KETRAMPILAN DASAR MENGAJAR KELOMPOK KECIL DAN PERORANGAN

Keterampilan Mengajar Kelompok Kecil dan Perorangan

2.1              Pengertian

Keterampilan adalah pola kegiatan yang bertujuan, yang memerlukan manipulasi dan koordinasi informasi yang dipelajari. Mengajar adalah membimbing suatu kegiatan ssiswa dalam proses belajar, yang merupakan pengaturan dan mengorganisasi lingkungan yang ada disekitar siswa sehingga dapat mendorong dan menumbuhkan siswa melakukan kegiatan belajar dengan baik. Pengertian mengajar kelompok kecil dan perorangan merupakan keterampilan dasar mengajar yang paling kompleks. Keterampilan dasar mengajar kelompok kecil dan perorangan merupakan salah satu cara yang dapat di lakukan untuk dapat memfasilitasi system pembelajaran yang di butuhkan oleh siswa baik secara klasikal maupun individu. Oleh karena itu keterampilan mengajar ini harus  di latih dan di kembangkan, sehingga para calon guru atau guru dapat memiliki banyak pilihan untuk dapat melayani siswa dalam melakukan proses pembelajaran.

Setiap siswa selain sebagai makhluk sosial juga sebagai makhluk individu yang unik. Sebagai individu setiap siswa memiliki karakteristik yang berbeda baik dari segi fisik maupun psikhisnya. Dari segi pisik misalnya ada yang bertubuh tinggi, sedangdan pendek. Demikian juga potensi, minat dan bakat antara siswa yang satu dengan lainnya memiliki perdedaan.

Perbedaan setiap siswa juga terjadi dalam pembelajaran, misalnya ada yang memiliki kecerdasan tinggi, sedang dan rendah. Bagi siswa yang memiliki kecerdsan yang tinggi ia akan cepat memahami materi ang dipelajarinya, sementara bagi yang sedang tergolong biasa saja, dan yang rendah tentu lambat dalam memahami materi pembelajarannya.

Tugas guru dalam membimbing pembelajaran idealnya harus disesuaikan dengan karakteristik siswa, sehingga setiap siswa dari berbagai perbedaan yang dimilikinya secara adil dapat dilayani secara optimal oleh guru. Guru tidak hanya senang melayani anak yang memiliki kecerdasan tinggi, tapi secara demokratis bagaimana mampu melayani siswa yang tergolonh sedang maupun rendah.

Melihat kenyataan bahwa siswa itu sangat heterogen, maka salah satu keterampilan yang harus dimiliki olah guru adkah keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan. Belajar pada dasarnya adalah bersifat individual, walau pun dilakukan secara klasikal sekalipun. Hal ini mengingat antara siswa yang satu dengan yang lainnya, selain memiliki tingkat kecerdasan yang berbeda juga memiliki cara tersendiri dalam proses pembelajarannya.

Misalnya Ani dalam belajarnya lebih kuat mengandalkan segi pendengaran dibandingkan penglihatannya. Sementara Helmi, cenderung lebih kuat melalui penglihatan, dan Haikal lebih cepat memahami materi pembelajaran jika dilakukan melaui perbuatan atau aktivitas yang bersifat tindaka atau keterampilan. Jika diklasifikasikan perbedaan cara atau gaya belajar dari ketiga siswa tadi, Ani tergolong siswa bertipe Auditif, Helmi bertipe Visual, dan Haikal bertipe Kinestetik.

Oleh karena itu jika ditemukan adanya siswa yang lambat menguasai meteri pembelajaran yang diberikan, tidak cepat menyimpulkan siswa sebagai anak yang bodoh. Tapi mungkin cara mengajar yang dilakukan oleh guru tidak sesuai dengan cara atau gaya belajar yang diinginkan oleh siswa tersebut.

Memang bukan cara yang mudah untuk dapat mengajar yang menyesuaikan dengan setiap karakteristik siswa yang berbeda-beda itu, karena guru sebagai manusia tidak lepas dari kelebihan dan kekurangan. Paling tidak dengan profesionalisme, guru harus berusaha dalam mengajar siswa tersebut dengan memperhatikan perbedaan siswa secara individu. Disinalah keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan solusinya.

Sesuai dengan makna yang tersirat dari kata “ kelompok kecil dan perorangan”, maka secara fisik guru ketika mengajar hanya menghadapi siswa dalam jumlah yang terbatas, berbeda dengan rata-rata jumlah siswa yang dihadapi dalam kelas pada umumnya yang berkisar antara 35 s.d 40 orang siswa. Dalam pembelajaran kelompok kecil dan perorangan, guru hanya melayani siswa antara 3 s.d 8 orang, untuk kelompok kecil, dan seorang untuk perorangan.

