STRATEGI MEMBACA’KNOW WHAT LEARN’

3.6. Strategi KWL
Teknik ini guru membimbing siswa untuk dapat mengaktifkan pengetahuan latarnya (skematanya) dan meningkatkan kemenarikan topik dalam teks terhadap siswa. Hal ini disebabkan oleh adanya kegiatan menginterpretasi makna yang terdapat dalam teks dan penyusunan rangkuman hasil membaca yang berisi kombinasi antara isi bacaan dan skemata siswa. Kegiatan Pembelajaran dalam teknik KWL ini dibagi menjadi tiga tahapan.

Tierney (dalam Ririn, 2008:39-41) menjelaskan tiga tahapan besar tersebut. Pertama, tahap K (What I Know “apa yang saya pelajari”). Siswa diajak bercurah pendapat tentang tema, topik, judul, dan ilustrasi atau gambar-gambar yang terdapat dalam teks. Dengan aktivitas itu skemata pembaca menjadi aktif kembali, sehingga pemahaman akan lebih mudah dicapai oleh pembaca. Disamping itu guru juga mengaktifkan skemata siswa tentang bahasa yang digunakan dalam teks. Pengaktifan skemata bahasa dilakukan dengan mengangkat berbagai istilah, kata, frase, atau kalimat yang merupakan kunci dalam memahami isi yang terkandung dalam teks bacaan. Kegiatan tahap K ini akan menghasilkan sebuah jaring laba-laba. Isi jaring laba-laba ini mencakup tema, topik-topik, sub-subtopik, serta beberapa detail dari subtopik yang dipandang perlu. Curah pendapat tidak perlu sampai pada semua detail dari setiap subtopik yang ada, karena akan terlalu banyak menyita waktu. Guru perlu terlebih dahulu merancangnya secara lengkap dan luas sebelum melaksanakan kegiatan pembelajaran.
Kedua, tahap W (What I Want to learn “apa yang ingin saya pelajari”). Guru mengidentifikasi berbagai hal yang bagi siswa merupakan hal yang menarik, kurang dipahami, meragukan, atau menjadi silang pendapat. Guru menyusun sejumlahpertanyaan yang merupakan tujuan dari kegiatan siswa membaca. Akan lebih praktis apabila sejumlah pertanyaan tersebut disusun sebelum pembelajaran, karena apabila disusun dalam pembelajaran akan menyita waktu yang lebih banyak. Apa bila ada tambahan pertanyaan, guru tinggal menambahkannya.
Fase ini membimbing aktivitas membaca menjadi aktivitas yang bertujuan dan pikiran siswa akan lebih terfokus pada hal-hal yang hendak dicarinya dalam teks. Tanpa adanya tujuan yang hendak dicari, pikiran siswa akan bias, sehingga sulit merekam informasi-informasi penting yang terdapat dalam teks. Tahap ini dapat juga dikatakan sebagai tahap untuk meningkatkan keingintahuan siswa terhadap informasi-informasi yang akan disampaikan penulis melalui teks.

Ketiga, tahap L (What I Learned “apa yang telah saya pelajari”). Siswa dipersilakan membaca teks yang telah ditentukan sambil berpedoman pada sejumlah pertanyaan yang telah diterimanya. Siswa perlu dibimbing untuk dapat mengidentifikasi informasi penting yang terkait dengan sejumlah pertanyaan yang ada, misalnya dengan cara menggaris bawahi bagian-bagian yang dianggap penting. Guru juga perlu memberikan bantuan kepada siswa yang mengalami kesulitan terhadap kata atau istilah yang digunakan dalam teks.

Kegiatan dilanjutkan dengan meminta siswa menyususun ringkasan isi bacaan. Apabila pertanyaan yang telah diterima siswa memuat permasalahan dalam bacaan secara detail, jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut sudah dapat dianggap sebagai ringkasan isi bacaan, asalkanjawaban disusun dengan kalimat yang lengkap.

Terhadap siswa yang kurang mampu menyusun kalimat dengan benar, guru perlu memberikan bantuan kepadanya dengan menggunakan teknik thinking aloud. Dengan teknik ini guru memberikan contoh dengan memperlihatkan proses penyusunan ringkasan mulai dari proses berpikir, proses penemuan permasalahan yang hendak ditulis, sampai dengan proses penyusunan kalimatnya.
3.7 Strategi PQRST

Berikut akan dikenali suatu tehknik membaca PQRST. Sistem PQRST adalah suatu tehnik membaca yang diperkenalkan oleh Thomas, Ellen Lamar, Robinson dan H. Alan dalam buku mereka yang bertajuk” Inproving Reading In Every Class”.
(1) Preview
Tinjau tajuk-tajuk pada kesuluruhan buku atau bab tertentu dengan memberi perhatian kepada tajuk-tajuk besar dan kecil padanya.
Tujuan utama proses meninjau ini adalah untuk anda mendapatkan gambaran kesuluruhan tentang isi-isi penting pada buku atau bab-bab dalam buku itu.

(2) Question
Soal dari anda dengan menjadikan tajuk besar dan kecil dalam bab itu sebagai soalannya. Misalnya : Tajuk bagi Seksyen ini adalah meningkatkan mutu pembacaan. Dengan adanya soalan itu semasa anda membaca, tumpuan fikiran anda aqkan lebih fokus kepada mencari jawaban- jawaban tentang soalan yang tertumpu pada fikiran anda pada ketika anda membaca.

(3) Read
Baca satu seksyen ke satu seksyen untuk mencari jawaban soalan yang telah anda bentuk itu. Sambil membaca bahan bacaan anda, tumpukan perhatian untuk mendapatkan jawaban bagi soalan yang telah ditimbulkan tadi.

(4) Self-Recitation
Menyebut sendiri ialah suatu proses dimana anda mencoba ingat fakta-fakta utama bab atau bahan-bahan yang telah anda baca. Tujuan utamanya adalah untuk mengingat semula apa yang telah anda baca yaitu dengan menggabungkan semua proses secara serentak.

(5) Test
Uji diri anda setelah anda habis membaca keseluruhan bab. Fikirkan berapa banyakkah idea-idea daripada bab yang baru anda baca itu dapat anda ingati. Pada peringkat inilah anda harus mula menyimpan apa yang telah anda pelajari ke dalam ingatan jangka panjang anda.

Penerapan metode K-W-L dalam pembelajaran membaca kritis dapat di jabarkan sebagai berikut.

1) Langkah K-

Pada tahap ini ada empat langkah utama yang dilakukan guru dalam pembelajaran yaitu, pertama; membimbing siswa menyampaikan ide-ide tentang topik bacaan yang akan di baca, kedua; mencatat ide-ide siswa tentang topik yang akan dibaca, ketiga; mengatur diskusi tentang ide-ide yang diajukan siswa, keempat; Memberikan stimulus atau penyelesaian contoh mengategori ide.
2) Langkah W-
Pada langkah kedua ini yang dilakukan adalah membimbing siswa untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang terkait dengan topik bacaan. Selain itu, guru juga membimbing siswa untuk membuat skala prioritas tentang pertanyaan-pertanyaan yang benar-benar mereka inginkan jawabannya.

3) Langkah L-
Pada langkah L- guru hanya membimbing siswa menuliskan kembali apa yang telah dibaca dalam bahasanya masing-masing. Untuk lebih lengkapnya tentang penerapan metode K-W-L akan dikaji dalam siklus kerja di kelas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s