELAJARAN DI PAUD

Menurut kamus bahasa Indonesia, “Pengelolaan” memiliki akar kata “kelola”, ditambah awalan “pe” an akhiran “an” yang artinya adalah  ketatalaksanaan, tata pimpinan, pengelolaan. Manajemen atau pengelolaan adalah pengadministrasian, pengaturan atau penataan suatu kegiatan”.

Pengelolaan  dapat diartikan semua kegiatan yang diselenggarakan oleh  seseorang atau lebih dalam suatu kelompok atau organisasi/lembaga, untuk mencapai tujuan organisasi/lembaga yang telah ditetapkan. Pengelolaan adalah kemempuan atau keterampilan khusus untuk melakukan suatu kegiatan, baik bersama orang lain atau melalui orang lain dalam mencapai tujuan organisasi. Hersey dalam Sudjana (2000:17) mengemukakan: “Management as working with and through individuals and group to accoumplish organizational goals efficiently”. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa pengelolaan adalah proses kerja dengan dan melalui orang lain untuk mencapai tujuan organisasi secara efisien.

Menurut Mulyasa (2005:20), manajemen atau pengelolaan merupakan komponen integral dan tidak dapat dipisahkan dari proses pendidikan secara keseluruhan. Alasannya, tanpa manajemen tidak mungkin tujuan pendidikan dapat diwujudkan secara optimal. Dalam hal inilah tumbuh kesadaran akan pentingnya manajemen dalam mengatur pendidikan dan pengajaran untuk membantu pelaksanaan pengajaran yang sesuai dengan tujuan pendidikan.

Selanjutnya, Stoner dalam Sudjana (2000:17) mengemukakan bahwa: ‘management is the process of planning, organizing, leading and controlling the efforts of organizing member and using all other organizational resources to achieve stated organizational goals’. Pada pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa fungsi pokok  pengengelolaan yaitu merencanakan, mengorganisasikan, memimpin, dan mengawasi. Keempat fungsi tersebut harus berjalan secara sinergis, agar tujuan dapat dicapai. Dalam pengelolaan pembelajaran, fungsi-fungsi tersebut dilakukan oleh seluruh unsur  yang terlibat dalam proses pembelajaran.

Pembelajaran merupakan perpaduan dari dua aktivitas, yaitu: aktivitas  mengajarkan dan aktivitas belajar. Aktivitas mengajar menyangkut peranan seorang guru dalam konteks mengupayakan terciptanya jalinan komunikasi harmonis antara pengajar itu sendiri dengan pelajar.

Pembelajaran berasal dari kata “belajar” yang artinya “suatu perubahan yang relatif permanen dalam suatu kecenderungan tingkah laku sebagai hasil dari praktek dan latihan”. Perubahan tingkah laku individu hasil belajar ditujukan dalam berbagai aspek seperti: pengetahuan, pemahaman, persepsi, motivasi dan gabungan dari aspek-aspek tersebut.

Rohani dalam Brantas  (2009:2) menyatakan: Pengertian pengelolaan pembelajaran adalah mengacu pada suatu upaya untuk mengatur (memanajemeni, mengendalikan) aktivitas pengajaran berdasarkan konsep-konsep dan prinsip-prinsip pengajaran untuk menyukseskan tujuan pengajaran agar tercapai secara lebih efektif, efisien dan produktif yang diawali dengan penentuan strategi dan perencanaan, diakhiri dengan penilaian. Penilaian tersebut pada akhirnya akan dapat dimanfaatkan sebagai feedback (umpan balik) bagi perbaikan pengajaran lebih lanjut.

              2. Sistem dan Fungsi  Pengelolaan Pembelajaran

Sistem pengelolaan pembelajaran di PAUD/RA/TK  meliputi Kegiatan Belajar Mengajar, Menelaah Kalender Pendidikan, dan Pengaturan Jadwal Pembelajaran . Ketiga hal tersebut merupakan hal hal yang saling berkaitan dan tidak dapat berdiri sendiri karena akan berpengaruh pada perencanaan, pelasanaan dan evaluasi pembelajaran di kelas oleh guru. Dalam ilmu manajemen pendidikan dikenal dengan istilah fungsi  manajemen yang terdiri dari  Planning, Organizing, Actuating, and Controling.

Fungsi manajemen dalam proses pendidikan meliputi: perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, motivasi, menggerakkan, memberi perintah, pengkoordinasian, penganggaran, hingga pengawasan/ pengontrolan.  Semua fungsi-fungsi tersebut dapat dijadikan acuan dalam merancang suatu pembelajaran.

