TAHAPAN OPERASIONAL FORMAL PADA ANAK

TAHAPAN OPERASIONAL FORMAL ini antara umur 11/12 – 18 tahun.
Ciri pokok perkembangan pada tahap ini adalah anak sudah mampu berpikir abstrak dan logis dengan menggunakan pola berpikir “kemungkinan”. Model berpikir ilmiah dengan tipe hipothetico-dedutive dan inductive sudah mulai dimiliki anak, dengan kemampuan menarik kesimpulan, menafsirkan dan mengembangkan hipotesa. Pada tahap ini kondisi berpikir anak sudah dapat :
1. Bekerja secara efektif dan sistematis.
2. Menganalisis secara kombinasi. Dengan demikian telah diberikan dua kemungkinan penyebabnya, C1 dan C2 menghasilkan R, anak dapat merumuskan beberapa kemungkinan.
3. Berpikir secara proporsional, yakni menentukan macam-macam proporsional tentang C1, C2 dan R misalnya.
4. Menarik generalisasi secara mendasar pada satu macam isi. Pada tahap ini mula-mula Piaget percaya bahwa sebagian remaja mencapai formal operations paling lambat pada usia 15 tahun. Tetapi berdasarkan penelitian maupun studi selanjutnya menemukan bahwa banyak siswa bahkan mahasiswa walaupun usianya telah melampaui, belum dapat melakukan formal operation.
Proses belajar yang dialami seorang anak pada tahap sensorimotor tentu akan berbeda dengan proses belajar yang dialami oleh seorang anak pada tahap preoperasional, dan akan berbeda pula dengan mereka yang sudah berada pada tahap operasional konkret, bahkan dengan mereka yang sudah berada pada tahap operasional formal. Secara umum, semakin tinggi tahap perkembangan kognitif seseorang akan semakin teratur dan semakin abstrak cara berpikirnya. Guru seharusnya memahami tahap-tahap perkembangan kognitif pada muridnya agar dalam merancang dan melaksanakan proses pembelajarannya sesuai dengan tahap-tahap tersebut. Pembelajaran yang dirancang dan dilaksanakan tidak sesuai dengan kemampuan dan karakteristik siswa tidak akan ada maknanya bagi siswa.

Tahap Operasional Formal
Adapun ciri-ciri perkembangan intelektual tahap operasional formal adalah sebagai berikut:
• Peserta didik umumnya berada pada kisaran usia 11 14 tahun.
• Peserta didik dengan tahapan perkembangan intelektual operasional formal mempunyai kemampuan dalam mengkoordinasi 2 jenis kemampuan kognitif.
• Contoh dari kemampuan mengkoordinasi 2 jenis kemampuan kognitif ini misalnya kapasitas dalam membuat rumusan hipotetik dan penggunaan prinsip-prinsip yang bersifat abstrak.

Perkembangan Intelektual Peserta Didik dan Kaitannya dengan Teori Piaget
Jean Piaget mengemukanan 3 buah dalil pokok yang berkaitan dengan tahap perkembangan intelektual peserta didik, yaitu:
• Perkembangan intelektual peserta didik umumnya terjadi dengan melewati tahap-tahap secara berurutan dan berkesinambungan.
• Tahap-tahap perkembangan intelektual peserta didik dapat didefinisikan sebagai suatu kluster dari operasi mental yang menunjukkan adanya suatu tingkah laku intelektual.
• Pergerakan melalui tahap-tahap perkembangan intelektual peserta didik dilengkapi dengan keseimbangan, yaitu sebuah proses pengembangan tentang interaksi antara pengalaman dan sruktur kognitif yang muncul dalam pemikiran peserta didik.

Beberapa Istilah Penting dalam Perkembangan Intelektual Peserta Didik
Perkembangan intelektual peserta didik merupakan hasil gabungan dari kedewasaan otak dan sistem saraf, serta adaptasi pada lingkungan kita. Piaget menggunakan beberapa istilah untuk mendeskripsikan bagaimana dinamika perkembangan intelektual atau kognitif pada diri peserta didik, misalnya:
• Skema, adalah struktur mental atau pola berpikir yang orang gunakan untuk mengatasi situasi tertentu di lingkungan.
• Adaptasi, merupakan proses menyesuaikan pemikiran dengan memasukkan informasi baru ke dalam pemikiran individu. Peserta didik akan menyesuaikan diri dengan cara asimilasi dan akomodasi.
• Asimilasi, adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan proses dalam memperoleh informasi baru dan memasukkannya ke dalam skema sekarang sebagai bentuk respon terhadap stimulus lingkungan yang baru.
• Akomodasi, merupakan istilah yang digunakan untuk proses penyesuaian pada informasi baru. Akomodasi dilakukan dengan menciptakan skema yang baru ketika skema lama tidak berhasil menyesuaikan dengan informasi tersebut. Anak-anak melihat mungkin melihat anjing untuk pertama kalinya (asimilasi), tapi kemudian belajar bahwa beberapa anjing man untuk dipelihara dan anjing lainnya tidak (akomodasi).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s