2.2              Unsur-unsur Pembelajaran Kelompok Kecil dan Perorangan

Berikut ini ditemukan beberapa aktivitas atau komponen-konponen yang dapat dilakukan oleh guru untuk memberi layanan pembelajaran secara optimal melalui pendekatan kelompok kecil dan perorangan:

2.2.1             Peran guru

  1. Sebagai motivator, yaitu guru memposisikan diri sebagai penggerak, yang menumbuhkan semangat dan kekuatan belajar siswa. Dengan cara itu siswa dirangsang dan didorong untuk melakukan aktivitas belajar sesuai dengan kemampuan maupun gayanya masing-masing.
  2. Sebagai fasilitstor, yaitu guru menciptakan lingkungan pembelajaran untuk kelancaran dan bagi terjadinya kemudahan belajar bagi siswa.
  3. Organisator pembelajaran, yaitu yang mengelola kegiatan pembelajaran sehingga dapat berjalan secara efektif dan efisien.
  4. Multi metode dan media, yaitu guru dalam mengajar tidak hanya terpaku pada satu jenis metode atau media tertentu saja, akan tetapi umtuk memfasilitasi terjadinya belajar bagi setiap siswa yang memiliki perbedaan itu guru melayaninya melalui penggunaan metode dan media secara bervariasi.
  5. Pola interaksi pembelajaran, yaitu kominikasi pembelajaran hendaknya dikembangkan dengan jalinan komunikasi interaktif, siswa tidak hanya sebagai pendengar atau penerima informasi pembelajaran yang disampaikan oleh guru, akan tetapi dilakukan melalui proses komunikasi dari siswa ke guru, siswa dengan siswa lainnya dan lingkungan pembelajaran yang lebih luas lagi.
  6. Pemanfaatan sumber pembelajaran secara luas dan bervariasi, yaitu bagaimana dalam proses pembelajaran tersebut, siswa tidak hanya terpaku pada guru atau satu buku saja sebagai sumbernya. Pada era ilmu pengetahuan dan teknologi semakin berkembang cepat, terutama teknologi informasi dan komunikasi, maka bagaimana guru merangsang siswa untuk memanfaatkan sumber-sumber tersebut sebagai sumber pembelajaran agar setiap siswa dengan caranya sendiri mengoptimalkan potensi, bakat, keinginan demi tercapainya proses dan hasil pembelajaran yang lebih berkualitas.
  7. Mendiagnosis kesulitan belajar siswa, yaitu yang mencermati atau meneliti permasalahan-permasalahan yang dihadapi siswa. Mealui pendekatan kelompok kecil dan perorangan biasanya siswa akan mudah dan bebas menyampaikan permasalahannya sehingga guru akan dapat menyimpulkan kesulitan yang dihadpi dan alternatif solusi pemecahannya.

2.2.2             Karakteristik Mengajar Kelompok Kecil dan Perorangan

Secara spesifik karakteristik model pembelajaran yang dilakukan pada kelompok kecil dan perorangan antara lain ditandai oleh adanya:

  1. Hubungan yang akrab antara personal (guru dengan siswa, siswa ke guru dan siswa dengan siswa lainnya).
  2. Siswa melakukan kegiatan pembelajaran sesuai dengan cara, minat, dan kecepatan masing-masing.
  3. Guru melakukan bimbingan terhadap siswa sesuai dengan potensi yang dimilikinya.
  4. Siswa sejak awal pembelajaran dilibatkan dalam menentukan tujuan, materi yang akan dipelajari maupun proses pembelajaran yang harus dilakukannya.

2.2.3             Keterampilan yang dituntut

Kebiasaan guru mengajar dengan lebih banyak menggunakan pendekatan klasikal, tentu saja dalam hal tertentu harus melakukan adaptasi atau penyesuaian keterampilan sesuai dengan karakteristik pendekatan kelompok kecil dan perorangan.

