TAHAP PEMEROLEHAN KATA

Usia 2 – 4

Pada usia 2 – 3 tahun anak baru mengenal vocal /a/, /i/, dan /u/ yang kemudian sesuai dengan perkembanganya akan disusul oleh vocal yang lain. Memasuki usia 2 tahun konsonan yang diperoleh anak mulai lebih bervariasi, setelah memperoleh konsonan bilabial hambat /p/, /b/, nasal /m/, /n/ dan alveolar/t/, /d/ kemudian disusul oleh bunyi velar /k/. Pada usia ini mulai muncul juga bunyi frikatif /s/ walaupun baru pada akhir kata. Seperti pada kata [abis] karena ketika bunyi /s/ muncul di depan kata anak cenderung akan menghilangkan bunyi tersebut seperti pada kata “sakit” akan diucapkan [akit]. Kemudian pada usia 3 sampai 4 tahun bunyi /r/ akan keluar dan ketika anak sudah memperoleh bunyi /r/, pasti bunyi /g/ dan /j/ juga sudah diperoleh.

Urutan pemunculan bunyi ini bersifat genetik dan karena perkembangan biologi manusia itu tidak sama maka kapan munculnya suatu bunyi tidak dapat diukur dengan tahun atau bulan kalender. Yang perlu ditekankan adalah bahwa pemerolehan suatu bunyi tidak akan melangkahi pemerolehan bunyi – bunyi lainya. Pada umumnya bunyi yang terletak dibagian depan mulut lebih mudah daripada yang dibelakang mulut. Sehingga bunyi bilabial seperti /p/, /b/ akan muncul lebih dulu daripada bunyi velar seperti /k/, /g/

2. Tahap Pemerolehan Kata dan Kalimat

a. Tahap Ujaran Satu Kata (USK)

Fase ini berlangsung ketika anak berusia 12 – 18 bulan. Anak memulai berbahasa dengan mengucapkan satu kata (atau bagian kata). Kata ini, bagi anak, adalah kalimat penuh, tetapi karena dia belum dapat mengatakan lebih dari satu kata, dia hanya mengambil satu kata dari seluruh kalimat itu. Contoh: Kata mana yang dipilih oleh anak untuk menyampaikan kalimat Dodi mau bubuk? Apakah dia akan memilih di (untuk Dodi), mau (untuk mau), ataukah buk (untuk bubuk)? Ternyata anak tersebut memilih kata buk (untuk bubuk). Mengapa demikian? Karena anak lebih memilih infomasi baru berupa kata buk (bubuk) daripada informasi lama berupa kata di (Dodi) dan mau. Singkat kata, dalam ujaran bernama USK (Ujaran Satu Kata), anak tidak sembarangan memilih kata, dia akan memilih kata yang memberi informasi baru kepada mitra tuturnya.

USK juga mempunyai ciri yang lain. Awalnya, USK hanya terdiri dari CV (Consonant Vowel) saja. Bila kata itu CVC maka C yang kedua dilesapkan. Kata ball, misalnya, terwujud sebagai /bɔ/ saja. Begitu juga kata mobil akan disingkat menjadi /bi/. Seiring perkembangan anak, konsonan akhir mulai muncul. Pada umur 2 tahun, seorang anak menamakan ikan sebagai /tan/, persis seperti kata untuk bukan.

b. Ujaran Dua Kata (UDK)

Sekitar umur 2 tahun anak mulai mengeluarkan Ujaran Dua Kata, UDK (Two Word Utteramce) yaitu kata yang diselingi jeda sehingga seolah-olah dua kata itu terpisah. Misal untuk menyatakan bahwa lampunya telah menyala, bukan mengatakan /lampunala/ “Lampu nyala” tapi /lampu//nala/ dengan jeda diantara lampu dan nyala.

Dengan adanya dua kata dalam UDK maka orang dewasa dapat lebih bisa menerka apa yang dimaksud oleh anak karena cakupan makna menjadi lebih terbatas. Kalau kita mendengar anak mengatakan /lampunala/ seperti contoh di atas, kita lebih bisa menerka apa yang dimaksud anak daripada kalau kita hanya mendengar /lampu/ atau /nala/ saja. Jadi, USK dan UDK sangatlah berbeda.

Bloom (1970) di Chaer (2003:186) mengatakan bahwa tuturan satu atau dua kata tanpa merujuk pada situasi (konteks) belumlah cukup untuk menganalisis ucapan atau bahasa anak. Contoh: Seorang anak mengucapkan kalimat “Ibu Kue”. Kalimat ini tidak bisa diartikan tanpa melihat situasi karena memiliki banyak makna seperti berikut:

1. Anak itu meminta kue kepada ibunya

2. Anak itu menunjukkan kue pada ibunya

3. Anak itu menawarkan kue pada ibunya

Pendapat dari Bloom dinamakan Teori Hubungan Tata Bahasa dan Informasi Situasi. Berikut adalah beberapa contoh ujaran dua kata (Dardjowidjojo 2000):

1. /liat tupu-tupu/ “Ayo lihat kupukupu”.