Dari beberapa fungsi manajemen , terdapat tiga hal yang amat mendasar untuk mendapat perhatian dalam mengelola pembelajaran.  Ketiga hal itu adalah pada aspek perencanaan (planning), Mengatur (organizing),  pelaksanaan (actuating) dan pengawasan (controlling).

Pengelolaan pembelajaran di tingkat manapun memiliki fungsi untuk memudahkan pengelolanya dalam mencapai tujuan pendidikan baik secara umum yang tertuang dalam peraturan pemerintah atau undang-undang pendidikan yang berlaku. Artinya dalam melaksanakan pengelolaan pembelajaran diperlukan perencanaan yang baik, pelaksanaan pembelajaran yang sesuai dengan rencana dan pengawasan yang diwujudkan dengan system penilaian yang obyektif, jujur, dan menurut standar penilaian yang ditetapkan sebelumnya.

3.    Prinsip Pengelolaan Pembelajaran

Prinsip pengelolaan pembelajaran merupakan suatu keterkaitan kemampuan dan keterampilan hubungan kemanusiaan untuk mempengaruhi orang lain dalam mencapai tujuan organisasi secara efektif dan efisien.

Prinsip pengelolaan menurut Bafadal (2004: 34) meliputi :

a.    Pembagian tugas (job description), yaitu menempatkan seseorang sesuai dengan kemampuan dan keterampilan yang dimiliki.

b.    Otoritas dan tanggung jawab merupakan kewenangan dan tanggung jawab antara penyelenggara dan masyarakat.

c.    Disiplin, dapat melaksanakan tugas dan kewajiban dengan proporsional dan profesional.

d.   Penghargaan dan sanksi, merupakan motivasi dan pengendalian dalam melakukan pekerjaan secara lebih profesional.

e.    Inisiatif, kemampuan yang dimiliki oleh seluruh pihak baik tindakan maupun ide/gagasan dalam penyelenggaraan program.

f.     Fleksibilitas, artinya lentur dengan kondisi lingkungan, sasaran (kebutuhan belajar, waktu dan tempat, biaya), dan Guru (pendidik), misalnya antara lain dapat dilihat dari penyelenggaraannya yang disesuaikan dengan kebutuhan belajar, kondisi dan situasi belajar setempat. Penyelenggaraan pembelajaran tidak harus sepenuhnya disampaikan secara tatap muka secara rutin di ruang kelas seperti sekolah formal, tetapi lebih dalam bentuk kegiatan belajar tutorial dan mandiri.

4.      IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN DI LEMBAGA PAUD/RA/TK

Implementasi Pembelajaran  di lembaga PAUD/RA/TK adalah membantu anak mengembangkan berbagai potensi baik psikis dan fisik yang meliputi moral dan nilai –nilai agama, sosial emosional, kognitif, bahas, fisik /motorik, kemandirian dan seni untuk siap memasuki pendidikan dasar.

Moeslichatoen (2004:3) menyatakan bahwa  Tujuan program kegiatan belajar peserta didik di PAUD/RA/TK adalah untuk membantu meletakan dasar kearah perkembangan sikap, pengetahuan, keterampilan dan daya cipta yang diperlukan oleh peserta didik dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan untuk pertumbuhan serta perkembangan selanjutnya.

Adapun Fungsi Pembelajaran di PAUD/RA/TK adalah a) Mengenalkan peraturan dan menanamkan disiplin pada anak. (b) Mengenalkan anak dengan dunia sekitar. (c) Menumbuhkan sikap dan perilaku yang baik.                              (d) Mengembangkan kemampuan berkomunikasi dan bersosialisasi.                      (e)  Mengembangkan keterampilan, kreatifitas dan kemampuan yang dimiliki anak. (f) Menyiapkan anak untuk memasuki pendidikan dasar.

Pengelolaan pembelajaran di PAUD/RA/TK tidak semudah yang kita bayangkan. PAUD/RA/TK merupakan tidak hanya sebagai lembaga pengganti keluarga bagi anak didik diluar rumah, akan tetapi merupakan lembaga pendidikan yang dipersiapkan untuk membantu anak didik dalam rangka pembentukan perilaku melalui pembiasaan dan pengembangan kemampuan dasar yang ada pada anak didik sesuai dengan tahap-tahap perkembangannya.

Pengelolaan Pembelajaran di PAUD/RA/TK  yaitu keseluruhan proses pendayagunaan semua sumber daya manusia maupun bukan manusia dalam rangka mencapai tujuan institusional pendidikan prasekolah. Program kegiatan belajar merupakan kata lain dari kurikulum yang digunakan di RA sebagai acuan dalam penyelenggaraan pembelajaran. Peranan manajemen atau pengelolaan yang baik sangat diperlukan dalam penyelenggaraan suatu lembaga pendidikan, termasuk Raudhatul Athfal.