Adapun beberapa keterampilan yang harus dimiliki oleh guru dalam melakukan kegiatan pembelajaran kelompok kecil dan perorangan yaitu :

  1. Mengidentifikasi topik pembelajaran: harus diingat setiap topik materi memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Dalam hal ini ada topik materi yang efektif dengan model pembelajaran secara klasikal dan ada pula yang lebih efektif dengan pendekatan kelompok kecil dan perorangan.
  2. Pengorganisasian, yaitu dituntut keterampilan mengorganisasikan setiap unsur/komponen pembelajaran siswa, sumber materi, waktu, media yang dibutuhkan, pendekatan dan metode yang akan digunakan serta sistem evaluasi.
  3. Memberikan kulminasi, yaitu setiap kegiatan pembelajaran kelompok kecil dan perorangan, harus diakhiri dengan kegiatan kulminasi misalnya dalam bentuk membuat rangkuman, pemantapan, laporan, dsb.
  4. Mengenal secara personal, yaitu guru untuk dapat mengajar melalui pendekatan perorangan debgan efektif, harus mengenal pribadi, karakteristik siswa secara umum dan lebih baik secara lebih mendalam.
  5. Mengembangkan bahan belajar mandiri, yaitu untuk melayani kebutuhan belajar secara perorangan guru harus terampil mengembangkan bahan pembelajaran untuk individual. Seperti dengan bahan belajar mandiri, paket-paket pembelajaran, dsb yang memungkinkan siswa dapat belajar sesuai dengan caranya masing-masing.

2.3  Komponen Keterampilan Mengajar Kelompok Kecil Dan Perorangan

Komponen Keterampilan Mengajar Kelompok Kecil Dan Perorangan Terdiri dari:

  1. a)Keterampilan mengadakan pendekatan pribadi,

Menerapkan pendekatan perorangan dan kelompok kecil di dalam pembelajaran, butuh pemahaman dan kepekaam guru terhadap siswa secara pribadi, mengenal karakter dan kebutuhan anak dalam belajar. Guru juga harus memiliki keterampilan khusus melakukan pendekatan psikologis akan menciptakan suasana keakraban antara siswa dan guru. Suasana tersebut diciptakan antara lain dengan cara:

  1. Menunjukkan kehangatan dan kepekaan terhadap kebutuhan dan perilaku siswa, baik secara perorangan maupun dalam kelompok kecil.
  2. Mendengarkan dengan penuh rasa simpati gagasan yang dikemukakan siswa,
  3. Merespon secara positif pendapat siswa,
  4. Membangun hubungan berdasarkan rasa saling mempercayai,
  5. Menunjukkan kesiapan untuk membantu,
  6. Menunjukkan kesediaan untuk menerima perasaan siswa dengan penuh pengertian, serta
  7. Berusaha mengendalikan situasi agar siswa merasa aman, terbantu, dan mampu menemukan pemecahan masalah yang dihadapinya.
  8. b)Keterampilan mengorganisasikan kegiatan pembelajaran,

Pendekatan pembelajaran kelompok kecil membutuhkan keterampilan guru sebagai organisator yang menata dan mengatur pembagian anggota kelompoktugas didalam kelompok, aktivitas kelompok, aturan-aturan, hubungan antar anggota, menyediakan alat, mengatur tempat, menyediakan waktu yang cukup, dan lain-lain. Dalam hal ini guru juga bertugas memonitor aktivitas setiap anak dan setiap kelompok kecil selama kegiatan berlangsung.

Agar dapat melaksanakan tugas sebagai organisator dan monitoring pembelajaran tersebut, dibutuhkan keterampilan dengan cara:

  1. Memberikan orientasi umum tentang tujuan, tugas, dan cara mengerjakannya,
  2. Memvariasikan kegiatan untuk mencegah timbulnya kebosanan siswa dalam belajar,
  3. Membentuk kelompok yang tepat,
  4. Mengkoordinasikan kegiatan,
  5. Membagi perhatian pada berbagai tugas dan kebutuhan siswa, serta
  6. Mengakhiri kegiatan dengan kulminasi.

Hal ini sekaligus merupakan pembelajaran terhadap sesama. Berbagai kegiatan diatas sangat penting bagi guru agar dapat menerapkan pembelajaran dengan pendekatan kelompok kecil secara efektif, serta menciptakan lingkungan dan sumber belajar yang efektif bagi siswa.