2. /etsa mimik/ “Echa minta mimik”

3. /etsa nani/ “Echa mau nyanyi”

4. /eyang tsini/ “Eyang, ke sini”

Dari contoh di atas jika diamati dengan teliti maka akan tampak bahwa dalam UDK anak ternyata sudah menguasai hubungan kasus (case relations). Misalnya pada contoh pertama, kita dapati bahwa anak telah menguasai hubungan kasus antara perbuatan dengan objek. Pada contoh kedua, hubungan kasus pelaku objek, dsb.

Hal seperti ini merupakan gejala yang universal. Sekitar umur 2 tahun, anak telah menguasai hubungan kasus-kasus dan operasi-operasi berikut ini Aitchison dalam Dardjowidjojo:

Pelaku Perbuatan: Echa nyanyi

Pelaku Objek: Echa roti

Perbuatan Objek: Maem Krupuk

Pebuatan Lokasi: Pergi kamar

Pemilik-dimiliki: Sarung Eyang

Objek-lokasi: Mama kursi

Atribut-entitas: Ular gede

Nominatif: Ini ikan

Minta ulang: Mimik lagi

Tak ada lagi: lampu habis

c. Tahap Banyak – Kata

Fase ini berlangusng ketika anak berusia 3 – 5 tahun atau bahkan sampai mulai bersekolah. Pada usia 3 – 4 tahun, tuturan anak mulai lebih panjang dan tata bahasanya lebih teratur. Dia tidak lagi menggunakan hanya dua kata tetapi 3 kata atau lebih. Pada umur 5 – 6 tahun. Bahasa anak telah menyerupai bahasa orang dewasa. Sebagian besar aturan gramatika telah dikuasainya dan pola bahasa serta panjang tuturannya semakin bervariasi. Anak telah mampu menggunakan bahasa dalam berbagai cara untuk berbagai keperluan, termasuk bercanda atau menghibur.

Tahap-tahap perkembangan bahasa di atas dilalui oleh semua anak di dunia ini, yang berbeda hanyalah muatan bahasanya sesuai dengan lingkungan bahasa tempat anak itu tinggal.
Pada tahap-tahap perkembangan bahasa di atas berkembang pula penguasaan mereka atas sistem bahasa yang dipelajarinya. Sistem bahasa itu terdiri atas subsistem berikut.

a. Fonologi, yaitu pengetahuan tentang pelafalan dan penggabungan bunyi-bunyi tersebut sebagai sesuatu yang bermakna.

a. Gramatika (tata bahasa), yaitu pengetahuan tentang aturan pembentukan unsur tuturan.

b. Semantik leksikal (kosakata), yaitu pengetahuan tentan kata untuk mengacu kepada sesuatu hal.

c. Pragmatik, yaitu pengetahuan tentang penggunaan bahasa dalam berbagai cara untuk berbagai keperluan.

Sub-subsistem di atas diperoleh anak secara bersamaan dengan keterampilan berbahasanya itu sendiri. Tentu saja hal itu didapat anak tanpa di sadari.

E. Simpulan

Pemerolehan bahasa pada anak adalah proses penguasaan bahasa pertama oleh si anak. Selama penguasaan bahasa pertama ini, anak mempelajari bahasa secara tidak sadar dan biasanya dari faktor lingkungan mempengaruhi proses belajar bahasanya. Sedangkan pembelajaran bahasa pada anak adalah proses penguasaan bahasa kedua oleh si anak. Dalam pembelajaran bahasa ini, anak melakukannya secara sadar dan melalui proses belajar-mengajar yang formal.

Ada beberapa tahap yang dilalui oleh sang anak dalam pemerolehan bahasa pertama. Tahap yang dimaksud adalah tahap pra-linguistik (masa meraban), tahap pemerolehan sintaksis meliputi ujaran satu-kata, ujaran dua-kata dan ujaran banyak kata.

Bagaimana sebenarnya proses pemerolehan bahasa pertama ini? Ada beberapa teori pemerolehan bahasa yang menjelaskan sudut pandang yang berbeda dalam menjelaskan perihal cara anak memperoleh bahasa pertamanya. Teori behaviorisme menganggap pemerolehan bahasa bersifat nurture (ditentukan oleh faktor lingkungan) sedangkan teori nativisme menganggap pemerolehan bahasa bersifat nature (alami) ditunjukkan dengan adanya LAD (Piranti Pemerolehan Bahasa) pada setiap anak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s