Menurut Reid, dkk dalam Bafadal (2004:2) menjelaskan bahwa:

Ada lima peranan administrasi (manajemen) dalam penyelenggaraan Taman Kanak-Kanak/Raudhatul Athfal, yaitu:

a. Mempermudah Taman Kanak-Kanak dalam mengembangkan dan  melaksanakan program belajar (permainan) yang sangat edukatif bagi anak didik

b. Mempermudah pengelola taman kanak-kanak untuk menilai perkembangan lembagnya dalam mengemban misi sebagai lembaga pendidikan prasekolah

c. Membuat semua fasilitas taman kanak-kanak dalam kondisi siap pakai

d. Menciptakan suasana taman kanak-kanak selalu tertib, teratur, dan bersih sehingga dapat membuat anak-anak selalu merasa senang apabila bermain-mani didalamnya

e. Meningkatkan efisiensi dalam penggunaan semua fasilitas sekolah

Mencermati pernyataan diatas, dapat disimpulkan bahwa pengelolaan suatu lembaga pendidikan, khususnya RA/TK memiliki tujuan agar sistem pendidikan berlangsung secara efektif, dan efisien. Dapat dikatan efektif apabila program kegiatan belajar yang berlangsung didalamnya berfungsi dengan baik dan mencapai tujuan institusionalnya, yaitu membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani anak didik diluar lingkungan keluarga sebelum memasuki pendidikan dasar. Dengan kata lain  RA/TK merupakan jembatan pendidikan keluarga dengan pendidikan sekolah. Seperti yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah no 27 tahun 1990 tentang Pendidikan Prasekolah yang mengemukakan bahwa :

Tujuan institusional taman kanak-kanak adalah: membantu anak meletakan dasar kearah perkembangan sikap, pengetahuan, keterampilan, dan daya cipta yang diperlukan oleh anak dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan dan untuk pertumbuhan serta perkembangan selanjutnya.

Dengan adanya pengelolaan yang baik di RA/TK diharapkan dapat mencapai tujuan institusional secara maksimal yang meliputi:

a.    Pengembangan seluruh kemampuan yang dimiliki anak sesuai dengan tahap perkembangannya

b.    Mengenalkan anak dengan dunianya sendiri

c.    Mengembangkan sosialisasi anak

d.   Mengenalkan peraturan dan penanaman disiplin pada anak

e.    Memberikan kesempatan kepada anak untuk menikmati masa bermainnya

Untuk mencapainya diperlukan usaha usaha dari berbagai pihak yang meliputi pikiran, waktu, tenaga, ruang, uang dan fasilitas lainnya.Karena pengelolaan merupakan suatu sistem yang saling berpengaruh dalam system kerjanya, maka masing masing komponen sistem tersebut harus berjalan sesuai dengan tugas dan fungsinya agar dapat meminimalisir hambatan-hambatan yang biasa terjadi.

Metoda yang digunakan hendaknya mengikuti fitrah anak yang masih dalam dunia bermain. Oleh karena itu sangat tepat jika prinsip pembelajaran di    R A/TK adalah bermain sambil belajar dan belajar seraya bermain.

5.    RUANG LINGKUP MATERI PEMBELAJARAN DI TK/RA

a.    Moral dan Nilai-nilai Agama

b.    Sosial, Emosional dan Kemandirian

c.    Kemampuan Berbahasa.

d.   Kognitif.

e.    Fisik/motorik, dan

f.     Seni

     Untuk menyederhanakan lingkup kurikulum dan menghindari tumpang tindih, serta untuk memudahkan guru menyusun program pembelajaran yang sesuai dengan pengalaman mereka, maka aspek-aspek perkembangan tersebut dipadukan dalam bidang pengembangan yang utuh mencakup :

a.    Bidang Pengembangan Pembentukan Perilaku Melalui Pembiasaan.