  1. c)Keterampilan membimbing dan memberi kemudahan belajar

Tujuan utama pelaksanaan pembelajaran dengan pendekatan perorangan dan kelompok kecil adalah menciptakan sebuah pembelajran efektif, yang mampu mengatasi kesulitan yang dihadapi siswa baik secara perorangan maupun secara kelompok dalam proses pembelajaran. Target tersebut akan tercapai apabila guru memiliki keterampilan berikut :

  1. Memberi penguatan secara tepat,
  2. Melaksanakan supervisi proses awal,
  3. Melaksanakan supervisi proses lanjut, serta
  4. Melaksanakan supervisi pemaduan.
  5. d)Keterampilan merancang dan melaksanakan kegiatan pembelajaranyang ditampilkan dengan cara:
  6. Membantu siswa menetapkan tujuan belajar,
  7. Merancang kegiatan belajar,
  8. Bertindak sebagai penasihat siswa, serta
  9. Membantu siswa menilai kemajuan belajarnya sendiri

2.4 Hal-hal yang Perlu Diperhatikan Dalam Mengajar Kelompok Kecil dan Perorangan

Dalam mengajar kelompok kecil dan perorangan harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

  1. Pembelajaran dilakukan berdasarkan perbedaan individual

Murid SD secara undividual berbeda dalam banyak hal. Perbedaan tersebut antara lain: berbeda dalam kemampuan berpikir, kharakteristik, berbeda secara emosional, berbeda daya tangkapnya, bakat, maupun minatnya. Perbedaan tersebut perlu mendapat perhatian serius dalam pembelajaran kelas rangkap. Layanan bimbingan secara individual sangat membantu murid untuk dapat berkembang dan mencapai prestasi belajar secara optimal. Misalnya ada murid yang cepat dan mudah mengerti apa

yang disajikan guru, ada pula yang sedang-sedang, dan ada pula yang agak lambat dalam menangkap materi pelajaran. Guru yang baik akan memberikan layanan secara khusus kepada murid yang agak lambat menangkap materi pelajaran. Demikian dalam menghadapi perbedaan individual dapat dilakukan melalui pembelajaran kelompok kecil. Misalnya siswa yang berkembampuan kurang dijadikan satu kelompok, atau siswa yang tampak agresip jadi satu kelompok, kemudian diberikan layanan bimbinga belajar secara khusus. Cara ini juga membantu meningkatkan keterampilan sosial siswa melalui belajar kelompok.

  1. Memperhatikan dan melayani kebutuhan murid

Dalam pembelajaran kelas rangkap perlu memperhatikan dan melayani kebutuhan murid. Murid berasal dari latar belakang keluarga yang tidak sama, serta lingkungan kehidupan yang tidak sama pula sehingga memiliki pengalaman hidup berbeda satu sama lain. Perbedaan ini menyebabkan perbedaan kebutuhan siswa. Guru dalam memberikan perhatian dan melayani murid tidak di sama ratakan. Jika disama ratakan akan terjadi kesenjangan pemenuhan kebutuhan murid. Seyogyanya guru memberik layanan atau bimbingan belajar kepada murid sesuai dengan perbedaan keperluan yang dimilikinya. Contoh, jika dijumpai murid yang berkemampuan rendah maka perlu bimbingan secara perorangan dan tugas disesuaikan dengan kemampuan. Jika ada murid yang tidak memiliki buku cetak karena tidak mampu beli sedang yang lain memiliki, maka dapat dipinjami buku milik sekolah, atau teman lain diminta untuk bersedia bersama-sama.

  1. Mengupayakan proses belajar mengajar yang aktif dan efektif

Pembelajaran kelas rangkap dilakukan dengan tujuan agar pada diri murid terjadi proses belajar secara aktif dan efektif. Hal ini yang diutamaka dalam pembelajaran, bukan bagaimana guru mengajar, tetapi yang lebi penting adalah bagaimana guru mengajar agar murid melakukan tinda belajar secara aktif dan efektif. Kalau hanya sekedar mengajar tanpa memperhatikan bagaimana terjadi pembelajaran pada diri murid, dapat dilakukan oleh semua orang tanpa mempersyaratkan pendidikan formal khususnya pendidikan calon guru sekolah dasar. Untuk mengaktifkan dan mengektifkan murid belajar dalam proses belajar mengajar, guru juga harus berusaha secara aktif memberikan bimbingan belajar. Tidak seperti yang dikonotasikan murid aktif guru pasif atau yang penting murid aktif sendiri sedang aktivitas guru tidak dipersoalkan. Contoh, saat guru memberi tugas, atau diskusi kelompok, guru harus selalu berada ditengah kelompok untuk memberikan bimbingan atau bantuan kepada murid dan memperhatiikan kelompok atau murid yang mengalami kesulitan mengerjakan tugas.