Pembentukan perilaku melalui pembiasaan merupakan kegiatan yang dilakukan secara terus-menerus dan ada dalam kehidupan sehari-hari peserta didik, sehingga menjadi kebiasaan yang baik. Bidang pengembangan pembentukan perilaku melalui pembiasaan meliputi pengembangan  moral dan nilai-nilai agama, serta pengembangan sosial, emosional dan kemandirian. Dari program pengembangan moral dan nilai-nilai agama diharapkan akan meningkatkan ketaqwaan peserta didik tehadap Tuhan Yang Maha Esa, dan membina sikap peserta didik dalam rangka meletakan dasar agar peserta didik menjadi warga negara yang baik. Program pengembangan sosial dan kemandirian dimaksudkan untuk membina peserta didik agar dapat mengendalikan emosinya secara wajar dan dapat berinteraksi dengan sesamanya maupun dengan orang dewasa dengan baik, serta dapat menolong dirinya sendiri dalam rangka kecakapan hidup.

b.   Bidang Pengembangan Kemampuan Dasar

Pengembangan kemampuan dasar merupakan kegiatan yang dipersiapkan oleh guru untuk meningkatkan kemampuan dan kreativitas sesuai dengan tahap perkembangan peserta didik. Pengembangan kemampuan dasar tersebut meliputi:

1)   Kemampuan Berbahasa

Pengembangan ini bertujuan agar peserta didik mampu  mengungkapkan pikiran melalui bahasa yang sederhana secara  tepat, mampu berkomunikasi secara efektif dan membangkitkan  minat untuk dapat berbahasa Indonesia.

2)   Kognitif

Pengembangan ini bertujuan mengembangkan kemampuan  berpikir peserta didik untuk dapat mengolah perolehan  belajarnya, dapat menemukan bermacam-macam alternatif pemecahan masalah, membantu peserta didik untuk  mengembangkan kemampuan logika matematiknya dan  pengetahuan akan ruang dan waktu, serta mempunyai  kemampuan untuk memilah-milah, mengelompokan serta  mempersiapkan pengembangan kemampuan berpikir teliti.

3)   Fisik/motorik

Pengembangan ini bertujuan untuk meperkenalkan dan melatih   gerakan kasar dan halus, meningkatkan kemampuan mengelola,  mengontrol gerakan tubuh dan koordinasi, serta meningkatkan  keterampilan tubuh dan cara hidup sehat sehingga dapat  menunjang pertumbuhan jasmani yang kuat, sehat dan terampil.

4)   Seni

Pengembangan ini bertujuan agar peserta didik dapat dan mampu  menciptakan sesuatu berdasarkan hasil imajinasinya,  mengembangkan kepekaan, dan dapat menghargai hasil karya  yang kreatif. Pada Permendiknas no 58 tahun 2009 khususnya tentang Standar Isi, Proses dan Penilaian, bidang pengembangan seni ini tidak digolongkan pada bidang pengembangan secara khusus. Bidang pengembangan Seni terintegrasi ke dalam seluruh bidang pengembangan, artinya setiap kegiatan untuk mencapai optimalisasi bidang pengembangan anak harus memiliki unsur seninya, baik seni gerak, seni suara, seni kriya,dan lain sebagainya.

Peran guru dalam membantu anak usia dini melaluio pembelajaran di kelas adalah sebagai pengelola yang harus berperan aktif sejak perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Pengelola harus bertanggung jawab terhadap jalannya pembelajaran yang berorientasi pada pengoptimalan pencapaian perkembangan anak usia dini melalui kegiatan belajar yang berprinsip pada karakteristik ”Bermain sambil belajar dan belajar seraya bermain”.

PENUTUP

Pengelolaan pembelajaran pendidikan usia dini sebagai upaya  mengoptimalkan tahap perkembangan anak usia dini  sangat perlu diperhatikan oleh beberapa pihak. Selain  oleh orang tua sebagai pendidik pertama dan utama di lingkungan rumah, guru sangat berperan karena pada masa pra sekolah akan dilewati tahapan tahap perkembangan yang harus terus diperhatikan  dengan cara mengelola pembelajaran dengan baik, sesuai dengan karakteristik pembelajaran untuk anak usia dini salah satunya adalah memiliki prinsip pembelajaran belajar  bermain sambil belajar dan belajar seraya bermain.

Kompetensi guru dalam mengelola pembelajaran perlu ditingkatkan melalui berbagai kegiatan seminar, warkhop atau diklat. Pada diklat guru PAUD/RA dan TK akan lebih lengkap jika mata diklat atau materi khusus yang berhubungan dengan pengelolaan pembelajaran. Pengelolaan pembelajaran akan lebih lengkap jika dibahas melalui mata diklat manajemen pendidikan atau manajemen pembelajaran yang pada intinya berdasar tahapan  perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi (Planning, Actuating and Controling). Pengelolaan pembelajaran bukan hanya harus difahami oleh guru. Kepala Sekolah, Pengawas pun perlu mengetahui agar dapat bersinergi demi tercapainya tujuan pendidikan anak usia dini yang terfokus pada tahap perkembangan yang harus dilalui dengan secara optimal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s