  1. Merangsang tumbuh-kembangnya kemampuan optimal murid

Sangat penting bagi seorang guru memperhatikan tumbuh kembangnya kemampuan murid secara optimal. Tugas guru sebagai pendidik di sekolah pada dasar adalah membantu tumbuh-kembangnya murid secara optimal seluruh aspek perkembangan, yaitu baik aspek intelektual, aspek emosional, aspek moral, aspek bahasa, aspek sosial, maupun aspek fisik. Semua aspek tersebut tumbuh-kembangnya menjadi tanggung jawab buru di sekolah. Meskipun sering tampak guru lebih menekankan pada perkembangan aspek intelektual, namun secara tidak langsung, disadari atau tidak disadari guru telah membantu tumbuh kembang murid secara terpadu selama murid berada di sekolah. Misalnya aspek moral, emosional, sosial, dapat dilakukan melalui contoh teladan, cara atau pola asuh guru terhadap murid, tutur kata. Sedang aspek bahasa peran guru jelas sekali dalam proses belajar mengajar, yaitu penggunaan bahasa sesuai tingkat perkembangan murid maupun penggunaan bahasa yang baik dan benar. Tumbuh-kembang aspek fisik terutama dilakukan oleh guru pendidikan jasmani maupun oleh guru kelas melalui kegiatan-kegiatan lain seperti senam pagi, berbaris, kegiatan hari-hari besar dan sebagainya. Contoh, di sekolah sebelum jam pelajaran di mulai dilakukan senam pagi setiap hari, kecuali hari senin/upacara. Sekolah mengadakan kegiatan ekstrakurikuler dalam bentuk kegiatan Olah raga. Kemudian setiap siswa diharuskan mengikuti salah satu jenis oleh raga, yang diberikan pada sore

hari (kegiatan ekstrakurikuler).

  1. Pergeseran dari pengajaran klasikal ke pengajaran kelompok kecil dan perorangan.

Bagi guru yang sudah biasa dengan pengajaran klasikal, sebaiknya dimulai dengan pengajaran kelompok, kemudian secara bertahap menga-ah kepada pengajaran perorangan. Sedangkan bagi calon guru sebaiknya dimulai dengan pengajaran perorangan, kemudian secara bertahap kepad pengajaran kelompok kecil. Tidak semua topik atau pokok bahasan dapat dipelajari secara efektif dalam kelompok kecil maupun perorangan. Hal-hal yang bersifat umum seperti pengarahan informasi umum sebaiknya diberikan dalam bentuk kelas besar. Contoh, jika murid diminta untuk membuktikan bahwa titik didih air 100 oC melalui eksperimen maka sebaiknya dilakukan pembelajaran kelompok kecil atau perorangan, tetapi jika murid diminta untuk memahami sebuah konsep, prinsip, atau teori tentang tata surya maka akan efektif jika pembelajaran dilakukan secara klasikal.

  1. Langkah pengajaran kelompok kecil dan perorangan

Dalam pengajaran kelompok kecil, langkah pertama adalah mengorganisasi siswa, sumber, materi, ruangan, serta waktu yang diperlukan, dan diakhiri dengan kegiatan kulminasi yang dapat berupa rangkuman, pemantapan, atau laporan. Dalam pengajaran perorangan guru harus mengenal murid secara pribadi sehingga kondisi belajar dapat diatur. Kegiatan dalam pengajaran perorangan dapat dilakukan melalui paket belajar atau bahan yang telah disiapkan oleh guru. Contoh, murid yang mengalami kesulitan soal matematika, perlu diberika bimbingan belajar secara perorangan. Sedang siswa yang tidak mengalami kesulitan diminta mengerjakan sendiri atau diperbolehkan bertanya pada teman.

  1. Menggunakan berbagai variasi dalam pengorganisasiannya

Variasi pengorganisasian mencacup variasi pengelompokan, variasi penataan ruang, dan variasi sumber belajar. Ketiga variasi pengorganisa-sian tersebut perlu dilakukan dan pembelajaran kelas rangkap. Mengingat guru tidak dapat perperan dan mengontrol secara terus menerus terhadap semua kelompok belajar. Kebosanan dan kejenuhan akan muncul jika tanpa variasi pengorganisasian. Hal tersebut dapat menimbulkan kendurnya atau menurunnya kegairahan dan semangat belajar, sehinga kelompok belajar tidak aktif dan efektuf dalam pembelajaran kelas rangkap. Untuk mencegah kebosanan dapat dilakukan pengorganisasian kelas secara bervariasi. Contoh, siswa tidak selalu dalam kelompok yang sama, tetapi sekali-kal diminta untuk memilih teman yang disukai untuk berada dala kelompoknya. Dapat pula murid ditawarkan untuk memilih beberapa sumber belajar yang berbeda saat pembelajaran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s